ISLAM LIVE – Mengakui Allah sebagai Pencipta alam semesta belum tentu berarti seseorang mengesakan-Nya dalam ibadah. Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam buku Fiqh Prioritas, Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah (Robbani Press, 1996) menjelaskan bahwa keyakinan terhadap Allah sebagai Pencipta dan Pengatur alam semesta disebut tauhid rububiyyah, sedangkan mengesakan Allah dalam ibadah disebut tauhid uluhiyyah.
Al-Qardhawi menuturkan, masyarakat Arab pada masa jahiliah meyakini adanya Tuhan yang menciptakan langit, bumi, dan manusia, serta memberikan rezeki, kehidupan, dan kematian. Namun, mereka juga menyembah tuhan-tuhan lain, sehingga tidak mengesakan Allah dalam ibadah. “Dahulu mereka percaya tentang keberadaan Tuhan, yang menciptakan langit, bumi, dan manusia, serta yang memberikan rezeki, kehidupan, dan kematian kepada mereka. Akan tetapi, di samping adanya pernyataan tentang keberadaan Tuhan itu, yang disebut dengan tauhid rububiyyah, mereka juga mempersekutukan Allah, yang disebut dengan tauhid ilahiyyah, dengan menyembah tuhan-tuhan yang lain, baik yang berada di bumi maupun yang berada di langit,” jelas Al-Qardhawi.
Al-Qur’an menggambarkan pengakuan kaum tersebut terhadap Allah sebagai Pencipta dalam QS Az-Zukhruf ayat 9:
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ
Artinya: “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, niscaya mereka akan menjawab: ‘Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.'”
Hal serupa dijelaskan dalam QS Al-Ankabut ayat 61 dan QS Yunus ayat 31. Ayat kedua tersebut menunjukkan bahwa pengakuan terhadap Allah sebagai Pencipta, Pemberi Rezeki, dan Pengatur alam semesta tidak serta-merta meniadakan praktik kemusyrikan. Menurut Al-Qardhawi, kaum musyrik memuja berbagai benda, seperti pohon, batu, dan barang tambang. Mereka meyakini sesembahan tersebut dapat mendekatkan mereka kepada Allah atau menjadi pemberi syafaat.
Al-Qur’an memuat alasan itu dalam QS Az-Zumar ayat 3:
… مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ
Artinya: “…Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya…”
Sementara itu, QS Yunus ayat 18 menggambarkan keyakinan mereka terhadap sesembahan selain Allah:
…وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللَّهِ
Artinya: “Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) manfaat, dan mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah.’”
Al-Qardhawi menjelaskan bahwa kemusyrikan memiliki beragam bentuk dalam sejarah kepercayaan manusia, seperti penyembahan berhala di kalangan masyarakat Arab, kepercayaan Majusi Persia terhadap dua prinsip ketuhanan yang berlawanan, serta praktik keagamaan di berbagai masyarakat Asia dan Afrika. Menurutnya, kemusyrikan menjadi tempat berkembangnya khurafat dan kebatilan. Manusia bahkan dapat kehilangan martabat ketika menghambakan diri kepada benda yang diciptakannya sendiri.
Bahaya syirik dijelaskan melalui perumamaan yang kuat dalam QS Al-Hajj ayat 31:
وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ
Artinya: “… Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit dan disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”
Ayat tersebut menggambarkan betapa seriusnya mempersekutukan Allah dalam ajaran Islam. Oleh karena itu, pembahasan tentang syirik bukan sekadar persoalan pengakuan terhadap keberadaan Tuhan, melainkan juga tentang kemurnian keyakinan dan ibadah kepada-Nya. Penjelasan Al-Qardhawi menggarisbawahi pentingnya memahami perbedaan antara mengakui Allah sebagai Pencipta dan mengesakan-Nya dalam ibadah. Namun penilaian terhadap keyakinan dan keadaan individu tertentu tidak dapat dilakukan secara serampangan tanpa mempertimbangkan konteks, pengetahuan, serta ketentuan syariat. Bagi umat Islam, pemahaman tauhid menjadi landasan untuk menjaga kemurnian ibadah, menjauhi kemusyrikan, dan tidak menggantungkan penghambaan kepada selain Allah SWT.
