ISLAM LIVE – Ada kebahagiaan yang tak membutuhkan kata-kata. Ia tidak lahir dari tawa yang meledak atau perayaan yang meriah, melainkan tampak diam-diam pada wajah yang teduh, mata yang berbinar, dan hati yang lapang. Dalam tradisi bahasa Arab, keadaan semacam itu dirangkum oleh satu kata yang kaya makna: bahjah.
Hari ini, kebahagiaan sering diukur dengan pencapaian. Semakin banyak yang dimiliki, semakin bahagia seseorang dianggap. Namun, pengalaman hidup berkali-kali menunjukkan bahwa kepemilikan tidak selalu melahirkan ketenangan. Ada orang yang bergelimang kemewahan tetapi wajahnya menyimpan kegelisahan. Sebaliknya, ada mereka yang hidup sederhana, namun memancarkan ketenteraman yang sulit dijelaskan. Di sinilah makna bahjah menjadi menarik untuk direnungkan.
Secara bahasa, bahjah berarti keelokan warna yang disertai munculnya rasa gembira. Keindahan itu bukan sekadar enak dipandang, tetapi menghadirkan kegembiraan yang tampak nyata. Kebahagiaan dalam pengertian ini bukan sesuatu yang tersembunyi di dalam hati semata. Ia memiliki daya pancar. Ia memengaruhi raut wajah, sikap, bahkan cara seseorang memandang kehidupan.
Al-Qur’an menggunakan kata ini ketika menggambarkan keindahan alam sebagai tanda kemurahan Allah.
حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ
“Kebun-kebun yang indah dan penuh pesona” (QS. An-Naml: 60)
Ayat ini tidak sekadar mengajak manusia menikmati hijaunya pepohonan atau semaraknya bunga. Keindahan alam disebut dzāta bahjah karena mampu membangkitkan kegembiraan. Pemandangan yang indah tidak hanya memuaskan mata, tetapi juga menenangkan jiwa. Alam menjadi bahasa sunyi yang mengingatkan manusia bahwa kehidupan selalu menyimpan harapan.
Dalam ayat lain, Al-Qur’an kembali memakai akar kata yang sama ketika berbicara tentang tumbuh-tumbuhan.
وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ
“Dan Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam tanaman yang indah menawan” (QS. Qaf: 7)
Menariknya, Al-Qur’an tidak memilih kata yang hanya berarti “cantik”. Kata bahij menunjukkan keindahan yang hidup, segar, dan memancarkan kegembiraan. Sebatang pohon yang menghijau setelah musim kering bukan sekadar objek visual. Ia membawa harapan. Ia mengabarkan bahwa kehidupan terus bergerak dan rahmat Tuhan selalu menemukan jalannya.
Di titik ini, bahjah mengajarkan bahwa keindahan sejati selalu memiliki dampak batin. Sesuatu disebut indah bukan hanya karena bentuknya sempurna, tetapi karena kehadirannya menghadirkan ketenangan dan rasa syukur.
Makna ini kemudian meluas kepada manusia. Dalam bahasa Arab dikenal ungkapan ibtahaja bi syai’in, yaitu seseorang yang merasa sangat gembira hingga kegembiraannya tampak jelas di wajahnya. Ia tidak perlu mengumumkan kebahagiaannya. Senyumnya berbicara. Tatapan matanya menjadi lebih hangat. Wajahnya memantulkan apa yang sedang terjadi di dalam hati.
Hal itu memberi pelajaran bahwa kebahagiaan bukanlah topeng yang dipasang untuk menyenangkan orang lain. Kebahagiaan adalah kondisi batin yang secara alami menemukan jalannya keluar. Karena itu, tidak semua senyum adalah bahjah. Ada senyum yang dibuat-buat, sebagaimana ada pula wajah yang tenang meski tanpa banyak ekspresi. Yang dinilai bukan sekadar gerak bibir, melainkan cahaya yang memancar dari dalam diri.
Dalam konteks kehidupan modern, gagasan ini terasa semakin relevan. Kita hidup di tengah budaya yang gemar mempertontonkan kebahagiaan. Media sosial dipenuhi foto liburan, pencapaian, hadiah, dan perayaan. Namun, semakin banyak kebahagiaan dipamerkan, semakin sering pula orang merasa kosong. Kebahagiaan berubah menjadi proyek pencitraan, bukan pengalaman batin.
Bahjah justru bergerak ke arah sebaliknya. Ia tidak mengejar pengakuan. Ia hadir sebagai buah dari hati yang damai. Orang lain mungkin melihatnya, tetapi bukan itulah tujuannya. Keindahan yang lahir dari bahjah tidak memaksa perhatian. Ia memikat karena kejujurannya.
Dalam konteks yang lebih luas, alam yang disebut Al-Qur’an sebagai penuh bahjah juga mengajarkan cara memandang kehidupan. Sebuah taman tidak indah karena setiap bunganya sama. Justru keragaman warna, bentuk, dan musimlah yang melahirkan pesona. Demikian pula hidup manusia. Tidak semua hari dipenuhi keberhasilan, tetapi setiap fase memiliki kemungkinan untuk menghadirkan makna.
Barangkali karena itulah Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia memperhatikan bumi, pepohonan, hujan, dan tumbuhan. Semua itu bukan hanya bukti kekuasaan Tuhan, melainkan juga pelajaran tentang bagaimana kebahagiaan bertumbuh. Ia tidak muncul secara instan. Ia lahir melalui proses, kesabaran, dan kesediaan menerima perubahan, sebagaimana benih yang perlahan menembus tanah hingga akhirnya menjadi tanaman yang bahij; indah sekaligus menghidupkan.
Pada akhirnya, bahjah bukan sekadar kata tentang keindahan. Ia adalah cara memandang hidup. Keindahan yang sejati selalu menyentuh hati, sementara kebahagiaan yang sejati selalu meninggalkan jejak pada wajah dan perilaku. Ketika hati dipenuhi rasa syukur, keindahan tidak lagi bergantung pada apa yang dimiliki, melainkan pada kemampuan melihat rahmat yang telah ada di sekitar kita.
Mungkin itulah sebabnya kebun-kebun yang disebut Al-Qur’an bukan hanya indah dipandang, tetapi juga penuh bahjah. Sebab keindahan yang paling bernilai bukanlah yang memanjakan mata, melainkan yang membuat hati pulang kepada ketenangan.
