ISLAM LIVE – Ada masa ketika seseorang merasa hidupnya sudah sempurna. Karier sedang menanjak, usaha berkembang, tabungan bertambah, keluarga tampak harmonis. Masa depan seolah berada dalam genggaman. Namun sejarah manusia berulang kali menunjukkan kenyataan yang berbeda. Dalam semalam, bisnis dapat runtuh. Dalam sekejap, kesehatan dapat hilang. Dalam satu peristiwa, seluruh rencana yang disusun bertahun-tahun bisa berubah menjadi puing.
Al-Qur’an menggambarkan fenomena ini dengan sebuah perumpamaan yang sangat hidup. Bukan melalui teori yang rumit, melainkan melalui gambaran yang akrab dengan pengalaman manusia: hujan yang menumbuhkan kehidupan, lalu tiba-tiba lenyap tanpa bekas.
Allah swt berfirman dalam Surah Yunus ayat 24:
إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْأَنْعَامُ حَتَّىٰ إِذَا أَخَذَتِ الْأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلًا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالْأَمْسِ ۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanaman-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan hewan. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya dan memakai perhiasannya, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman) itu laksana tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang-orang yang berpikir. (QS. Yunus: 24)
Ayat ini tidak sedang mengajarkan pesimisme. Al-Qur’an tidak memerintahkan manusia membenci dunia. Yang diperingatkan adalah keterikatan berlebihan kepada dunia, seolah ia sesuatu yang tetap dan bisa dijadikan sandaran mutlak.
Perhatikan gambaran ayat tersebut. Hujan turun dari langit. Air yang sama meresap ke tanah yang sama. Namun hasilnya berbeda-beda. Ada yang tumbuh menjadi buah yang manis, ada yang menjadi bunga yang indah, ada pula yang berubah menjadi tumbuhan beracun. Padahal sumber airnya sama.
Di situlah pelajaran pertama. Dunia bukan tujuan akhir, melainkan ladang ujian. Nikmat yang sama dapat melahirkan syukur pada satu orang, tetapi melahirkan kesombongan pada orang lain. Kekayaan bisa menjadi jalan menuju Allah, atau justru menjadi sebab kehancuran.
Karena itu para ulama menyebut dunia sebagai sesuatu yang “menipu”. Bukan karena dunia tidak ada, tetapi karena ia sering menampilkan wajah yang berbeda dari hakikatnya. Ia menawarkan rasa aman yang semu. Ketika seseorang merasa telah menguasainya, justru saat itulah ia paling rentan kehilangan segalanya.
Sejarah manusia penuh dengan contoh semacam ini. Kerajaan-kerajaan besar yang pernah menguasai dunia kini tinggal nama dalam buku sejarah. Kota-kota megah berubah menjadi reruntuhan. Tokoh-tokoh yang dahulu dielu-elukan akhirnya dilupakan generasi berikutnya. Bahkan pada level pribadi, banyak orang yang kemarin sehat, kaya, dan berpengaruh, hari ini hanya menjadi kenangan.
Yang menarik, Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang bencana besar seperti gempa atau banjir. Dalam perspektif ayat ini, “perintah Allah swt” yang datang pada malam atau siang hari bisa berbentuk apa saja. Penyakit yang tiba-tiba ditemukan dokter. Sel tubuh yang berubah menjadi kanker. Sebuah kecelakaan yang mengubah hidup dalam hitungan detik. Atau krisis ekonomi yang menghancurkan usaha yang dibangun puluhan tahun.
Manusia sering merasa ancaman selalu datang dari luar. Padahal kehancuran kadang tumbuh diam-diam dari dalam dirinya sendiri.
Di sinilah pelajaran kedua muncul: dunia bersifat sementara dan tidak stabil. Apa yang hari ini tampak kokoh, besok bisa hilang. Apa yang sekarang menjadi sumber kebanggaan, suatu saat mungkin menjadi sumber penyesalan.
Rasulullah ﷺ pernah menggambarkan dunia dengan kalimat yang singkat namun tajam:
«الدُّنْيَا تَغُرُّ وَتَضُرُّ وَتَمُرُّ»
“Dunia itu menipu, membahayakan, lalu berlalu.”
Tiga kata ini merangkum seluruh perjalanan manusia. Dunia memikat pandangan, membuat manusia terlena, lalu meninggalkannya tanpa bisa dipertahankan.
Namun ada pesan lain yang lebih dalam dari perumpamaan hujan tersebut. Air tidak hanya melambangkan kehidupan dunia, tetapi juga dapat dipahami sebagai simbol hidayah dan pengetahuan. Wahyu Allah turun kepada manusia sebagaimana hujan turun ke bumi. Akan tetapi hasilnya bergantung pada kondisi hati.
Hati yang bersih akan melahirkan ketakwaan, sebagaimana tanah subur menghasilkan tanaman yang bermanfaat. Sebaliknya, hati yang dipenuhi hawa nafsu dapat mengubah nikmat menjadi petaka. Karena itu masalah utama manusia bukan kurangnya petunjuk, melainkan kondisi batinnya dalam menerima petunjuk tersebut.
Dari sini muncul pelajaran lain yang relevan bagi kehidupan modern. Dunia hari ini dipenuhi informasi, teknologi, pendidikan, dan berbagai fasilitas yang belum pernah dimiliki generasi sebelumnya. Namun kemajuan itu tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan. Sebagaimana air yang sama dapat menumbuhkan bunga maupun racun, ilmu dan teknologi juga dapat melahirkan kemaslahatan atau kerusakan, tergantung pada hati yang mengelolanya.
Karena itu ayat ini ditutup dengan kalimat yang sangat penting: “bagi kaum yang berpikir.” Bukan bagi mereka yang sekadar melihat, tetapi bagi mereka yang merenungkan. Sebab manusia yang berpikir akan melihat dunia sebagaimana adanya: indah, tetapi sementara; bermanfaat, tetapi tidak kekal; penting, tetapi bukan tujuan akhir.
Barangkali itulah sebabnya Al-Qur’an tidak pernah meminta manusia meninggalkan dunia. Yang diminta adalah menempatkannya pada posisi yang benar. Dunia adalah kendaraan, bukan tujuan. Ia adalah sarana menuju kehidupan yang lebih abadi.
Ketika seseorang memahami hal ini, ia tidak akan sombong saat mendapatkan nikmat, dan tidak akan hancur saat kehilangan. Ia menikmati dunia tanpa diperbudak olehnya. Ia bekerja keras, tetapi tidak menggantungkan seluruh harapannya pada sesuatu yang sewaktu-waktu bisa lenyap.
Karena pada akhirnya, yang benar-benar berharga bukanlah apa yang berhasil kita kumpulkan di dunia, melainkan apa yang berhasil kita bawa keluar darinya.
