ISLAM LIVE — Santri adalah penempa diri di kawah candradimuka pesantren, sebuah institusi pendidikan tradisional Islam yang tidak hanya mengajarkan syariat, tetapi juga menanamkan penghayatan moral sebagai napas kehidupan sehari-hari. Sejalan dengan pemikiran Mastuhu (Dinamika Pendidikan Pesantren, 1994), pesantren bertujuan membentuk pribadi Muslim yang utuh: beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Sosok ini dirancang untuk menjadi abdi masyarakat sebagaimana teladan Nabi Muhammad saw, yakni pribadi yang mandiri, teguh prinsip, serta mencintai ilmu demi kejayaan umat dan bangsa.
Lebih dari sekadar institusi agama, pesantren adalah pilar “pendidikan karakter kebangsaan”. Pesantren mengajak bangsa ini untuk mandiri, bukan hanya secara ekonomi dan politik, tetapi juga dalam kebudayaan dan intelektualitas. Sebagaimana pembelaan Dr. Soetomo dan Ki Hajar Dewantara, pendidikan ini menanamkan kesadaran bahwa kita adalah bangsa berilmu yang memiliki tradisi luhur. Di sini, santri dididik untuk percaya diri melakukan kerja-kerja nyata berlandaskan dasar kehidupan berbangsa yang telah mengakar sejak fajar Islam menyapa Nusantara.
Berbekal pencerahan agama dan karakter kebangsaan, santri diharapkan hadir di tengah masyarakat sebagai uswatun hasanah—teladan yang membawa optimisme. Dalam konteks ini, santri adalah suluh atau penerang. Sebagai pembawa cahaya, santri bertugas menumbuhkan kesadaran akan kebenaran, membimbing umat menjauhi kemungkaran (munkar), dan mendekat pada kebaikan (ma’ruf).
Cahaya yang dibawa santri mencakup dua dimensi besar: kemanusiaan dan kemajuan.
Kemanusiaan: Pencerahan tersebut mengembalikan manusia pada fitrahnya yang luhur.
Kemajuan: Kesadaran fitrawi yang terhayati akan menggerakkan bangsa menuju arah yang lebih positif dan beradab, bukan justru terjebak dalam pembodohan politik.
Selama Al-Qur’an dan As-Sunnah diimani sebagai kompas kehidupan, maka segala solusi atas problematika zaman niscaya terkandung di dalamnya. Sebagai pewaris ilmu agama, santri mengemban amanah suci: membimbing masyarakat keluar dari belenggu kebodohan, memandu pertumbuhan bangsa yang bermartabat, dan menjadikan Indonesia sebagai bangsa berkarakter di mata dunia.
Tetapi naas, suluh rakyat itu kian redup, santri yang seharusnya dituntun dan digembleng terus menerus dengan ajaran-ajaran Islam agar tangguh dan menjadi mandraguna di dalam upaya untuk mengemban amanah suci, malah menjadi organum libido, seperti kasus yang terjadi di pesantren di Pati, dan beberapa di pesantren lain yang telah lebih dulu terbongkar, seperti kasus di Ponpes MTI Canduang, Kasus Ponpes Darul Jan Asidqiyah, dan Kasus HW di Bandung.
APA KABAR PESANTREN YANG LAIN??
