ISLAM LIVE– Ada ketakutan yang diam-diam menghantui banyak orang: takut dilupakan. Sebagian orang mengejarnya dengan jabatan, sebagian dengan kekayaan, sebagian lagi dengan ketenaran. Mereka ingin meninggalkan jejak, memastikan namanya tetap disebut setelah tubuhnya tak lagi hadir. Namun sejarah sering menunjukkan ironi. Banyak nama besar hilang begitu saja, sementara sebagian orang yang pernah diremehkan justru terus hidup dalam ingatan manusia lintas generasi.
Dalam bahasa Arab, ada sebuah istilah yang menarik untuk memahami fenomena ini: al-abtar. Kata ini secara harfiah berarti “terputus” atau “terpotong”. Pada mulanya, istilah itu digunakan untuk sesuatu yang buntung, khususnya ekor yang terputus. Namun maknanya kemudian berkembang menjadi simbol bagi sesuatu yang kehilangan kelanjutan, kehilangan jejak, kehilangan pengaruh.
Karena itu, dalam tradisi Arab, seseorang disebut abtar ketika tidak memiliki keturunan yang melanjutkan namanya. Istilah tersebut juga digunakan untuk orang yang terputus dari kebaikan atau memutus hubungan kekerabatan. Bahkan sebuah pidato yang tidak diawali dengan menyebut nama Tuhan pernah disebut sebagai khutbah batrā’: pidato yang buntung, kehilangan ruh dan keberkahannya.
Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan:
كلّ أمر لا يبدأ فيه بذكر الله فهو أبتر
“Setiap urusan yang tidak dimulai dengan mengingat Allah adalah urusan yang terputus”
Pesan ini jauh lebih dalam daripada sekadar anjuran mengucapkan basmalah. Ia mengandung gagasan bahwa sesuatu yang kehilangan fondasi spiritual akan mudah kehilangan makna. Sebuah pekerjaan mungkin tampak besar, menghasilkan keuntungan besar, atau mendatangkan pujian luas. Namun bila kehilangan orientasi yang benar, ia bisa menjadi “abtar”: tampak hidup sesaat, lalu menghilang tanpa bekas.
Konsep ini mencapai puncaknya dalam Surah Al-Kautsar. Pada masa awal dakwah Islam, Nabi Muhammad menghadapi ejekan yang tidak ringan. Setelah wafatnya putra-putra beliau, sebagian lawan politik dan sosialnya menuduh bahwa pengaruh Muhammad saw akan segera berakhir. Dalam budaya Arab saat itu, keberlanjutan nama keluarga sangat bergantung pada keturunan laki-laki. Mereka menganggap Nabi saw telah kehilangan masa depan.
Di tengah suasana itulah turun firman Allah:
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
“Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus” (QS. Al-Kautsar: 3)
Ayat yang singkat itu seperti membalik seluruh logika manusia. Menurut para pengejek, Muhammad saw adalah sosok yang “terputus”. Namun Al-Qur’an justru menyatakan sebaliknya: yang benar-benar terputus adalah mereka yang hidup dengan kebencian dan permusuhan.
Menariknya, sejarah kemudian membuktikan makna ayat tersebut secara nyata. Nama para pengejek Nabi saw hampir tenggelam dalam lembaran sejarah. Sebagian hanya dikenang oleh para peneliti. Sebaliknya, nama Muhammad saw terus disebut miliaran kali setiap hari. Dari azan yang berkumandang di berbagai penjuru dunia hingga shalawat yang dilantunkan tanpa henti, jejak beliau justru semakin luas setelah wafatnya.
Al-Qur’an bahkan menegaskan:
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
“Dan Kami telah meninggikan sebutan namamu” (QS. Al-Insyirah: 4)
Ayat ini mengajarkan sesuatu yang sering luput dari perhatian modern: keabadian tidak selalu lahir dari garis keturunan biologis. Ada bentuk keberlanjutan yang lebih kuat daripada hubungan darah, yaitu warisan nilai, ilmu, dan pengaruh moral.
Di zaman media sosial, pelajaran ini terasa semakin tajam. Kita hidup dalam era yang mengukur keberhasilan dengan jumlah pengikut, jumlah tayangan, dan popularitas sesaat. Nama seseorang bisa menjadi sangat terkenal hari ini, lalu hilang dari perhatian publik beberapa minggu kemudian. Fenomena viral sering kali membuktikan betapa rapuhnya ketenaran.
Banyak orang sibuk memastikan dirinya terlihat, tetapi lupa memastikan dirinya berarti. Mereka mengejar sorotan, bukan kontribusi. Padahal sejarah menunjukkan bahwa yang membuat seseorang tetap hidup dalam ingatan bukanlah seberapa sering wajahnya muncul, melainkan seberapa dalam manfaatnya dirasakan.
Karena itu, para ulama sering dipandang sebagai contoh menarik dari makna kebalikan abtar. Tubuh mereka telah lama berbaring di dalam tanah, tetapi pemikiran dan karya mereka terus berjalan. Gagasan mereka mengajar generasi yang bahkan tidak pernah melihat wajah mereka.
Dalam sebuah ungkapan yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s disebutkan bahwa para ulama tetap hidup sepanjang masa. Fisik mereka memang tidak lagi ada, tetapi jejak mereka tetap tinggal di dalam hati manusia. Kalimat ini bukan sekadar pujian terhadap kaum cendekiawan. Ia adalah definisi tentang kehidupan yang melampaui umur biologis.
Seseorang bisa meninggal pada usia tiga puluh tahun, tetapi pengaruhnya hidup selama tiga ratus tahun. Sebaliknya, seseorang bisa hidup hingga usia sembilan puluh tahun, namun namanya menghilang tak lama setelah pemakamannya. Yang menentukan bukan panjang usia, melainkan kedalaman jejak.
Dari sini kita dapat memahami bahwa lawan sejati dari abtar bukanlah memiliki banyak keturunan atau pengikut. Lawannya adalah kebermaknaan. Manusia yang menanam ilmu, menyebarkan kebaikan, memperbaiki kehidupan orang lain, dan membangun hubungan yang tulus sedang menciptakan jejak yang tidak mudah terputus.
Pada akhirnya, setiap manusia meninggalkan sesuatu. Pertanyaannya bukan apakah kita akan dikenang, melainkan karena apa kita dikenang. Sebab sejarah tidak selalu mengabadikan mereka yang paling keras berbicara, paling kaya, atau paling terkenal. Sejarah sering kali justru mengabadikan mereka yang diam-diam memberi manfaat.
Barangkali itulah makna terdalam dari ayat “Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus.” Yang benar-benar terputus bukanlah mereka yang kehilangan keturunan, jabatan, atau popularitas. Yang benar-benar terputus adalah mereka yang hidup tanpa meninggalkan kebaikan. Sementara mereka yang menanam manfaat akan terus hidup, bahkan ketika nama mereka perlahan menghilang dari batu nisan.
