ISLAM LIVE – Kualitas udara di ruang tertutup yang minim ventilasi berpotensi mengalami akumulasi karbon dioksida (CO₂). Persoalan itulah yang mendorong enam santri Thursina International Islamic Boarding School (IIBS) mengembangkan ALGAEVA, sebuah fotobioreaktor mikroalga yang dirancang untuk mendukung perbaikan kualitas udara dalam ruangan.
“Saya sangat bangga atas capaian ini yang murni lahir dari passion, kerja keras, kekompakan tim, serta ambisi untuk memberikan hasil terbaik,” kata Ustaz Helmi Pakas Rivai, Pembina Lomba Thursina IIBS, dalam keterangan di laman Thursina IIBS, Sabtu (24/10/2026).
Inovasi itu mengantarkan tim yang terdiri dari Ahmad Hakan Firastian, Falsafa Kalky Pahdepie, Meshal Avicenna, Fadhil Azzam Nareswara, Adhis Alvaro Safaraz Putra Ismawan, dan Muhammad Fazle Al Abrar Vebriansyah meraih medali emas World Invention Competition and Exhibition (WICE) Malaysia 2026. Karya berjudul ALGAEVA: A Microalgae-Based Photobioreactor for Sustainable Indoor Air Quality Improvement dipresentasikan dalam WICE edisi kedelapan di Kuala Lumpur, 20–24 September 2026. Para santri kelas 10 itu memulai riset sejak duduk di kelas 9 SMP.
ALGAEVA memanfaatkan mikroalga yang melakukan fotosintesis dengan menyerap CO₂ dan menghasilkan oksigen. Sebelum menentukan bahan biologis utama, para santri membandingkan Chlorella vulgaris dan Spirulina (Arthrospira platensis). Hasil pengujian menunjukkan Chlorella memiliki performa lebih baik dalam pertumbuhan biomassa, stabilitas kultur, dan pemulihan setelah gangguan kultivasi. Kultur tersebut kemudian diamati selama 14 hari untuk mempelajari perkembangannya.
Inovasi ini menggabungkan kultur mikroalga dengan rekayasa perangkat. Prototipenya menggunakan wadah akrilik vertikal, sistem sirkulasi airlift, lampu LED untuk pertumbuhan, serta pemantauan kualitas udara melalui sensor MQ135, Arduino Nano, dan layar OLED.
Pengamatan kultur menunjukkan pH meningkat dari 5,49 pada hari kelima menjadi 6,49 pada hari ke-14. Perubahan ini menjadi salah satu indikator yang diamati selama kultivasi, meski belum cukup untuk memastikan besarnya penyerapan CO₂ oleh perangkat. Tim juga mengakui keterbatasan alat karena MQ135 merupakan sensor indikator umum kualitas udara, bukan sensor CO₂ khusus.
Pengembangan berikutnya direncanakan menggunakan sensor NDIR dan pengujian di ruang terkendali agar kemampuan biofiltrasi dapat diukur lebih akurat. Tahap ini penting agar inovasi tidak berhenti sebagai prototipe kompetisi, tetapi berpeluang dikembangkan menjadi teknologi yang bermanfaat.
Menurut Ustaz Helmi, Thursina IIBS menempatkan pengalaman ini sebagai bagian dari penerapan Holistic and Balanced Education Curriculum, yang mendorong santri menghubungkan pembelajaran dengan persoalan nyata.
“Semoga pengalaman riset ini membuat para santri semakin gemar belajar, terus mengembangkan potensinya, dan tumbuh sebagai pribadi yang semakin saleh,” pungkas Ustaz Helmi, yang juga menjabat Head of Department Professional CEO.
