ISLAM LIVE – Batik khas Sidoarjo memiliki karakter unik karena lahir dari persilangan dua budaya batik yang berbeda, yaitu batik pedalaman dengan gaya keraton berwarna soft dan cokelat serta batik pesisiran yang kaya warna. Perpaduan itu menciptakan ciri khas batik Sidoarjo yang kolaboratif, dinamis, dan kaya variasi motif.
“Inti itu batik tulis harus dilestarikan. Bahasa lestari itu saya maknai bukan sekadar dipakai, tapi harus dicintai. Tujuan saya buka pelatihan dan produksi mulai dari pewarnaan sampai jadi baju adalah untuk mengurangi pengangguran, menciptakan lapangan kerja baru, dan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar,” kata Nurul Huda, pendiri Rumah Batik Tulis Al-Huda Sidoarjo, di Rumah Batik Tulis Al-Huda, Sidoarjo.
Kekuatan utama batik Sidoarjo terletak pada motif-motifnya yang menggali nilai sejarah, kondisi alam, serta identitas lokal daerah. Tiga motif khas yang paling ikonis adalah motif udang dan bandeng yang menggambarkan Sidoarjo sebagai kota pesisir terkenal dengan hasil tambaknya.
Udang dan bandeng Sidoarjo memiliki cita rasa unik akibat kandungan mineral dan kondisi air setempat. Motif ini menjadi representasi kekayaan alam daerah tersebut.
Selain itu, ada motif beras utah atau beras tumpah. Motif ini terinspirasi dari sejarah Sidoarjo sebagai daerah kecil yang sangat subur. Hasil panen padi melimpah hingga tumpah dan dijual ke daerah lain, melambangkan kemakmuran dan rasa syukur.
Nurul Huda merintis Rumah Batik Tulis Al-Huda sejak 1982 dengan modal awal Rp50.000 saat masih duduk di bangku SMA. Semangat pelestariannya semakin diperkuat setelah pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia pada 2009.
Saat ini, Rumah Batik Tulis Al-Huda mempekerjakan sekitar 55 orang karyawan. Sistem kerjanya fleksibel dan memberdayakan warga lokal, khususnya ibu-ibu rumah tangga sekitar yang bisa membawa pulang pekerjaan membatik ke rumah masing-masing.
Untuk memastikan seni batik tidak tergerus zaman dan kalah oleh produk pabrikan, Nurul aktif merangkul generasi muda melalui berbagai ajang fashion dan edukasi dari level TK hingga perguruan tinggi. Ia juga menjadi sponsor berbagai event bergengsi seperti Duta Wisata Raka Raki Jawa Timur hingga Puteri Indonesia.
“Memang kita harus mengangkat bahwa batik itu elegan. Siapapun yang memakai, gengsinya lebih tinggi. Kita harus berkolaborasi antara UKM batik dengan pemerintah untuk membuat rutinitas event dari anak-anak sampai remaja, supaya mereka tahu budaya itu tidak boleh punah,” pungkas Nurul.
Dengan dedikasi tersebut, batik tulis Sidoarjo terus dirawat sebagai warisan budaya sekaligus potensi ekonomi. Motif udang bandeng dan beras utah menjadi identitas yang memperkuat posisi batik Sidoarjo di tengah perkembangan industri tekstil modern.
