ISLAM LIVE– Di zaman yang begitu terobsesi pada penampilan fisik, tubuh sering dipandang sekadar sebagai objek: sesuatu yang harus dirawat, dibentuk, dipamerkan, atau bahkan dipertukarkan demi pengakuan sosial. Namun, dalam khazanah bahasa Arab klasik dan Al-Qur’an, tubuh memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia bukan hanya kumpulan daging dan tulang, melainkan penanda perjalanan hidup, saksi sejarah, bahkan simbol pelajaran bagi generasi sesudahnya.
Salah satu kata yang menarik untuk ditelusuri adalah badan البدن. Dalam bahasa Arab, kata ini memang berarti tubuh atau jasad. Namun para ahli bahasa menjelaskan bahwa penggunaan kata badan memiliki nuansa yang berbeda dengan kata jasad الجسد. Jika jasad lebih sering digunakan dengan mempertimbangkan bentuk atau penampakan fisik, maka badan menunjuk pada tubuh dalam ukurannya yang besar, kokoh, atau menonjol. Dengan kata lain, kata ini tidak hanya menggambarkan keberadaan tubuh, tetapi juga dimensi kebesarannya.
Dari akar kata yang sama lahir istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang bertubuh besar atau gemuk. Dalam bahasa Arab klasik dikenal ungkapan tentang perempuan yang badinah atau badin, yakni perempuan yang memiliki tubuh besar. Bahkan hewan kurban berukuran besar yang dipersembahkan pada musim haji disebut badanah atau budn, karena ukurannya yang gemuk dan menonjol dibanding hewan biasa.
Menariknya, perkembangan makna kata ini juga membawa kita pada pemahaman yang lebih luas tentang proses penuaan. Dalam sejumlah penggunaan klasik, kata kerja baddana tidak hanya berarti menjadi gemuk, tetapi juga menunjukkan bertambahnya usia. Tubuh yang dahulu ringan dan lincah perlahan berubah menjadi lebih berat, menandai perjalanan waktu yang tidak bisa dihentikan.
Makna ini tampak dalam sebuah riwayat Nabi Muhammad saw. Beliau pernah meminta para sahabat agar tidak terlalu cepat mengikuti gerakan rukuk dan sujud dalam shalat. Alasannya sederhana namun sangat manusiawi: beliau telah memasuki usia yang lebih tua sehingga gerak tubuhnya tidak lagi secepat masa muda. Dalam riwayat itu digunakan ungkapan:
“inni qad baddantu” aku telah bertambah usia dan tubuhku tidak lagi seperti dahulu.
Di balik kalimat singkat itu tersimpan pelajaran yang relevan hingga hari ini. Modernitas sering memuja usia muda dan menganggap penuaan sebagai sesuatu yang harus dilawan. Industri kecantikan dan kesehatan menjanjikan tubuh yang selalu tampak segar, kuat, dan muda. Namun bahasa Al-Qur’an dan hadis justru mengajak manusia menerima kenyataan bahwa tubuh adalah ruang tempat waktu bekerja. Keriput, rambut memutih, dan tubuh yang tidak lagi sekuat dahulu bukanlah kegagalan, melainkan tanda perjalanan hidup yang telah ditempuh.
Makna badan memperoleh dimensi yang lebih dramatis ketika Al-Qur’an berbicara tentang Fir’aun. Setelah bertahun-tahun menentang kebenaran dan mengklaim diri sebagai penguasa tertinggi, ia akhirnya tenggelam di Laut Merah. Namun kisah itu tidak berakhir di dasar laut.
Al-Qur’an merekam firman Allah:
فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً
“Maka pada hari ini Kami selamatkan tubuhmu agar engkau menjadi tanda bagi orang-orang yang datang sesudahmu” (QS. Yunus: 92)
Ayat ini mengandung ironi yang kuat. Ketika kekuasaan Fir’aun lenyap, yang tersisa hanyalah tubuhnya. Semua simbol kejayaan, istana, pasukan, dan klaim ketuhanannya runtuh dalam sekejap. Yang dipertahankan justru badannya, jasadnya sebagai pelajaran sejarah.
Sebagian ulama memahami ayat ini sebagai penyelamatan tubuh fisik Fir’aun. Sebagian lain menafsirkannya sebagai penyelamatan baju perang atau zirah yang menempel pada tubuhnya. Apa pun penafsirannya, pesan utamanya tetap sama: tubuh manusia pada akhirnya menjadi saksi keterbatasannya sendiri.
Di sinilah kata badan memperoleh makna filosofis yang menarik. Tubuh bukan hanya alat untuk hidup, melainkan arsip perjalanan manusia. Ia menyimpan jejak kemenangan, kekalahan, kesombongan, kerja keras, bahkan dosa dan penyesalan. Ketika seseorang meninggalkan dunia, sering kali yang tersisa hanyalah cerita yang melekat pada tubuhnya.
Makna lain dari kata ini muncul dalam surah Al-Hajj ketika Al-Qur’an berbicara tentang hewan kurban:
وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ
“Dan unta-unta kurban itu Kami jadikan untuk kalian sebagai bagian dari syiar Allah” (QS. Al-Hajj: 36)
Kata budn di sini adalah bentuk jamak dari badanah, yaitu hewan kurban berukuran besar yang dipersembahkan dalam ibadah haji. Menarik bahwa ukuran fisik yang besar tidak dimaksudkan untuk menunjukkan kemewahan atau kebanggaan, melainkan pengorbanan.
Dalam konteks ini, tubuh yang besar justru menemukan maknanya ketika diberikan, bukan ketika dipamerkan. Nilainya lahir dari pengabdian, bukan dari penampilan. Pesan tersebut terasa sangat relevan di tengah budaya digital yang sering mengukur manusia berdasarkan citra fisik dan penampilan luar.
Pada akhirnya, perjalanan makna kata badan mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi mendalam. Tubuh memang penting, tetapi ia bukan tujuan akhir. Ia adalah kendaraan yang membawa manusia melewati waktu, sekaligus saksi atas pilihan-pilihan yang dibuat selama hidup.
Tubuh bisa menjadi simbol kesombongan seperti Fir’aun, bisa menjadi tanda penuaan yang diterima dengan kebijaksanaan sebagaimana dicontohkan Nabi saw, atau bisa menjadi sarana pengorbanan seperti hewan kurban dalam syariat haji. Semua bergantung pada bagaimana manusia memaknai keberadaannya.
Mungkin karena itulah Al-Qur’an tidak pernah mengajak manusia mengagungkan tubuh secara berlebihan. Tubuh dihormati, dirawat, dan dijaga. Namun yang memberi makna pada tubuh bukanlah ukurannya, kekuatannya, atau keindahannya, melainkan nilai yang diperjuangkan selama ia masih bernapas. Ketika waktu berakhir, yang dikenang bukan semata badan yang pernah tegak berdiri, melainkan jejak makna yang ditinggalkannya.
