ISLAM LIVE – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Selasa, 2/6/2026. Mata uang rupiah melemah 80,5 poin ke level Rp17.885 per dolar Amerika Serikta (AS), sehingga semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai sejumlah faktor global masih membayangi pergerakan rupiah. Menurutnya, ketidakpastian pasar semakin meningkat seiring perkembangan kondisi ekonomi dan geopolitik internasional.
Selain itu, Ibrahim menyoroti kebijakan perdagangan yang diterapkan presiden Amerika Serikat Donal Trump (Trump) yang kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Dia menilai perang dagang yang dilakukan AS itu pinalti.
“Perang dagang yang dilakukan oleh Trump itu adalah ilegal, ya kemudian akan diterapkan dengan 10%, tetapi rupanya dinaikkan menjadi 15%,” kata Ibrahim Assuaibi dalam keterangan yang disampaikan kepada media, Selasa, 2/6/2026.
Dari sisi domestik, kebutuhan devisa untuk impor minyak mentah juga dinilai ikut memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. “85% itu adalah untuk BBM bersubsidi, ini pun juga membuat apa, membuat kebutuhan dolar yang cukup tinggi,” ujarnya.
Kombinasi sentimen eksternal dan tingginya kebutuhan dolar di dalam negeri menjadi faktor yang membayang-bayangi pergerakan rupiah dalam perdagangan global, sehingga perdagangan hari ini semakin mendekati level Rp18.000 per dolar AS.
