Mulla Sadra dan Rahasia Kebahagiaan Sejati

37 views

ISLAM LIVE- Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang memahami kebahagiaan sebagai keberhasilan mencapai hal-hal yang tampak di depan mata: kehidupan yang mapan, pekerjaan yang baik, keluarga yang harmonis, berlimpahnya materi atau ketenangan batin dari rutinitas keagamaan yang dijalankan dengan disiplin. Sebetulnya tidak ada yang keliru dengan semua itu. Namun, para pemikir besar dalam tradisi Islam mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kebahagiaan sejati hanya terletak pada apa yang kita lakukan, atau justru pada apa yang kita pahami tentang hidup ini?.

Filsuf Muslim besar Mulla Sadra menawarkan jawaban yang menarik. Menurutnya, inti kebahagiaan manusia bukan sebatas banyak berbuat, tetapi mencapai pemahaman yang benar tentang realitas, Tuhan, dan tujuan akhir kehidupan.

رأس السعادات و رئيس الحسنات هو اكتساب الحكمة الحقة

“Puncak kebahagiaan dan induk segala kebaikan adalah memperoleh hikmah sejati”. (Asrār al-Āyāt, 2)

Hikmah yang dimaksud bukan sekadar pengetahuan biasa, tetapi pemahaman tentang Allah, ciptaan-Nya, dan kehidupan setelah kematian. Dalam pandangan Mulla Sadra, pengetahuan semacam ini bukan sesuatu yang berhenti sebagai informasi, melainkan memiliki dampak langsung terhadap pembentukan diri manusia.

Baca Juga:  Saya sedang berbagi 'Filsafat Yunani' dengan Anda

Argumen pertama Mulla Sadra seolah-olah ingin mengatakan bahwa manusia memiliki potensi untuk berkembang melampaui sekadar keberadaan biologisnya. Ia bukan hanya makhluk yang makan, tidur, dan bekerja, tetapi memiliki jiwa rasional (al-nafs al-nāṭiqah) yang bisa naik menuju kesempurnaan. Ketika seseorang berpikir, merenung, dan mencari kebenaran, jiwanya mengalami transformasi. Dalam bahasa sederhana, orang yang sungguh-sungguh mencari pengetahuan sedang membangun kualitas batinnya. Karena itu, belajar dan berpikir bukan aktivitas eksklusif kaum akademik saja, melainkan bagian dari perjalanan menjadi manusia seutuhnya.

Kemudian, Mulla Sadra melihat bahwa agama sendiri justru mendorong manusia untuk berpikir. Ia membaca ayat-ayat Al-Qur’an tentang pengamatan terhadap langit, bumi, dan penciptaan sebagai ajakan untuk refleksi intelektual. Bahkan ia menegaskan bahwa perjalanan yang dimaksud Al-Qur’an bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan akal dan batin. Dari sini, Mulla Sadra melangkah lebih jauh dengan menempatkan pengetahuan batin sebagai inti dari kehidupan spiritual, bukan sekadar pelengkap dari amal keagamaan.

Baca Juga:  Cahaya, Tuhan, dan Cara Kita Melihat Dunia

العرفان هو الأصل و العمود و العمل فرع له

Ma‘rifat adalah pokok dan tiang utama, sedangkan amal adalah cabangnya.”(Asrār al-Āyāt, 4).

Argumen ini bukan berarti memandang amal menjadi tidak penting. Justru sebaliknya, amal memperoleh nilainya ketika ditopang oleh pemahaman. Seseorang bisa saja menjalankan rutinitas agama setiap hari, tetapi tanpa penghayatan dan kekhusyuan, semua itu dapat berubah menjadi kebiasaan yang flat dan kosong dari makna.

Penulis memandang, pesan Mulla Sadra terasa tetap relevan hingga hari ini. Di tengah kehidupan yang serba cepat dan canggih, manusia sering sibuk menjalani berbagai aktivitas tanpa sempat merenungkan untuk apa semua itu dilakukan, atau apa thelos yang ditafsirkan bermakna sehingga harus dikejar sedemikian brutalnya. Dari sudut pandang ini, kebahagiaan sejati bukan hanya tentang bergerak dan berbuat, tetapi juga tentang memahami arah perjalanan hidup itu sendiri.

 

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA