ISLAM LIVE – Ada fakta sejarah yang menarik dalam kisah masuknya Islam ke Jepang: Umar Yamaoka, pria Jepang yang berhaji pada 1909, bukan orang Jepang pertama yang diketahui memeluk Islam. Catatan sejarah Ottoman menunjukkan bahwa Shotaro Noda telah memeluk Islam pada 1891, hampir dua dekade sebelum perjalanan haji Yamaoka.
Jauh sebelum Yamaoka berangkat ke Makkah, jurnalis Jepang bernama Shōtarō Noda telah berinteraksi dengan dunia Islam di Istanbul, pusat Kesultanan Ottoman. Noda tiba di Istanbul pada 1891, mempelajari bahasa Turki, sejarah Ottoman, dan Islam. Pada tahun yang sama, ia memeluk Islam dan menggunakan nama Abdülhalim.
Temuan tersebut diperkuat oleh penelitian Nobuo Misawa dan Göknur Akçadağ yang diterbitkan pada 2007. Melalui dokumen-dokumen sejarah berbahasa Turki Ottoman, keduanya mengidentifikasi Noda sebagai orang Jepang pertama yang perpindahan agamanya ke Islam dapat dikonfirmasi berdasarkan bukti dokumenter yang ditemukan.
Temuan ini penting karena sejumlah tulisan terdahulu kerap menyebut Torajirō Yamada sebagai orang Jepang pertama yang memeluk Islam. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa identifikasi itu tidak didukung bukti yang lebih kuat dibandingkan dokumen mengenai Noda. Meski demikian, perlu dibedakan antara orang pertama yang memeluk Islam berdasarkan bukti sejarah yang tersedia dan orang pertama yang benar-benar memeluk Islam sepanjang sejarah. Keterbatasan arsip membuat klaim mengenai siapa yang paling pertama harus disampaikan secara hati-hati.
Kisah Noda dan Yamaoka memperlihatkan bahwa sejarah Islam di Jepang tumbuh melalui berbagai jalur, termasuk perjalanan, pendidikan, interaksi budaya, dan hubungan personal. Noda menjadi contoh perjumpaan melalui lingkungan intelektual dan kehidupan di Istanbul, sementara Yamaoka menunjukkan bagaimana perjalanan haji dapat menjadi pengalaman yang mempertemukan seseorang dengan komunitas Muslim lintas negara.
Keduanya mewakili dua tonggak berbeda dalam sejarah Islam Jepang: Noda melalui perjumpaan intelektual dan keagamaan di Istanbul, sedangkan Yamaoka melalui perjalanan menuju dua kota suci, Makkah dan Madinah. Kisah mereka pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang siapa yang lebih dahulu, melainkan tentang dua pintu berbeda yang menghubungkan Jepang dengan dunia Islam: perjalanan menuju Tanah Suci dan pencarian pengetahuan di pusat peradaban Muslim.
