ISLAM LIVE— Ada satu kenyataan yang diam-diam membentuk wajah peradaban modern hari ini: manusia semakin kaya alat untuk memenuhi keinginan, tetapi semakin miskin kemampuan memahami apa yang benar-benar ia butuhkan. Kita hidup di zaman ketika semua hal dipasarkan sebagai kebutuhan. Gawai baru dianggap penting, pengakuan sosial terasa mendesak, bahkan kesibukan diperlakukan seolah tanda kehormatan. Akibatnya, manusia modern sering kelelahan bukan karena hidup terlalu berat, melainkan karena terlalu banyak mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan.
Menariknya, problem ini sudah disentuh sejak lama dalam khazanah bahasa Arab klasik. Salah satu kata yang menyimpan kedalaman makna itu adalah al-arab atau al-irbah الأرب. Dalam penjelasan para ulama bahasa, kata ini tidak sekadar berarti “kebutuhan”. Ia menunjuk pada kebutuhan yang begitu mendesak hingga membuat seseorang harus memikirkan siasat, usaha, bahkan kecerdikan untuk memenuhinya. Karena itu, setiap arab adalah kebutuhan, tetapi tidak setiap kebutuhan layak disebut arab.
Di sinilah bahasa Arab memperlihatkan ketelitiannya membaca jiwa manusia. Ada kebutuhan yang sifatnya biasa: lapar, haus, ingin istirahat. Tetapi ada kebutuhan yang begitu kuat hingga mampu menggerakkan seluruh energi hidup seseorang. Dalam kondisi tertentu, kebutuhan seperti ini bisa melahirkan kreativitas. Namun dalam keadaan lain, ia juga dapat menyeret manusia pada tipu daya, manipulasi, bahkan kerakusan.
Al-Qur’an menggunakan kata ini ketika Nabi Musa a.s berbicara tentang tongkatnya:
وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى
“Dan padanya ada lagi berbagai keperluan lain bagiku” (QS. Thaha: 18)
Tongkat Musa a.s bukan sekadar kayu penyangga. Ia menjadi alat bantu perjalanan, penggembala, pelindung, dan banyak fungsi lain. Ayat ini seolah mengingatkan bahwa sesuatu yang sederhana dapat memiliki makna besar ketika manusia memahami kebutuhan secara proporsional. Masalah manusia modern justru sebaliknya: memiliki terlalu banyak benda, tetapi kehilangan makna penggunaannya.
Kata irbah juga muncul dalam Al-Qur’an saat membahas laki-laki yang “tidak memiliki hasrat terhadap perempuan”:
أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ
“Laki-laki yang sudah tidak memiliki keinginan (terhadap perempuan)” (QS. An-Nur: 31)
Dalam konteks ini, irbah berkaitan dengan dorongan biologis atau kebutuhan seksual. Tetapi Al-Qur’an tidak membicarakannya secara vulgar. Bahasa wahyu memilih ungkapan yang halus, seolah memberi pelajaran bahwa kebutuhan manusia memang nyata, tetapi harus dipahami dengan martabat dan kendali diri.
Yang menarik, akar kata yang sama juga melahirkan makna “kecerdikan” atau “kelicinan”. Orang Arab dahulu menyebut seseorang yang pandai bersiasat dengan istilah dzû arab atau arîb. Dari sini tampak bahwa kebutuhan yang kuat sering melahirkan akal yang aktif. Ketika manusia sangat menginginkan sesuatu, pikirannya akan bekerja lebih keras mencari jalan.
Maka tidak mengherankan jika banyak penipuan besar lahir bukan dari kebutuhan sederhana, melainkan dari ambisi yang tidak terkendali. Korupsi, manipulasi citra, eksploitasi agama, hingga budaya pencitraan di media sosial sering berawal dari satu hal: manusia tidak lagi bisa membedakan kebutuhan dan ketamakan. Semua keinginan terasa mendesak. Semua ambisi terasa wajib dipenuhi.
Dalam penjelasan ulama bahasa, tubuh manusia sendiri dibagi menjadi dua jenis anggota. Ada anggota tubuh yang sekadar pelengkap keindahan, seperti alis atau janggut. Tetapi ada anggota yang menjadi penopang utama kehidupan: tangan, kaki, mata, dan organ-organ vital lainnya. Anggota tubuh yang sangat dibutuhkan itu disebut ārāb.
Maknanya sangat filosofis. Tidak semua yang indah itu penting, dan tidak semua yang penting selalu tampak indah. Dunia modern sering terjebak pada budaya kosmetik: sibuk mempercantik permukaan sambil melupakan fondasi hidup yang sebenarnya menopang jiwa manusia; kejujuran, ketenangan batin, relasi keluarga, dan kesehatan ruhani.
Karena itu, dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad saw menyebut bahwa ketika seseorang bersujud, ada tujuh anggota tubuh yang ikut bersujud: wajah, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua kaki. Dalam riwayat itu, anggota-anggota penting tersebut disebut sebagai ārāb. Seolah sujud bukan hanya gerakan ritual, tetapi simbol bahwa manusia menyerahkan seluruh unsur paling vital dalam dirinya kepada Tuhan.
Di titik ini, makna arab berubah menjadi sangat dalam. Ia tidak lagi sekadar bicara tentang kebutuhan materi, tetapi tentang apa yang sesungguhnya menopang keberadaan manusia. Sebab ada orang yang tampak sukses, tetapi kehilangan “anggota batin” yang paling penting dalam hidupnya: rasa cukup.
Dan mungkin di situlah akar kegelisahan manusia modern. Kita diajarkan cara mendapatkan banyak hal, tetapi tidak diajarkan cara merasa cukup. Kita dipacu untuk terus memiliki, tetapi jarang diajak bertanya: apakah semua ini benar-benar diperlukan?
Bahasa Arab klasik ternyata tidak sekadar menyimpan kosakata, melainkan cara membaca manusia. Kata arab mengajarkan bahwa kebutuhan yang tidak dikenali batasnya dapat berubah menjadi jebakan. Semakin besar rasa kurang dalam diri seseorang, semakin mudah ia menghalalkan segala cara demi memenuhinya.
Mungkin karena itu, problem terbesar manusia hari ini bukan kemiskinan harta, melainkan kelaparan jiwa yang tak pernah selesai. Sebab ada kebutuhan yang memang harus dipenuhi, tetapi ada pula keinginan yang justru perlu dikendalikan agar manusia tetap utuh sebagai manusia.
