Benci dalam Islam: Ketika Hati Menolak dan Jiwa Menjauh

22 views

ISLAM LIVE – Ada satu emosi yang hampir selalu dianggap buruk, tetapi diam-diam hadir dalam kehidupan setiap manusia: benci. Ia muncul tanpa diundang, tumbuh dari pengalaman, kekecewaan, atau luka yang tak selesai. Namun, benarkah kebencian selalu salah? Atau justru ia adalah bagian dari naluri yang, jika ditempatkan secara benar, dapat menjadi penanda arah bagi kehidupan manusia?

Dalam khazanah Islam, kebencian bukan sekadar ledakan emosi. Ia dipahami sebagai gerak batin yang menjauh dari sesuatu. Para ulama bahasa mendefinisikan bughd البغض sebagai penolakan jiwa terhadap sesuatu yang tidak diinginkan. Ia adalah kebalikan dari cinta. Jika cinta membuat hati bergerak mendekat, kebencian justru membuatnya mengambil jarak.

Pengertian ini menarik karena menunjukkan bahwa cinta dan benci bukan sekadar dua emosi yang saling bertolak belakang. Keduanya adalah kekuatan yang menentukan arah hidup manusia. Apa yang dicintai akan dikejar, dipelihara, bahkan diperjuangkan. Sebaliknya, apa yang dibenci akan dihindari, ditinggalkan, atau bahkan diperangi. Dengan kata lain, manusia sesungguhnya dibentuk oleh apa yang ia cintai dan apa yang ia benci.

Di titik ini, Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat relevan. Allah berfirman:

وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ

“Kami jadikan di antara mereka permusuhan dan kebencian” (QS. Al-Ma’idah: 64)

Dalam ayat lain ditegaskan:

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ

“Sesungguhnya setan hanya ingin menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian” (QS. Al-Ma’idah: 91)

Ayat-ayat itu memperlihatkan bahwa kebencian dapat menjadi ruang yang paling mudah dimasuki oleh setan. Ia tidak selalu datang dalam bentuk amarah yang meledak-ledak. Sering kali ia tumbuh perlahan, dipelihara oleh prasangka, diperbesar oleh ego, lalu diwariskan menjadi permusuhan yang tak lagi memiliki alasan yang jelas.

Baca Juga:  Basyar: Ketika Al-Qur'an Mengingatkan Bahwa Kita Semua Hanya Manusia

Dalam kehidupan modern, proses semacam ini terasa begitu akrab. Media sosial memungkinkan seseorang membenci orang lain yang bahkan belum pernah ditemuinya. Sebuah potongan video, satu unggahan, atau satu komentar sering kali cukup untuk membentuk penilaian mutlak. Kebencian tidak lagi membutuhkan kedekatan; ia dapat tumbuh dari jarak yang sangat jauh.

Yang lebih mengkhawatirkan, kebencian sering menyamar sebagai kebenaran. Orang merasa sedang membela prinsip, padahal yang dipertahankan sesungguhnya adalah luka batin atau fanatisme. Di sinilah kebencian berubah menjadi racun sosial. Ia memecah keluarga, menghancurkan persahabatan, bahkan mengoyak kehidupan masyarakat.

Namun jika ditarik lebih jauh, Islam tidak mengajarkan manusia menjadi pribadi yang kehilangan kemampuan untuk membenci. Ada hal-hal yang memang layak dijauhi: kezaliman, kemunafikan, pengkhianatan, dan berbagai bentuk kemaksiatan. Yang ditolak bukan keberadaan rasa benci itu sendiri, melainkan ketika kebencian kehilangan kendali moral dan berubah menjadi kebencian terhadap manusia secara membabi buta.

Karena itu, Islam selalu mengarahkan emosi kepada nilai, bukan kepada hawa nafsu. Kebencian terhadap keburukan seharusnya melahirkan usaha memperbaiki, bukan sekadar mencaci. Kebencian terhadap ketidakadilan semestinya menghasilkan keberanian membela yang lemah, bukan menciptakan ketidakadilan baru.

Gagasan ini kemudian menyentuh dimensi yang lebih dalam ketika Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya Allah membenci orang yang berkata keji dan terbiasa berbuat keji.”

Ungkapan bahwa Allah “membenci” tentu bukanlah emosi sebagaimana manusia membenci. Para ulama menjelaskan bahwa istilah tersebut menunjukkan jauhnya seseorang dari limpahan rahmat, pertolongan, dan taufik Allah akibat perilakunya sendiri. Dengan kata lain, kekejian bukan hanya merusak hubungan antarmanusia, tetapi juga menjauhkan pelakunya dari cahaya petunjuk Ilahi.

Baca Juga:  Tentang Putih yang Tak Sekadar Warna 

Penjelasan ini mengandung pesan yang sangat halus. Yang menjadi objek kebencian Allah bukan rupa, suku, status sosial, ataupun kekayaan seseorang. Yang dijauhkan adalah perilaku yang merusak martabat manusia. Kekasaran lisan, kebiasaan menghina, dan kegemaran menyakiti orang lain bukan sekadar masalah etika; semuanya perlahan mengikis hubungan manusia dengan Tuhan.

Dalam konteks yang lebih luas, masyarakat hari ini justru sedang mengalami normalisasi terhadap bahasa yang kasar. Cemoohan dianggap hiburan. Ujaran kebencian dipandang sebagai keberanian berbicara. Semakin keras seseorang menyerang orang lain, semakin besar pula peluangnya memperoleh perhatian. Di tengah budaya seperti ini, hadis Nabi saw terasa seperti kritik yang melampaui zamannya.

Pada akhirnya, setiap manusia akan selalu hidup di antara dua tarikan besar: cinta dan benci. Keduanya tidak mungkin dihapus dari hati. Yang menentukan kualitas seseorang bukanlah apakah ia memiliki rasa benci, melainkan kepada apa kebencian itu diarahkan dan bagaimana ia mengelolanya.

Sebab hati yang sehat bukan hati yang tidak pernah membenci, melainkan hati yang tidak membiarkan kebencian menguasai dirinya. Ia mampu menolak keburukan tanpa kehilangan kasih sayang, berani melawan kezaliman tanpa berubah menjadi zalim, dan menjaga prinsip tanpa kehilangan kemanusiaan.

Barangkali di situlah kedewasaan spiritual bermula: ketika seseorang tidak lagi membiarkan kebencian menentukan siapa dirinya, melainkan menjadikan nurani dan petunjuk Tuhan sebagai kompas bagi setiap rasa yang bersemayam di dalam hati.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA