ISLAM LIVE – Ketua Umum Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (SAJID) KH Bachtiar Nasir mengajak publik melihat dinamika Nahdlatul Ulama dalam perspektif sejarah panjang, bukan hanya dari peristiwa yang terjadi belakangan ini. Menurutnya, NU telah melewati berbagai zaman sejak jauh sebelum Indonesia merdeka.
Ajakan itu disampaikan Bachtiar dalam diskusi SAJID Friday Morning Talk bertajuk Menjaga Marwah Muktamar NU di Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (9/10/2026). “Janganlah melihat pada hari ini saja. Apalagi Nahdlatul Ulama akan mengarah kepada 100 tahun yang kedua. Tentu membutuhkan fondasi yang lebih kokoh lagi dari generasi hari ini,” kata KH Bachtiar Nasir, Ketua Umum SAJID, di Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (9/10/2026).
Menurut Bachtiar, perjalanan panjang NU menunjukkan kuatnya fondasi organisasi dalam mengawal kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu, dinamika yang muncul belakangan ini sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya tolok ukur untuk menilai perjalanan NU secara keseluruhan.
Ia mengingatkan, memasuki abad kedua, NU akan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Organisasi ini membutuhkan kepemimpinan yang mampu memperkuat fondasi kelembagaan sekaligus menjaga persatuan di tengah berbagai ujian.
Bachtiar juga menyoroti pelaksanaan Muktamar ke-35 NU yang berlangsung dalam waktu relatif singkat, yakni sekitar 50 hari persiapan. Menurutnya, kembalinya muktamar ke tempat yang memiliki hubungan dengan para pendiri NU menjadi pengingat pentingnya menjaga nilai-nilai dasar organisasi.
“Semua itu pasti akan menghadapi guncangan di setiap fasenya. Tapi apa yang kita lihat belakangan ini tentang Nahdlatul Ulama, janganlah melihat pada hari ini saja,” ujarnya.
Bachtiar berharap kepemimpinan baru PBNU dapat membawa organisasi tersebut menjadi rumah besar bagi seluruh warga NU, sekaligus ruang terbuka bagi ormas Islam lainnya dan umat secara luas. “Mudah-mudahan ke depan di kepemimpinan yang baru, dengan semua ujiannya, Nahdlatul Ulama bisa menjadi rumah besar, bukan cuma bagi warga NU, tetapi bagi ormas-ormas Islam yang lain dan bagi umat semuanya,” katanya.
Menurut Bachtiar, penguatan fondasi organisasi dan kebesaran hati dalam menyikapi perbedaan menjadi hal penting untuk menjaga marwah NU. Ia berharap kepengurusan baru mampu merumuskan agenda strategis yang meredam riak-riak masa lalu.
“Dan mudah-mudahan di kepengurusan ke depan, kami ingin menimbang sepintas apa kira-kira agenda terbesar dan strategisnya agar riak-riak masa lalu yang memang menyisakan hal-hal yang kurang enak didengar, ke depan semua itu bisa hilang,” pungkasnya.
