Dalam peta pemikiran Islam kontemporer, aliran Filsafat Neo-Sadrian menempati posisi yang unik. Ia tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari kesadaran akan perlunya pembaruan atas warisan besar Mulla Sadra—filsuf Syi’ah abad ke-17 yang berhasil menyatukan rasio, intuisi, dan wahyu dalam sebuah sintesis spektakuler yang disebut al-Hikmah al-Muta’aliyah. Namun warisan sebesar itu bisa dengan mudah menjadi fosil intelektual jika tidak terus dihidupkan oleh generasi penerus. Dan di sinilah peran Muhammad Husain Thabathaba’i—tokoh yang lahir di Tabriz pada 1892 dan wafat di Qom pada 1981—menjadi sangat sentral. Ia bukan sekadar pengomentar setia Mulla Sadra. Ia adalah sang pembaru yang menyaring, merampingkan, dan membuka dialog antara filsafat Sadrian dengan dunia modern. Dari tangannyalah lahir karya-karya ringkas seperti Bidayah al-Hikmah dan Nihayah al-Hikmah yang meringkas ribuan halaman al-Asfar al-Arba’ah menjadi esensi-esensi yang bisa dicerna oleh generasi baru. Ia juga yang berani membandingkan filsafat Islam dengan aliran-aliran Barat dalam Ushul-e Falsafeh. Thabathaba’i mendirikan sebuah panggung. Dan di panggung itulah empat murid utamanya kemudian tampil dengan warna dan corak masing-masing.
Yang pertama adalah Murtadha Muthahhari, lahir di Fariman pada 1919. Ia berbeda dari ketiga rekannya karena nasib tragis yang mengantarnya pada kematian dini. Seorang anggota kelompok teroris Furqan menembaknya pada 1979, tepat setelah revolusi Islam Iran berhasil. Namun sebelum ajal menjemput, Muthahhari telah menjadi salah satu pemikir paling produktif dan berpengaruh di zamannya. Dua belas tahun belajar filsafat dari Imam Khomeini sebelum bergabung dengan lingkaran Thabathaba’i memberinya bekal yang langka: ia tidak hanya paham filsafat Sadrian, ia juga paham secara mendalam aliran-aliran Barat. Dan inilah ciri paling khas dari Muthahhari: ia adalah seorang kritikus. Ia tidak sekadar menjelaskan pemikiran Hume, Kant, atau Hegel. Ia memasuki ruang debat mereka, mempertaruhkan argumentasi filsafat Islam di hadapan rasionalisme dan empirisisme Barat, serta dengan tegas menolak materialisme dialektika Marxis. Karyanya yang merupakan komentar atas Ushul-e Falsafeh Thabathaba’i menjadi bukti terbaik dari keberanian intelektual ini. Ia tidak membangun tembok pemisah antara Timur dan Barat. Ia membuka pintu, lalu bertarung di ambang pintu itu.
Yang kedua adalah Hasan Zadeh Amoli, lahir di Amol pada 1928. Jika Muthahhari adalah figur yang tajam dan militan, Hasan Zadeh adalah sosok yang lebih kontemplatif, lebih menyelam ke kedalaman jiwa. Keahliannya tidak terbatas pada filsafat. Ia menguasai sastra Arab dan Persia, fiqh, hadits, tafsir, logika, irfan, matematika, astronomi, pengobatan, hingga ilmu-ilmu esoterik. Dan yang menarik, ia tidak merasa perlu memisahkan semua itu ketika menulis filsafat. Berbeda dari gurunya, Thabathaba’i, yang dengan sengaja memurnikan diskursus filsafat dari argumen-argumen sufistik atau sastra, Hasan Zadeh justru dengan leluasa menghadirkan puisi, pengalaman mistis, dan teks wahyu dalam karya-karyanya. Baginya, rasio bukanlah satu-satunya jalan menuju kebenaran. Ada pengetahuan langsung, ada rasa, ada dzauq—dan semua itu sah untuk dibicarakan dalam ranah filsafat. Perhatian utamanya adalah pada filsafat jiwa. Karya-karyanya seperti Ittihad ‘Aqil bi Ma’qul, Durus Ma’rifat al-Nafs, dan al-Hujaj al-Balighah ‘ala Tajarrud al-Nafs al-Natiqah menegaskan bahwa ia mewarisi kegelisahan Sadra tentang hubungan antara subjek yang mengetahui, objek yang diketahui, dan pengetahuan itu sendiri. Namun ia tidak terlalu memperhatikan filsafat Barat. Sekalipun fasih berbahasa Perancis, Hasan Zadeh memilih untuk tidak membuang waktunya pada diskursus yang menurutnya asing bagi tradisi hikmah Islam. Ia lebih suka menggali sumurnya sendiri, di tanahnya sendiri.
Yang ketiga adalah Javadi Amoli, juga lahir di Amol, pada 1933. Di antara keempat murid Thabathaba’i, ia mungkin yang paling dikenal sebagai otoritas publik. Ia bukan hanya seorang filsuf dan ahli tafsir, ia juga seorang marja’ taqlid—rujukan tertinggi dalam hukum Islam yang diikuti oleh jutaan orang. Ini adalah pencapaian yang sangat langka: menggabungkan ketinggian spekulasi metafisika dengan otoritas praktis dalam menentukan halal dan haram. Bahkan Imam Khomeini memilihnya untuk menyampaikan surat dakwah kepada Mikhail Gorbachev, pemimpin Soviet kala itu. Di bidang filsafat, Javadi Amoli adalah pewaris paling setia dari metode Thabathaba’i. Karyanya yang paling monumental adalah Rahiq-e Makhtum, sebuah komentar ekstensif atas al-Asfar Mulla Sadra. Dan di dalamnya ia menunjukkan disiplin yang ketat: ia tidak mencampurkan filsafat dengan diskursus-diskursus lain. Ia membiarkan rasio bekerja dengan alatnya sendiri. Ia juga tidak begitu peduli pada filsafat Barat. Baginya, tradisi hikmah Islam sudah cukup kuat untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Tidak perlu pencampuran yang dipaksakan. Tidak perlu dialog yang timpang.
Yang keempat adalah Taqi Mishbah Yazdi, lahir di Yazd pada 1934. Ia adalah adik bungsu dari rombongan ini dalam hal usia, tetapi tidak kurang dalam hal kedalaman. Sama seperti ketiga rekannya, ia belajar tafsir, etika, irfan, dan filsafat dari Thabathaba’i. Namun yang membuatnya khas adalah kejelasannya. Eshkevari menyebut bahwa salah satu ciri utama filsafat Mishbah Yazdi adalah kejelasan analisis konsep dan terma. Ia tidak membiarkan ambiguitas. Setiap perdebatan dimulai dengan pemosisian persoalan yang tegas, sehingga pembaca tidak pernah tersesat di tengah jalan. Ia juga—seperti Muthahhari—memberikan perhatian serius pada kritik filsafat Barat. Karyanya, Amuzesy-e Falsafeh, dengan jelas menunjukkan corak ini. Namun ia bahkan lebih keras dari Muthahhari dalam mempertahankan batas-batas antara filsafat dan argumen-argumen non-filosofis. Ia, seperti Thabathaba’i, berusaha menjaga filsafat sebagai diskursus rasional murni. Ia tidak suka mencampurkan hikmah dengan cerita-cerita mistis yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara logis.
Melihat keempat tokoh ini berdampingan, kita melihat sebuah panorama yang kaya dan beragam. Muthahhari yang kritis dan berani berdebat dengan Barat. Hasan Zadeh yang luas, puitis, dan tidak peduli pada perbatasan disiplin. Javadi Amoli yang otoritatif, disiplin, dan setia pada metode gurunya. Mishbah Yazdi yang jernih, tegas, dan analitis. Mereka semua belajar dari satu guru yang sama, tetapi mereka mengambil jalan yang berbeda. Thabathaba’i tidak pernah memaksa murid-muridnya untuk menjadi karbon kopi dirinya. Ia membiarkan mereka berkembang sesuai dengan bakat, minat, dan khazanah yang mereka miliki. Dan justru karena itulah Filsafat Neo-Sadrian tidak mati. Ia terus hidup dalam berbagai warna.
Apa yang bisa kita pelajari dari ini? Pertama, bahwa sebuah tradisi filsafat tidak bertahan dengan ortodoksi kaku, melainkan dengan keberanian untuk bernapas dalam konteks baru yang terus berubah. Thabathaba’i dan murid-muridnya membuktikan bahwa Mulla Sadra tidak perlu dibaca sebagai kitab suci yang haram ditafsir ulang. Ia bisa diringkas, dikritik, dikembangkan, bahkan dikonfrontasikan dengan pemikiran asing. Kedua, bahwa menjadi murid bukan berarti kehilangan diri. Keempat tokoh di atas memiliki ciri khas masing-masing yang sama sekali tidak mengurangi kesetiaan mereka pada tradisi yang mereka warisi. Mereka tidak menjadi “Thabathaba’i kecil”. Mereka menjadi Muthahhari, Hasan Zadeh, Javadi Amoli, dan Mishbah Yazdi dengan segala keunikan mereka. Ketiga, bahwa filsafat yang sehat adalah filsafat yang terus berdebat dengan dirinya sendiri, terus diperkaya oleh persinggungan dengan disiplin lain, dan tidak takut pada kritik. Muthahhari dan Mishbah Yazdi tidak minder di hadapan Hume atau Kant. Mereka membaca, memahami, lalu merespons.
Di akhir hayatnya, Thabathaba’i mungkin tidak pernah membayangkan bahwa empat muridnya akan menyebar ke empat penjuru yang berbeda. Namun justru itulah yang membuat warisannya tetap hidup: ia menanam satu pohon, tetapi pohon itu menghasilkan bunga dengan warna yang berbeda-beda. Dan setiap bunga itu, dengan caranya masing-masing, tetap memancarkan wanginya sendiri—bau yang sama yang dulu pernah dihirup oleh Mulla Sadra di Isfahan, berabad-abad yang lalu.
