Sejarah yang Terlupa: Jejak Besar Ulama Sunni dari Persia Sebelum Era Safawi

30 views
Bangunan indah di Iran. (foto: istimewa)

ISLAM LIVE – Iran kerap dipersepsikan sebagai pusat Syiah dalam dunia Islam. Namun di balik identitas tersebut, tersimpan sejarah panjang yang menunjukkan bahwa wilayah Persia pernah menjadi salah satu pilar utama perkembangan tradisi keilmuan Sunni.

Pandangan yang menyederhanakan Iran sebagai identik dengan Syiah dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kompleksitas sejarah Islam.

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Mohammad Syifa Amin Widigdo, menegaskan bahwa Persia justru pernah menjadi salah satu pusat penting dalam perkembangan Islam Sunni.

Dalam sebuah podcast di kanal Wonderhome Library pada Jumat (1/5/2026), Widigdo menjelaskan bahwa transformasi Iran menjadi basis Syiah baru terjadi pada era Dinasti Safawi, khususnya setelah Syah Ismail I menetapkan Syiah Dua Belas Imam sebagai identitas resmi negara usai menaklukkan Tabriz.

“Sebelum itu, Persia adalah salah satu pusat lahirnya ulama-ulama besar Sunni yang berpengaruh luas dalam tradisi keilmuan Islam,” ujarnya.

Menurutnya, wilayah-wilayah seperti Khurasan, Naisabur, Rayy, hingga Syahrazur bukan sekadar titik geografis, melainkan episentrum intelektual yang melahirkan tokoh-tokoh penting dalam berbagai disiplin ilmu keislaman.

Baca Juga:  AS Balas Proposal Damai Iran, Teheran Mulai Kaji Isi Respons Washington

Ia kemudian memetakan kontribusi tersebut melalui lima figur kunci yang merepresentasikan perkembangan keilmuan Sunni secara berlapis.

Dimulai dari Ibnu Salah Asy-Syahrazuri, yang dikenal sebagai peletak dasar metodologi hadis melalui karyanya Muqaddimah Ibnu Salah. Karya ini menjadi fondasi penting dalam ilmu musthalah hadis, terutama dalam klasifikasi dan verifikasi riwayat.

Berikutnya, Abul Qasim Al-Qusyairi, tokoh tasawuf Sunni yang menekankan harmoni antara dimensi spiritual dan syariat dalam Ar-Risalah al-Qusyairiyah.

Pada ranah teologi, Fakhruddin Ar-Razi tampil sebagai figur yang membawa pendekatan rasional dan filosofis dalam ilmu kalam. Tafsir monumentalnya, Mafatih al-Ghaib, menunjukkan keluasan perspektif dalam memahami teks keagamaan.

Sementara itu, Imam Al-Haramain Al-Juwaini memainkan peran penting dalam merumuskan metodologi ushul fikih melalui karya Al-Burhan fi Ushul al-Fiqh, yang kemudian memengaruhi generasi setelahnya.

Puncaknya, Abu Hamid Al-Ghazali hadir sebagai sosok yang menyatukan berbagai cabang ilmu Islam. Melalui karya seperti Ihya’ Ulum al-Din, ia berhasil merajut fikih, tasawuf, dan filsafat dalam satu kerangka pemikiran yang utuh.

Baca Juga:  Abu Ubaid al-Juzjani: Murid dari Sang Punggawa Filsafar Ibnu Sina

Menurut Widigdo, jika kelima tokoh ini dilihat dalam satu garis perkembangan, akan terlihat peta besar evolusi intelektual Sunni—dari penataan otoritas hadis, penguatan spiritualitas, rasionalisasi teologi, hingga sintesis keilmuan.

“Ini menunjukkan bahwa fondasi keilmuan Islam tidak dibangun oleh satu wilayah saja, melainkan oleh jaringan ulama lintas kawasan. Persia punya kontribusi besar dalam hal itu,” jelasnya.

Ia pun mengingatkan bahwa melihat Iran hanya dari perspektif pasca-Safawi berisiko menyederhanakan sejarah yang jauh lebih kompleks dan kaya.

Lebih dari itu, lima tokoh yang disebutkan hanyalah sebagian kecil dari banyaknya ulama Sunni yang lahir dari kawasan Persia. Karena itu, Widigdo mendorong masyarakat untuk membuka kembali lembaran sejarah yang sering kali terabaikan.

“Sejarah Islam itu luas dan berlapis. Kita perlu melihatnya secara utuh, bukan hanya dari satu narasi,” ujarnya.

Pemaparan ini diharapkan dapat memperkaya cara pandang publik, sekaligus menegaskan bahwa peradaban Islam dibangun melalui kontribusi lintas wilayah yang saling terhubung dan saling menguatkan.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA