Dalam diskursus filsafat ilmu, ada sebuah konsep menarik bernama “model”. Ia merupakan cara ilmuwan mengurung hamparan fenomena kosmos yang tak terbatas ke dalam bingkai penafsiran yang bisa dicerna akal. Menariknya, model-model buatan para saintis seringkali berbicara melampaui batas fisika itu sendiri. Tidak jarang, formula dan pemodelan alam semesta juga memiliki resonansi dengan prinsip-prinsip metafisika.
Perihelion dan Aphelion merupakan salah satu model yang menjembatani fenomena fisika dengan metafisika. Dalam astronomi, istilah ini digunakan untuk membingkai perilaku komet yang memiliki orbit elips. Secara harfiah, peri berarti “dekat” dan helios berarti “matahari”, menandai sebuah titik di mana komet berada dalam lingkup terdekat dengan pusat cahayanya.
Di titik perihelion ini, materi komet yang semula bersifat beku mengalami kedekatan yang sangat intens dengan Matahari. Suhu panas dan radiasi dari jarak dekat membuat bongkahan beku itu meleleh, lalu memaksa inti komet melepaskan materialnya dan membentangkan jutaan mil debu juga gas. Mekanisme inilah yang tampak sebagai ekor cahaya cemerlang. Sebaliknya, ketika ia bergerak menjauh menuju aphelion (apo: jauh dan helios: matahari), komet kembali meredup dan kehilangan pendarannya, seolah kehabisan alasan untuk “meng-ada”.
Untuk membayangkannya secara sederhana, fenomena perihelion ini mirip seperti seorang perempuan yang sedang mengeringkan rambut dengan hair-dryer. Ketika moncong hair-dryer yang panas didekatkan ke rambut yang basah, kelembapan yang tadinya mengikat helaian rambut seketika menguap dan membuat rambut mengembang ditiup angin. Semakin dekat dan intens embusan panas itu, semakin masif pula penguapan yang terjadi. Begitulah komet di dekat Matahari; kebekuan tubuhnya dipaksa meluruh oleh kehangatan dari pusat surya, hingga ia melepas material dalamnya dan memanjangkan ekor pendaran yang megah.
Ketika mengamati bagaimana komet dimodelkan oleh para saintis, irisan yang seketika terbersit di benak saya ialah penjelasan irfani, bahkan penjelasan hadis, mengenai penciptaan semesta dari Nur Muhammad. Tentu saya tidak sedang menyamakannya secara harfiah, karena secara teknis ada perbedaan fundamental di antara keduanya.
Kendati demikian, terdapat kemiripan pola yang sangat unik: sebagaimana komet memanjangkan ekor cahayanya karena kedekatan dengan pusat surya, alam semesta pun mewujud karena Nur Muhammad berada di “titik” terdekat dengan pusat Cahaya. Dalam sebagian literatur irfan, Nur Muhammad juga disebut sebagai Nafas Rahmani: ejawantah pertama dan satu-satunya.
Oleh sebab itu, dalam kosmologi irfani, keragaman semesta dari tingkatan ruhani yang paling halus hingga materi yang paling pekat sejatinya merupakan satu kesatuan utuh. Ia layaknya satu tarikan nafas panjang yang, ketika diembuskan, bisa melahirkan keragaman huruf, kalimat, hingga untaian nada dan bunyi yang tak terbatas.
Nah, jika dibaca dengan pendekatan filosofis dan irfani, gerak astronomis komet menyimpan makna yang melampaui mekanika langit; ia bisa menjadi alegori jernih yang merepresentasikan genealogi penciptaan. Dengan kata lain, fenomena membentang dan memudarnya ekor komet di orbit surya merupakan cermin konseptual tentang bagaimana wujud dipancarkan dari Sang Sumber Cahaya; bagaimana Nafas Rahmani diembuskan oleh Sang Maha Kasih.
Dalam diksi Al-Qur’an, momen Perihelion yang paling puncak dan personal ini mewujud secara nyata dalam peristiwa Mikraj Nabi saw. Al-Qur’an merekam momen tacit (tak terbahasakan) itu melalui untaian kalimat: “Tsumma dana fatadalla, fa kana qaba qawsayni aw adna” (53: 8). Tentu saja, itu bukan momen fisik sebuah komet yang mendekat ke arah matahari, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan simbolik yang melampaui batas ruang dan waktu.
Jika boleh meminjam metafora Al-Qur’an lainnya, momen tersebut mungkin bisa disebut Nurun ‘ala Nur (24: 35); sebuah kondisi keberlimpahan cahaya yang demikian intens, hingga sebatang kayu yang kering sekalipun akan “terasa” menyala dan memancarkan pendarannya sendiri, bahkan sebelum api benar-benar menyentuhnya.
Namun, pertanyaan seriusnya, di manakah posisi kita dalam peta kosmologi ini? Jika kita memilih menjauh dari bimbingan cahaya tersebut, kita sebenarnya sedang mendekam di titik Aphelion yang sunyi. Tanpa menghayati pendaran Nur Muhammad, perjalanan kita menuju kesempurnaan akan terhenti; kita akan stuck sebagai kayu-kayu lapuk yang dingin dan membeku di ruang hampa yang gelap.
Tragedinya, kita sering kali merasa terlalu nyaman dengan standar kegelapan Aphelion. Kita hanya menunggu hari itu tiba: saat setiap jiwa dipaksa hadir di titik Perihelion, di hadapan Cahaya Mutlak, sementara kapasitas diri kita masih terjebak dalam standar Aphelion yang beku. Kisah kita akan seperti seorang murid yang dipaksa masuk ke ruang kalkulus, padahal selama hidup kita hanya mampu dan hanya mau menikmati standar calistung yang paling dasar.
