ISLAM LIVE – Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia Jusuf Kalla turut menggarisbawahi pentingnya penyatuan tiga elemen utama dalam dunia pendidikan, yaitu akal (head), keterampilan (hands), dan akhlak (heart). Hal ini disampaikannya dalam agenda Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Minggu (6/9/2026).
“Seutuhnya itu dalam pendidikan mulai dari kepala. Jadi tiga H: head, heart, and hand. Otak, kepala, hati untuk akhlak dan juga kecerdasan, dan tangan untuk kemampuan bekerja. Itu lah (pendidikan) holistik, seutuhnya,” kata Jusuf Kalla .
JK menyoroti banyaknya lulusan sarjana yang membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. “Mungkin, masih ingat rumus-rumus, tapi tidak bisa melaksanakannya. Karena tangannya tidak kontak dengan otaknya. Tidak seimbang,” ujar dia .
Menurutnya, pendidikan di era modern saat ini bukan hanya berbicara tentang ilmu pengetahuan semata, tapi juga teknologi, logika, dan inovasi. “Memang pendidikan kita harus banyak berubah. Artinya kita harus berbicara tentang logika, harus berbicara tentang inovasi. Jadi mungkin yang tepat kecerdasan, bukan kepintaran. Kalau kepintaran cenderung kepada otak saja, tapi cerdas itu lebih dari itu,” jelas JK .
Dalam kesempatan yang sama, Rektor UNIDA Gontor sekaligus Ketua Peringatan 100 Tahun Gontor, Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, menekankan pentingnya menjaga integritas dan jati diri di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). “Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan, kita harus melihat kepribadian seseorang secara utuh dan tidak boleh hanya berbasis penilaian AI semata sehingga setiap individu tetap dituntut untuk menjaga integritas serta keaslian jati dirinya,” ujarnya .
Ia menilai sistem pendidikan saat ini terlalu menekankan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga belum sepenuhnya mengimplementasikan pilar-pilar pendidikan yang dikemukakan oleh UNESCO dan para pakar pendidikan .
Ketua Panitia GIHES 2026, KH Anang Rikza Masyhadi, menegaskan bahwa pendidikan berkualitas tidak hanya berorientasi pada proses belajar mengajar, tetapi juga harus membentuk kemampuan peserta didik secara menyeluruh. Forum tersebut diikuti lebih dari 300 peserta yang terdiri dari para pemimpin dan tokoh yang memiliki posisi strategis di bidang pendidikan dan berbagai sektor lainnya .
“Dengan pendidikan berbasis holistik, kami menerima 40 mahasiswa pada angkatan pertama. Atas kepercayaan masyarakat, kini kami menerima 450 mahasiswa dari berbagai kalangan,” kata Fatwa yang juga menjabat sebagai Ketua STAIDA Kendal .
