ISLAM LIVE – Dalam karya sejarah yang kaya ini, Edward E. Curtis berfokus pada kisah para imigran Muslim Suriah abad ke-20 yang menetap di beberapa negara bagian di wilayah Midwest Amerika Serikat, termasuk Dakota Selatan, Dakota Utara, Iowa, dan Indiana.
Sebagian besar narasi dimulai dengan bagaimana Muslim Suriah datang ke AS untuk mencari kehidupan yang lebih baik dan kemudian berlanjut ke proses adaptasi serta pembangunan komunitas mereka di wilayah tersebut.
Buku ini diawali dengan pengalaman yang tak terlupakan bagi penulis sendiri, yang menyatakan bahwa nenek dari pihak ibunya yang merupakan keturunan Suriah-Lebanon selalu mengajarkannya untuk menjadi “orang Arab yang bangga” saat ia tumbuh besar di Illinois selatan.
Curtis kemudian melacak warisan Suriah Midwest-nya ke keluarga Hamaway dan Samaha, yang pertama kali menetap di wilayah tersebut pada akhir 1800-an. Sejalan dengan sejarah pribadi dan keluarga Curtis, kerangka buku ini dibagi menjadi dua bagian kronologis, yang mencakup tahun 1900 hingga Perang Dunia I dan tahun 1920-an hingga Perang Dunia II, diikuti oleh kesimpulan yang menjembatani hingga tahun 1950-an.
Pada bagian pertama, yang mencakup tahun antara 1900 dan Perang Dunia I, terdapat beberapa narasi yang berfokus pada pembentukan awal imigran Muslim Suriah di AS.
Sebagai contoh, Alex Ogdie, yang namanya tidak begitu dikenal dalam narasi umum sejarah Amerika, memulai perjalanannya sebagai pedagang keliling dan mengelola lahan pemukiman di bagian barat Dakota Selatan, sebelum akhirnya diberikan paten tanah atas lahan seluas 120 hektar miliknya pada tahun 1909.
Biografi Joe Hassan Chamie juga sangat instruktif. Sebagai seorang Muslim Suriah yang menjadi warga negara AS pada tahun 1918 setelah direkrut menjadi militer, pengorbanannya bagi negara dibalas dengan dimakamkan di bawah salib Kristen.
Kisah-kisah ini mencerminkan perjuangan banyak Muslim Suriah pada periode itu, karena mereka sering menghadapi diskriminasi dan persepsi yang menyesatkan dari sesama warga negara.
Terdapat juga narasi luas mengenai pertumbuhan bisnis milik Muslim dan pembentukan jaringan komunitas dalam bab 3, mengikuti kisah Hassen Sheronick. Ia adalah satu dari beberapa orang Suriah yang mengoperasikan toko barang kelontong, yang termasuk di antara 3.162 bisnis milik orang Suriah di AS pada saat itu.
Toko Sheronick menawarkan kredit kepada banyak pedagang keliling Suriah, tetapi pengaruhnya lebih dari sekadar itu; ia juga berperan sebagai pelatih bisnis dan memberikan frasa-frasa berguna dalam bahasa Inggris untuk digunakan selama di perjalanan.
Pada bagian kedua, yang mencakup tahun 1920-an hingga Perang Dunia II, narasi berpusat pada perjuangan ekonomi selama era Depresi Besar dan dampaknya terhadap komunitas Muslim Suriah, terutama di sektor pertanian.
Bab-bab dalam bagian ini berfokus pada narasi Boaley Farhat, seorang pasifis yang menentang segala jenis perang, diikuti oleh bagian mengenai efek dari Program Pemanfaatan Lahan (LUP), yang akhirnya mengambil alih tanah yang belum digunakan untuk tujuan pertanian dan mengubahnya menjadi lahan penggembalaan.
Lebih lanjut, bagian ini juga membahas mengapa komunitas Muslim Suriah di Ross tidak mampu mempertahankan diri, karena beberapa anggotanya berpindah keyakinan ke Kristen.
Dalam bab enam, Curtis menjelaskan ekspansi bisnis grosir dan pertumbuhan kantong-kantong Muslim di kota-kota Midwest seperti Cedar Rapids, Iowa, melalui narasi individu seperti Hassan Igram, yang memperluas toko grosir milik orang Suriah dengan membeli lokasi tambahan dan bekerja sama dengan keluarga Sheronick serta yang lainnya untuk mengoordinasikan pemasaran dan pembelian bagi toko-toko milik orang Suriah di seluruh wilayah.
Meskipun diskriminasi terhadap orang Suriah dan orang Amerika lainnya yang dianggap “asing” mengancam untuk merampas status sosial mereka sebagai “orang kulit putih”, Curtis juga menunjukkan bagaimana generasi kedua imigran Suriah mendirikan lembaga budaya dan keagamaan yang lebih kuat sambil mencoba berintegrasi ke dalam masyarakat Amerika.
Narasi Aliya Ogdie Hassen, salah satu pemimpin komunitas Muslim Arab Amerika paling luar biasa di abad ke-20, berfungsi sebagai contoh yang baik dari upaya tersebut. Berbagai narasi yang disajikan Curtis memberikan wawasan instruktif mengenai bentuk dan substansi kehidupan Muslim di wilayah “pusat” (heartland) Amerika.
Pertama, Curtis menyoroti sejarah komunitas Muslim Suriah di Midwest yang masih kurang diteliti, meskipun mereka memainkan peran khusus dalam membentuk identitas regional dan nasional dari sana.
Curtis juga menunjukkan bahwa banyak ayah dari keluarga Suriah yang sangat berdedikasi pada pendidikan putri mereka, mencerminkan dedikasi terhadap peningkatan status sosial keluarga dan berkontribusi pada narasi yang lebih luas tentang komunitas Muslim yang berintegrasi ke dalam, serta memengaruhi, kepekaan kelas menengah dan atas Amerika.
Dedikasi ini membantu menanamkan nilai-nilai Muslim ke dalam struktur wilayah Midwest, memengaruhi identitas regional dan nasional dari pusat negeri. Lebih lanjut, hal ini menunjukkan kepada kita bagaimana Muslim Suriah tidak datang hanya demi bertahan hidup semata; sebaliknya, mereka mengejar kehidupan yang kaya dan penuh serta ingin meninggalkan warisan mereka sendiri.
Selain itu, fokus pada detail terperinci dari kehidupan imigran Muslim di Midwest membuat buku ini berbeda, memungkinkan pembaca untuk melihat, mendengar, merasakan, dan bahkan mencium seperti apa rasanya menjadi salah satu karakter dalam buku tersebut.
Perpaduan kisah pribadi dengan analisis akademis yang dilakukan Curtis secara afektif dan efektif menjelaskan rasa komunitas Muslim yang kuat dan adaptasi terhadap kondisi sosiopolitik pada masa itu.
Selain itu, upayanya untuk menghindari bahasa yang terlalu akademis memudahkan orang-orang yang bukan profesor untuk mengapresiasi sejarah tersebut.
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah penggunaan riset arsip dan sejarah lisan yang ekstensif oleh penulis, sembari juga menyajikan beberapa foto asli dari berbagai sumber, termasuk Museum Sejarah Arab Amerika dan Arsip Sejarah Negara Bagian Dakota Utara.
Poin kuat lainnya dari buku ini adalah penulis menonjolkan peran perempuan, menunjukkan bagaimana mereka juga memainkan peran penting dalam menjaga jaringan keluarga dan komunitas.
Melalui catatan Curtis, pembaca dapat lebih memahami bagaimana perempuan Suriah yang tiba di Dakota Selatan, seperti banyak perintis perempuan lainnya, sering kali merupakan sosok yang kuat dan mandiri yang, sejauh yang mereka bisa, menentukan jalan dan masa depan mereka sendiri.
Namun, penelitian lebih lanjut mengenai contoh hubungan antarkomunitas antara Muslim Suriah dengan non-Muslim serta komunitas imigran lainnya di Midwest masih perlu dilakukan.
Meskipun saya memahami bahwa titik fokus buku ini berkisar pada sejarah Muslim Suriah, contoh tambahan mengenai hubungan antarkomunitas dapat memberikan lebih banyak perspektif tentang bagaimana komunitas Muslim Suriah di Midwest berinteraksi dengan komunitas-komunitas tersebut dan lebih memperjelas narasi yang disajikan Curtis.
Pada akhirnya, Muslims of the Heartland memberikan pembaca pemahaman yang lebih kaya tentang sejarah imigran di Midwest AS, terutama dari sudut pandang Muslim Suriah.
Penulis menunjukkan bagaimana komunitas Muslim Suriah di Midwest merupakan bagian integral dari pengembangan identitas regional dan nasionalnya serta memainkan peran penting dalam perkembangan masyarakat Amerika.
Buku ini akan terbukti berharga bagi para sejarawan, mahasiswa studi agama, dan orang-orang yang tertarik pada sejarah imigrasi Amerika yang lebih luas—di wilayah Midwest dan sekitarnya.
Karya Curtis akan diapresiasi bukan hanya karena kemampuan berceritanya yang tajam dan riset mendalamnya terhadap komunitas Muslim Suriah, tetapi juga karena kemampuan buku ini untuk memperkaya pemahaman kita tentang sejarah budaya dan agama yang beragam di pusat Amerika.
