ISLAM LIVE – Ketua Senat Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Prof. Dr. Ir. Mhd. Asaad, mendesak pemerintah menerapkan kebijakan strategis untuk mengatasi krisis PTS, termasuk pembatasan kuota jalur masuk PTN, penambahan kuota KIP-K bagi PTS, dan pembatasan rekrutmen Universitas Terbuka hanya bagi lulusan yang telah tamat empat tahun dari SMA.
Asaad menilai kebijakan pemerintah yang memperluas jalur masuk dan program studi baru di PTN, termasuk jalur mandiri tanpa batasan kuota jelas, menciptakan persaingan tidak sehat yang menyapu potensi mahasiswa yang seharusnya menjadi target PTS.
“Sudah seharusnya pemerintah berlaku adil kepada PTS. Namun kenyataannya PTN diberi ruang membuka penerimaan mahasiswa hampir tanpa batas, melalui jalur mandiri saja sampai beberapa kali gelombang, sudah mirip ‘pukat harimau’ yang menyapu semua potensi mahasiswa yang membuat PTS mulai kehilangan ruang hidup,” kata Asaad di Medan, Jumat (7/8/2026).
Dari 3.044 kampus di Indonesia, 2.713 di antaranya adalah PTS yang menampung 60 persen mahasiswa nasional. Data 2024-2025 menunjukkan penurunan 20 hingga 40 persen mahasiswa baru PTS, dengan 30 persen PTS hanya mampu merekrut kurang dari 50 persen kuota.
Selama puluhan tahun PTS menjadi tulang punggung pendidikan tinggi Indonesia dengan hadir hingga pelosok daerah ketika negara belum mampu membangun PTN secara merata. Namun kini, kampus-kampus kecil di daerah sudah mulai gulung tikar.
Pemerintah melalui Kemendiktisaintek telah mengevaluasi linimasa penerimaan mahasiswa baru PTN dengan batas akhir Juli 2026, namun Asaad menilai ini belum menjadi solusi bagi ketimpangan pendidikan tinggi.
Ia mengusulkan solusi cerdas berupa batasan tegas pada jalur masuk dan kuota PTN, peningkatan KIP-K bagi PTS, alokasi dana hibah berimbang, serta pembatasan rekrutmen Universitas Terbuka hanya bagi calon mahasiswa yang telah tamat empat tahun dari SMA.
“UISU optimis menghadapi masa depan dengan menegaskan bahwa krisis ini menjadi momentum meningkatkan daya saing,” pungkasnya.
