Neraca Yang Adil: Membela Hadis-Hadis Di Kitab Ihya Ulumuddin

10 views

ISLAM LIVE – Ihya Ulumuddin adalah salah satu kitab masterpiece terbaik yang pernah ditulis oleh Hujjatul Islam Abu Hamid Al Ghazali.

Kenapa saya bilang terbaik? sebab kitab Ihya Ulumuddin ini memiliki pengaruh besar bagi dunia Islam. Kitab ini telah dibaca dan komentari oleh banyak ulama lintas madzhab. Maulana Muhsin Kasyani, seorang Ulama besar Syiah pernah mensyarah kitab ini dan Imam Khomeini maupun Ayatullah Murtadha Muthahhari kerap mengutip tulisan dalam kitab Ihya. Dengan demikian kitab ini merupakan buku rujukan yang diterima secara universal di dunia Islam.

Bagi saya buku ini sangat bagus dibaca bagi kalangan awam yang mau memahami Islam secara lengkap. Tata bahasanya bagus, sistematikanya indah, hadis dan atsar yang melimpah, dia tak ditulis kecuali atas bimbingan Allah.

Tapi belakangan kitab ini sering dilecehkan dan disepelekan oleh orang orang bodoh. mereka yang tercemar oleh narasi kedunguan dari ustadz ustadz dadakan atau ustadz magang yang seenaknya memfitnah seluruh hadis hadis dalam kitab Ihya adalah palsu dan batil.

Tanpa mengetahui akar masalah, banyak influencer dan netizen secara sembrono menyebut bahwa kitab Ihya tercemari hadis palsu sehingga tak layak dijadikan referensi.

hal ini yang membuat saya tergelitik untuk menulis jawaban kepada mereka yang mencela hadis hadis dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Al Ghazali.

Sebagai informasi banyak ulama telah melakukan takhrij atau penelitian terhadap hadis hadis di kitab Ihya Ulumuddin.

Yang pertama adalah Ibnu Jauzi, ulama besar hadis pengarang kitab Maudhu’at dan Talbis al Iblis ini memiliki komentar negatif terhadap Al Ghazali,

Bahkan beberapa orang di internet menyebut Al Ghazali tak mengetahui ilmu hadis dinukil dari Ibnu Jauzi ini.

Setelah Ibnu Jauzi, Ulama lain seperti Zainuddin Al Iraqi atau Al Iraqi mencoba meneliti hadis hadis di kitab Ihya Ulumuddin secara lebih adil dan teliti di Kitabnya Al Mughni fi Haml al Asfar fil Asfar fi Takhrij ma fi Ihya min Akhbar.

Setelahnya, muncul Al Imam Murtadha Az Zabidi yang menyempurnakan takhrij al Iraqi untuk menjawab tuduhan bahwa Al Ghazali menyebar hadis palsu. Penelitian yang objektif ini dituangkan Al Zabidi dalam kitabnya Ihtaf al Sadat al Muttaqin bi Syarh Asrar Ihya Ulumuddin.

Para ulama hadis yang mentakhrij kitab Ihya Ulumuddin sepakat bahwa kitab tersebut memuat sebanyak 5600 riwayat hadis yang diulang, sedangkan jika tanpa pengulangan mencapai 4848 riwayat. Ini setara dengan jumlah hadis di kitab kitab Sunan, seperti Sunan Ibnu Majah atau Sunan Baihaqi.

Al Iraqi yang meneliti hadis Ihya Ulumuddin mengatakan bahwa dari 5600 hadis, 2000an hadis telah diteliti dan ia nilai shahih.

Sisanya adalah hadis hadis yang dikutip oleh Imam Ghazali dari berbagai kitab hadis seperti Imam Abi Dunya, Ad Dailami yang menulis Musnad Firdawsi dan lain sebagainya.

Dari 5000an hadis, Al Iraqi menyatakan sekitar 200 hadis di kitab Ihya adalah palsu dan tak memiliki asal usul. Setelah Era Al Iraqi, Tajuddin As Subki dan Murtadha Az Zabidi ikut mentakhrij 200 hadis hadis palsu dalam Kitab Ihya, walhasil mereka berhasil menemukan sanad dari 200 hadis tersebut dan hanya sekitar 20 hadis saja yang dinyatakan palsu.

Baca Juga:  Refleksi Hadis: Saat Jubah Agama Dipakai Menipu Umat

Dengan demikian seluruh hadis hadis Ihya Ulumuddin bisa menjadi sandaran dan pegangan. Sebab terbukti hadis hadis dalam Kitab Ihya adalah Makbul dan bisa diterima.

Adapun 20 hadis palsu di dalamnya, kami akan membuktikan 2 contoh sampel hadis yang dituduh palsu tersebut dan mencoba membuktikan apakah benar Al Ghazali menukil hadis palsu atau malah membuat buat hadis palsu?

Neraca Yang Adil

Banyak pengkritik Al Ghazali, khususnya dari kalangan Wahabi Salafi menyebut Al Ghazali tak belajar Ilmu hadis dan suka menukil hadis dengan riwayat yang berbeda dengan yang tertulis di kitab-kitab.

Untuk menjawab hal ini tentu harusnya mereka meneliti lebih mendalam sebelum menyebar fitnah yang keji. Hujjatul Islam Al Ghazali mempelajari ilmu hadis secara tawattur dan bersanad, ia belajar dan mendapatkan ijazah Shahih Muslim dari Al Hafidz Abu Faytan.

Tajduddin As Subki juga mengatakan bahwa Al Ghazali juga berguru kitab Shahih Bukhari kepada Abu Sahl Muhammad bin Abdullah Al Hafsi serta mendapat ijazah sanad Sunan Abu Dawud dari Hakim Abu Fath Al Hakimi.

Jika kita melihat Sanad keilmuan hadis Al Ghazali, jelas sekali Hujjatul Islam memiliki banyak guru yang sanadnya kuat tersambung ke Rasulallah. Bahkan para guru Al Ghazali lebih kuat ketimbang Syekh Nashiruddin Al Albani yang belajar hadis tanpa guru dan hanya punya 1 ijazah saja.

Terkait tuduhan kedua, dimana Al Ghazali banyak meriwayatkan hadis yang syadz atau berbeda lafadznya, maka untuk menjawabnya kami menukil Seorang Ulama Salaf, Muhammad bin Sirin yang berkata: “Saya mendengar hadis dari 10 sahabat, Maknanya Satu tapi teks (kalimatnya) berbeda-beda” 

Dengan demikian, Al Ghazali dalam meriwayatkan hadis di kitab Ihya tidak bergantung pada teks tapi pada makna teksnya, karena itu Al Iraqi secara sopan berkata ” Lam Ajidhu bihaza Lafzy” (belum saya temukan riwayat dengan lafaz seperti ini). Ini menandakan bahwa Al Ghazali berfokus pada makna hadis bukan teks hadis.

Jadi tuduhan bahwa Al Ghazali tak belajar hadis dan meriwayatkan hadis hadis ganjil terbantahkan. Lagi pula bagaimana seorang Al Ghazali bisa dijuluki Hujjatul Islam dan rujukan hukum Islam di zamannya jika dia tak mengetahui hadis?

Berikut kami tampilkan dua sampel hadis yang sering dijadikan “alat bukti” para haters Hujjatul Islam yang memfitnah bahwa Al Ghazali membuat hadis hadis palsu di kitabnya.

 

Hadis pertama,Di antara cobaan orang yang berilmu adalah lebih senang berbicara daripada mendengarkan”

Hadis ini diriwayatkan dari Muaz bin Jabal dan dicantumkan oleh Imam Ghazali dalam bab ulama al akhirah, dan ibnu Jauzi dalam kitab Maudu’at.

Ibnu Jauzi berkata: bahwa hadis ini batil baik sebagai sabda Nabi Muhammad atau ucapan sahabat. Dari segi sanad, Ibnu Jauzi menemukan nama-nama yang dianggap bermasalah, seperti Khalid bin Yazid. Ibnu Main dan Abu Hatim Al Razi menyebut Khalid sebagai “dia sangat dhaif/lemah”.

Selain itu juga terdapat perawi bernama Jabarah bin Mughalis yang menurut Abdullah bin Ahmad banyak hadis hadis yang dia riwayatkan adalah palsu. Perawi lainnya Mindal bin Ali dikomentari oleh Ibnu Hibban: Dia layak ditinggalkan (matruk).

Baca Juga:  Ketika Tanpa Sadar Kita Hanya Mengikuti Atau Meninggalkan "Jejak" Tak Bermakna

Namun para muhaddits belakangan membela riwayat tersebut, Dan menyebut riwayat itu adalah riwayat mauquf yang dinukil oleh Al Ghazali.

Syekh Ali Al Kannani dalam kitab Tanzih Al Syariah meninjau ulang Riwayat di atas dan kesimpulannya hadis di atas statusnya dhaif bukan maudhu atau palsu.

Sebab Jabarah adalah perawi yang dikutip hadisnya oleh Imam Ibnu Majah sebanyak 22 kali. Ibnu Namir berkata: Jabarah dia orang yang sangat jujur (shaduq), Maslamah Bin Qasim berkata: dia terpercaya, insyaallah.

Sedangkan Mindal bin Ali menurut Ibnu Main:” tidak ada kesalahan berarti, hadisnya boleh di tulis”. sedangan Ibnu Sa’d dalam Thabaqatnya berkata bahwa Mindal adalah lemah (dhaif).

Selain itu, Al Ghazali mengambil hadis itu dari dua jalur, pertama dari jalur Muaz bin Jabal yang kedua dari ulama Tabi’in Yazid bin Abi Habib secara mursal.

Saya cenderung kepada pandangan ulama ahlu hadis salaf bahwa ini adalah ucapan Muaz bin Jabal ra dan tidak marfu ke Nabi.

Dengan kata lain ini bukanlah riwayat palsu (maudhu) yang di ada-adakan, kadang para ahli hadis ada yang khilaf menganggap ucapan sahabat mulia dimarfukan ke Nabi.

 

Hadis kedua , “janganlah kalian duduk di sanding orang yang berilmu kecuali ia mengajak 5 hal ke 5 hal yang lain; yaitu dari ragu menjadi yakin, dari pamrih menuju ikhlas, dari cinta materi menjadi zuhud, dari sombong menjadi rendah hati, dari permusuhan menjadi saling menasehati.”

Ibnu Jauzi berkata ini bukan sabda Nabi Muhammad tetapi pengkhotbah bernama Syaqiq yang mana ia memiliki ribuan murid dan murid-muridnya mengira bahwa ini adalah hadis Nabi.

Tetapi Imam Suyuthi memiliki hadis dengan makna serupa dengan jalur sanad yang berbeda yaitu dari Ibnu Najjar yang dinukil dari Jabir ra yang secara marfu ke Rasulallah.

janganlah kalian duduk bersama orang yang memiliki ilmu kecuali orang alim yang mengajak dari 5 hal menuju 5 hal lainnya; dari cinta dunia kepada zuhud, dari sombong kepada rendah hati, dari permusuhan kepada cinta, dari bodoh menjadi ilmu, dari kekayaan menjadi hemat.” (HR. Ibnu Najjar dan Suyuthi)

Melihat adanya syawahid (penguat) dari Ibnu Najjar yang dinukil oleh As Suyuthi, maka ini menguatkan riwayat yang dicantumkan oleh Imam Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddin. Dimana riwayat tersebut bukan ucapan Syekh Syaqiq melainkan hadis marfu kepada Nabi meskipun riwayat tersebut lemah (Dhaif).

Semua ulama baik Madzhab Ahlussunah dan Madzhab Ahlulbait sepakat bahwa hadis dhaif tetaplah hadis yang bisa jadi diucapkan Nabi Muhammad SAAW, hadis dhaif berbeda dengan hadis palsu atau riwayat maudhu yang tidak boleh dinisbatkan kepada Nabi maupun disebut riwayat Nabi.

Karena itu, tuduhan kaum Salafi Wahabi bahwa Imam Al-Ghazali membuat hadis palsu di dalam Ihya Ulumuddin jelas terlalu berlebihan dan tidak ilmiah.

Justru jika diteliti secara objektif, mayoritas hadis dalam kitab Ihya tetap otentik, memiliki asal-usul riwayat, dan layak dijadikan pegangan dalam masalah akhlak, zuhud, penyucian jiwa, dan pendidikan spiritual umat Islam.*

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA