ISLAM LIVE- Dalam perjalanan hidup, kita sering merasa terjepit di antara dua kondisi: masa-masa sulit yang membuat kita merasa jauh dari Tuhan, dan momen-momen indah di mana kehadiran-Nya terasa begitu nyata. Dalam khazanah spiritual, dua kondisi ini disebut sebagai Satr/الستر (penutup/tabir) dan Tajalli (penampakan/manifestasi). Memahami kedua diksi itu jangan hanya berhenti pada sebatas teori saja, tapi eksplorasi tentang bagaimana kita merespons kehidupan dengan lebih tenang dan bijak.
Satr adalah keadaan ketika hati manusia tertutup dari penyaksian terhadap kehadiran Allah, sehingga seseorang merasa jauh dari-Nya, meskipun Allah tidak pernah jauh darinya. Dalam hidup sehari-hari, ini adalah saat-saat kita ditimpa kesedihan, kehilangan, atau kebuntuan. Kita merasa doa-doa seolah tertahan dan cahaya petunjuk tidak kunjung menyapa kita atau bahkan seolah-olah meredup.
Dalam pandangan para ahli hakikat, keadaan Satr menunjukkan bahwa hati belum mencapai kesempurnaan penyaksian terhadap Allah. Karena itu, Satr dipandang sebagai fase yang harus dilalui dan diatasi oleh seorang salik dalam perjalanan spiritualnya.
فليس الإنسان بإنسان في حالة الستر فيكون على درج النقصان في دائرة الإيمان
“Seseorang belum mencapai hakikat kemanusiaannya selama ia masih dalam keadaan Satr; ia masih berada di tingkat yang belum sempurna dalam lingkup keimanannya” (Ahmad bin Ali ar-Rifa’I, Risālah as-Satr wa at-Tajallī (Ḥālat Ahl al-Ḥaqīqah ma‘a Allāh Ta‘ālā), 213)
Namun, di sisi lain ada Tajalli. Ini adalah saat kita merasakan ketenangan luar biasa, jawaban doa yang tiba-tiba datang, atau secercah cahaya kebahagiaan yang membuat kita merasa sangat dekat dengan Sang Pencipta. Menariknya, para ahli hakikat memandang Satr dan Tajalli sebagai dua sisi dari koin yang sama. Satr bukanlah tanda Allah meninggalkan kita. Seringkali, Satr justru adalah cara Allah memproses hati kita agar kita belajar bersabar, merendahkan hati, dan menyadari bahwa ketergantungan kita kepada-Nya adalah sesuatu hal yang mutlak.
Gambaran paling jelas tentang hubungan antara Satr dan Tajalli dapat kita temukan dalam kisah Nabi Yunus AS, beliau mengalami Satr yang sangat pelik dan kelam di dalam perut ikan di dasar laut yang gelap. Namun, justru dalam kegelapan itulah beliau menemukan Tajalli atau penyadaran hakiki tentang tauhid.
Dalam keadaan seluruh sebab duniawi tertutup, Nabi Yunus tidak lagi memiliki tempat bergantung selain kepada Allah. Pada saat itulah tersingkap kesadaran tauhid yang paling murni. Inilah yang oleh para sufi dipahami sebagai salah satu bentuk Tajalli, yaitu ketika kehadiran Allah menjadi lebih nyata bagi hati daripada segala sesuatu selain-Nya.
فَنادى فِي الظُّلُماتِ أَنْ لا إِلهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, “Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)
Kegelapan (dikaitkan dengan Satr) tidak membuat Nabi Yunus jauh dari Allah; justru di sanalah pengakuan tauhid beliau mencapai puncaknya. Pengalaman Nabi Yunus mengajarkan bahwa tidak setiap kegelapan merupakan tanda murka Tuhan. Kadang-kadang justru di sanalah proses pemurnian jiwa berlangsung. Prinsip yang sama juga dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Saat kita sedang diuji, misalnya bisnis gagal, atau sering sakit hati karena banyaknya cacian dan gunjingan, itu adalah Satr. Jika kita mampu memandang Satr dengan kacamata iman, kita akan tahu bahwa di balik setiap penutupan atau tabir, ada cahaya yang sedang dipersiapkan untuk kita.
Pelajaran yang sama juga tampak dalam pengalaman Abu Bakar Ash-Shiddiq ketika menemani Rasulullah SAW di dalam Goa Tsur. Itu adalah momen ketakutan yang sangat manusiawi, namun Rasulullah menenangkan beliau dengan perspektif Tajalli.
ثانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُما فِي الْغارِ إِذْ يَقُولُ لِصاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنا
“..Sedangkan dia salah satu dari dua orang, ketika keduanya berada dalam goa, ketika dia berkata kepada sahabatnya, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”.” (QS. At-Taubah: 40)
Kalimat “Jangan bersedih” mengingatkan kita bahwa di balik tabir Satr tetap ada kehadiran Allah yang menyertai hamba-Nya. Kesadaran inilah yang mengubah rasa takut menjadi ketenangan dan kesempitan menjadi keluasan jiwa.
Bagaimana kita menyikapi ini sehari-hari? Sederhana saja: jangan terjebak hanya pada apa yang terlihat oleh mata saja. Saat keadaan terasa sulit (Satr), ingatlah bahwa itu hanyalah cara Tuhan untuk memoles jiwa kita. Saat keadaan terasa indah (Tajalli), jangan sombong, karena itu adalah karunia yang harus disyukuri. Seseorang yang bijak tidak akan terpaku pada satu kondisi saja. Ia tahu bahwa Satr adalah ruang untuk berdoa, dan Tajalli adalah ruang untuk bersyukur. Keduanya adalah jalan bagi manusia untuk kembali kepada-Nya. Jika kita bisa berdamai dengan kedua kondisi ini, hidup tidak akan lagi terasa sebagai beban yang berat, melainkan sebuah perjalanan untuk terus-menerus mengenal tanda-tanda kehadiran Tuhan dalam setiap tarikan napas.
Maka, kehidupan ini adalah pergantian antara menutup dan membuka. Dan di setiap pergantian itu, Tuhan sedang memanggil kita pulang ke dalam pelukan kasih sayang-Nya yang tidak pernah bertepi.
