Mata yang Melihat, Telinga yang Mendengar: Mengapa Al-Qur’an Menyebut Orang Beriman dan Kafir Tidak Sama?

4 views

ISLAM LIVE – Ada banyak orang yang matanya sehat, tetapi gagal melihat kebenaran. Ada pula yang telinganya berfungsi sempurna, tetapi tidak pernah benar-benar mendengar nasihat. Di era banjir informasi seperti sekarang, paradoks itu semakin terasa. Kita hidup di tengah lautan data, tetapi sering tenggelam dalam kebingungan. Kita membaca banyak hal, tetapi belum tentu memahami makna. Kita mendengar berbagai suara, tetapi belum tentu menangkap kebenaran.

Al-Qur’an menggambarkan fenomena ini dengan sebuah perumpamaan yang sangat sederhana sekaligus mengguncang. Dalam Surah Hud ayat 24, Allah swt berfirman:

مَثَلُ الْفَرِيقَيْنِ كَالْأَعْمَىٰ وَالْأَصَمِّ وَالْبَصِيرِ وَالسَّمِيعِ ۚ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Perbandingan kedua golongan itu seperti orang yang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?” (QS. Hud: 24)

Ayat ini bukan sedang membicarakan kondisi fisik manusia. Yang dibahas adalah keadaan batin. Al-Qur’an sedang membandingkan dua cara hidup: hidup dengan cahaya iman dan hidup dalam kegelapan penolakan terhadap kebenaran.

Orang beriman diumpamakan sebagai mereka yang melihat dan mendengar. Sebaliknya, orang kafir digambarkan seperti orang yang buta dan tuli. Bukan karena kehilangan fungsi indera, melainkan karena kehilangan kemampuan menangkap petunjuk.

Ketika Mata Tidak Lagi Menuntun kepada Kebenaran

Menariknya, Al-Qur’an memilih dua indera utama: mata dan telinga.

Mata adalah salah satu keajaiban terbesar dalam tubuh manusia. Dengan bahan-bahan biologis yang sederhana, ia mampu membentuk sistem penglihatan yang luar biasa rumit. Dalam sepersekian detik, mata menangkap cahaya, menyesuaikan fokus, mengenali warna, membaca gerakan, lalu mengirimkan informasi ke otak.

Tidak ada kamera modern yang benar-benar mampu meniru seluruh kemampuan mata manusia.

Demikian pula telinga. Organ kecil ini mampu menangkap getaran udara, menerjemahkannya menjadi suara, bahkan menentukan arah datangnya bunyi. Melalui telinga, manusia belajar bahasa, menerima ilmu, dan memahami pesan.

Baca Juga:  Setelah Mati, Apa yang Tersisa? Al-Qur’an, Sains, dan Misteri Kebangkitan Manusia

Karena itu, dalam banyak ayat Al-Qur’an, pendengaran dan penglihatan disebut sebagai gerbang utama pengetahuan. Allah swt berfirman:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)

Sejak lahir, manusia membangun seluruh pengetahuannya melalui apa yang ia lihat dan dengar. Karena itu, ketika Al-Qur’an menyebut seseorang sebagai “buta” atau “tuli”, yang dimaksud adalah hilangnya kemampuan menggunakan sarana pengetahuan itu untuk menemukan kebenaran.

Kebutaan yang Lebih Berbahaya daripada Kebutaan Fisik

Banyak orang mengira kekafiran semata-mata soal tidak percaya. Padahal Al-Qur’an menunjukkan akar masalah yang lebih dalam.

Seseorang bisa mengetahui banyak fakta, memiliki gelar akademik tinggi, menguasai teknologi, bahkan memahami agama secara teoritis. Namun semua itu tidak otomatis membuatnya melihat kebenaran.

Mengapa?

Karena ada hijab yang menutupi hati.

Dalam tradisi Islam, hijab itu berupa kesombongan, fanatisme, hawa nafsu, kepentingan pribadi, dan kecintaan berlebihan kepada dunia. Semua itu membuat seseorang melihat kenyataan secara terdistorsi.

Imam Ali bin Abi Thalib as pernah menggambarkan bahwa manusia sering kali tidak melihat sesuatu sebagaimana adanya, melainkan sebagaimana keinginan dirinya sendiri.

Inilah yang menyebabkan seseorang dapat menyaksikan bukti yang sama, tetapi sampai pada kesimpulan yang berbeda. Yang satu melihat tanda-tanda kebesaran Allah. Yang lain hanya melihat fenomena biasa.

Yang satu menemukan makna. Yang lain hanya menemukan materi.

Mengapa Orang Beriman Disebut Melihat dan Mendengar?

Keimanan dalam Al-Qur’an bukan sekadar keyakinan di kepala. Ia adalah kondisi batin yang membuat seseorang mampu menangkap pesan di balik peristiwa.

Orang beriman melihat hujan sebagai rahmat sekaligus tanda kebesaran Allah swt. Ia melihat kematian sebagai pengingat keterbatasan manusia. Ia melihat keberhasilan sebagai amanah, bukan semata hasil kecerdasan pribadi.

Baca Juga:  Kenapa Ada Sebagian Muslim Sulit Menghafal Al-Qur’an?

Karena itu Al-Qur’an selalu menghubungkan iman dengan amal saleh. Penglihatan spiritual yang benar akan melahirkan tindakan yang benar.

Iman bukan informasi. Iman adalah transformasi.

Seseorang mungkin hafal banyak ayat, tetapi jika perilakunya masih dipenuhi kesombongan dan kebencian, maka cahaya penglihatan itu belum benar-benar hadir.

Penyakit Zaman Digital: Banyak Melihat, Sedikit Memahami

Perumpamaan dalam Surah Hud terasa sangat relevan hari ini.

Media sosial membuat manusia melihat ribuan gambar setiap hari. Video, berita, komentar, dan opini mengalir tanpa henti. Namun apakah semua itu membuat manusia semakin bijak?

Belum tentu.

Justru banyak orang kehilangan kemampuan membedakan mana yang benar dan mana yang sekadar sensasi. Mereka membaca tanpa merenung, mendengar tanpa memahami, lalu bereaksi tanpa berpikir.

Fenomena ini mirip dengan apa yang digambarkan Al-Qur’an: mata ada, telinga ada, tetapi fungsi terdalamnya tidak bekerja.

Informasi melimpah, tetapi hikmah semakin langka.

Membuka Mata Batin

Lalu bagaimana menghilangkan kebutaan itu?

Ayat ini menegaskan bahwa penghalang terbesar manusia adalah ego. Kesombongan membuat seseorang menolak kebenaran meski telah melihatnya. Fanatisme membuat seseorang menutup telinga terhadap nasihat. Kepentingan duniawi membuat seseorang memutarbalikkan fakta demi keuntungan pribadi.

Karena itu, jalan menuju penglihatan batin bukan hanya belajar lebih banyak, tetapi juga membersihkan hati.

Semakin seseorang jujur terhadap dirinya sendiri, semakin mudah ia melihat kebenaran.

Semakin ia rendah hati, semakin mudah ia mendengar nasihat.

Dan semakin dekat ia kepada Allah swt, semakin terang cahaya yang menerangi pandangannya.

Pada akhirnya, pertanyaan Al-Qur’an tetap menggema hingga hari ini: “Apakah sama orang yang melihat dan mendengar dengan orang yang buta dan tuli?”

Pertanyaan itu bukan ditujukan kepada orang lain. Ia ditujukan kepada kita masing-masing.

Sebab yang menentukan bukan seberapa tajam mata kita memandang dunia, melainkan seberapa jernih hati kita membaca maknanya.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA