ISLAM LIVE – Kalau hari ini kita terbiasa melihat bumi seperti bola yang sudah pasti bentuknya, atau gambar-gambar yang beredar pun memang menunjukan bahwa dari dulu bumi itu bulat. Nah, para ilmuwan muslim klasik ternyata sudah lebih dulu berkutat dengan pertanyaan dan rasa penasaran yang sama atau bahkan dengan cara yang jauh lebih imajinatif dan filosofis.
Dalam salah satu karya ensiklopedis besar dunia Islam, Muʿjam al-Buldān karya Yaqut Hamawi, kita bisa menemukan bagaimana bumi tidak hanya dipahami sebagai tempat tinggal manusia dengan segala hiruk pikuknya, tapi juga sebagai bagian dari tatanan kosmos yang luas, rumit, dan penuh perdebatan intelektual terutama di kalangan ilmuan sains. Bahkan topik soal bumi bulat atau datar menjadi perdebatan abadi sampai kapan pun.
Menariknya, sejak awal teks ini sudah membuka banyak pandangan tentang bentuk bumi. Ada yang mengatakan bumi datar, ada yang menyamakannya dengan meja, ada yang mengibaratkan seperti setengah bola, bahkan ada yang menyebutnya seperti tiang panjang. Tapi di tengah semua perbedaan itu, muncul satu gagasan yang akhirnya lebih dominan: bumi itu bulat.
Yaqut menulis:
الأرض مدورة بالكلية
“Bumi itu bulat secara keseluruhan.” (Muʿjam al-Buldān, juz. 1, 17)
Namun, lagi-lagi bumi tidak sempurna seperti bola tenis yang mulus di permukaan. Ia punya gunung, lembah, dan permukaan yang tidak rata. Tapi ketidakteraturan itu tidak mengubah bentuk dasarnya. Yaqut juga menegaskan dalam teksnya:
ولا يخرجها ذلك من الكرية
“Dan itu tidak mengeluarkannya dari kebulatannya.” (Muʿjam al-Buldān, juz. 1, 17)
Dengan kata lain, para ilmuwan klasik sudah membedakan antara bentuk global dan detail permukaan. Ini merupakan sesuatu yang terasa sangat modern jika kita lihat sekarang. Padahal diskursus ini sudah terlampau jauh masanya.
Manusia seperti semut di atas dunia
Salah satu bagian yang paling menarik dari teks di kitab ini bukan soal angka atau bentuk bumi saja yang diperbincangkan, tapi cara mereka melihat posisi manusia di dalamnya.
Ada satu metafora yang cukup mencuat:
والناس على الأرض كالنمل على البيضة
“Manusia di atas bumi seperti semut di atas telur.” (Muʿjam al-Buldān, juz. 1, 18)
Perbandingan ini jika dibaca tanpa notasi pasti terasa sederhana, tapi sebetulnya mengandung efek yang cukup dalam. Menurut penulis, metafora ini ingin mengatakan bahwa manusia bukan pusat dari segalanya. Kita kecil, sementara bumi saja hanyalah satu bagian kecil dari sistem kosmos yang lebih besar dengan sejumlah hierarkinya.
Bumi yang di kelilingi dunia yang “hidup”
Para ilmuwan juga mencoba membayangkan bagaimana bumi tersebar dan dihuni. Mereka menyebut ada wilayah yang disebut al-rub‘ al-ma‘mūr, yaitu bagian bumi yang bisa dihuni manusia, lengkap dengan kota, sungai, gunung, dan lautan. Dalam teks ditegaskan juga:
كجزيرة بارزة تحيط بها البحار
“Seperti pulau yang menonjol yang dikelilingi lautan.” (Muʿjam al-Buldān, juz. 1, 18)
Di luar itu, ada wilayah yang tidak bisa dihuni. Penyebabnya karena dingin ekstrem, salju tebal, atau kondisi alam yang tidak memungkinkan adanya kehidupan untuk manusia. Jadi, dunia yang dikenal manusia jauh saat masa lampau sebenarnya hanya sebagian kecil dari bumi yang lebih luas.
Bumi adalah Imajinasi ruang tanpa batas
Yang lebih unik lagi, bahkan out of the box sebagian ilmuwan bahkan membayangkan bumi seperti bisa dilubangi dari satu sisi ke sisi lain. Seolah-olah jika kita menggali cukup dalam, kita akan muncul di tempat yang jauh di belahan dunia lain.
Penulis memandang gambaran ini menunjukkan satu hal: mereka sedang berusaha memahami ruang bukan hanya secara geografis, tapi juga secara imajinatif.
Bumi bukan sekadar tempat, tapi cara berpikir
Akhirnya, dari Muʿjam al-Buldān kita melihat bahwa bumi dalam tradisi Islam klasik bukan hanya objek fisik, tapi juga bagaimana cara manusia memahami dirinya sendiri di tengah semesta.
Bumi bisa dibayangkan bulat, bisa dipetakan, bisa dihitung, tapi juga bisa direnungkan sebagai ruang kecil tempat manusia hidup sementara dalam sistem kosmos yang jauh lebih besar.
Dan mungkin di situlah menariknya, semakin jauh manusia memahami bumi, semakin ia sadar bahwa dirinya tidak pernah benar-benar menjadi pusat perhatian.(*)
