ISLAM LIVE—Di Don’t Look Up, dua astronom datang membawa data. Mereka tidak minta dikultuskan, hanya didengar. Tapi pemerintah lebih sibuk menghitung elektabilitas, media mengejar klik, dan publik memilih hiburan.
Film ini bukan sekadar fiksi. Adam McKay, penulis sekaligus sutradara, memang merancangnya sebagai alegori tentang krisis iklim. Dua ilmuwan menemukan komet yang akan menghantam Bumi dalam enam bulan, namun peringatan mereka justru diabaikan dan ditertawakan. Sejumlah kajian juga membaca film ini sebagai satire tentang cara politik, media, dan masyarakat merespons fakta ilmiah yang tidak nyaman.
Yang menarik, para ilmuwan sungguhan justru merasa “dilihat”. Penggambaran ilmuwan yang diremehkan pemerintah dan media disebut dekat dengan pengalaman mereka. Film ini bahkan membuat frustrasi para ilmuwan terhadap respons terhadap krisis iklim terasa lebih nyata.
Lalu, di suatu ruangan, seorang pemimpin berkata dengan nada yakin: “Ah, para pakar itu saking pintarnya sampai tidak paham kenyataan.”
Kalimat itu tidak ada di naskah film. Tapi rasanya cocok sekali jadi dialog tambahan—terutama setelah Presiden Prabowo Subianto, dalam HUT ke-28 PAN di JICC, Jakarta, 18 September 2026, mengatakan: “Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok.”
Tentu, konteksnya berbeda. Prabowo menyampaikan pernyataan itu ketika menyinggung pihak yang menurutnya menyampaikan fitnah. Namun justru di situlah satire Don’t Look Up terasa relevan: bagaimana sebuah masyarakat memperlakukan orang yang membawa pengetahuan ketika pengetahuan itu terasa tidak nyaman?
Sebab dalam dunia Don’t Look Up, komet bukan ancaman terbesar. Yang lebih berbahaya adalah telinga yang tertutup oleh rasa paling benar.
Kalau fakta tidak lagi didengar karena pembawanya dianggap bodoh, maka yang perlu dipertanyakan bukan hanya siapa yang berbicara, tetapi siapa yang memilih untuk tidak mendengar.
