Mabda’: Tentang Awal yang Menjelaskan Seluruh Perjalanan Hidup 

11 views

ISLAM LIVE– Setiap manusia pernah sampai pada satu pertanyaan yang sama: dari mana semua ini bermula?

Pertanyaan itu muncul saat menatap langit malam, saat kehilangan seseorang yang dicintai, atau ketika hidup terasa berputar tanpa arah. Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang sibuk mengejar hasil akhir, kita sering lupa pada satu hal yang lebih mendasar: titik mula. Padahal, dalam banyak tradisi kebijaksanaan, memahami awal adalah kunci untuk memahami tujuan.

Bahasa Arab memiliki satu kata yang kaya makna untuk menggambarkan konsep itu: بدأ bada’a. Kata ini biasa diterjemahkan sebagai “memulai”, “mengawali”, atau “mendahulukan”. Namun maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar tindakan memulai sebuah pekerjaan. Ia berbicara tentang asal-usul, fondasi, sumber keberadaan, bahkan hubungan antara permulaan dan akhir kehidupan.

Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia untuk merenungkan awal penciptaan. Dalam Surah As-Sajdah disebutkan:

وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ

“Dan Dia memulai penciptaan manusia dari tanah” (QS. As-Sajdah: 7)

Ayat ini bukan sekadar penjelasan biologis atau kosmologis. Ia mengingatkan manusia bahwa di balik segala pencapaian, kekuasaan, dan kebanggaan, ada asal yang sederhana: tanah. Dari sesuatu yang tampak rendah itulah perjalanan manusia dimulai.

Pertanyaan tentang permulaan juga muncul dalam ayat lain:

كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ

“Bagaimana Dia memulai penciptaan?” (QS. Al-Ankabut: 20)

Menariknya, Al-Qur’an tidak hanya memberi jawaban, tetapi mengundang manusia untuk berpikir. Seolah-olah Tuhan ingin mengatakan bahwa pencarian terhadap asal-usul bukan sekadar urusan ilmu pengetahuan, melainkan juga perjalanan spiritual.

Dalam khazanah bahasa Arab, terdapat istilah mabda’, yang berarti titik awal atau sumber sesuatu. Segala sesuatu memiliki mabda’-nya. Huruf-huruf adalah mabda’ bagi kata-kata. Kayu adalah mabda’ bagi pintu dan meja. Biji kurma adalah mabda’ bagi pohon kurma yang menjulang tinggi.

Gagasan ini menyimpan pelajaran penting bagi kehidupan modern. Kita hidup dalam budaya yang mengagungkan hasil akhir. Orang mengagumi gedung pencakar langit, tetapi jarang memikirkan pondasinya. Orang memuji kesuksesan, tetapi sering melupakan proses panjang yang melahirkannya.

Baca Juga:  Kajian Hadis: Keutamaan Puasa Dzulhijjah, Tarwiyah, dan Arafah

Padahal, kualitas sebuah akhir sering kali ditentukan oleh kualitas permulaannya.

Seorang ilmuwan besar pernah memulai hidup sebagai anak yang penasaran. Seorang pemimpin yang dihormati pernah menjadi pemuda yang belajar dari kesalahan. Bahkan sebuah peradaban besar lahir dari ide sederhana yang ditanam oleh segelintir orang yang berani bermimpi.

Karena itu, dalam pandangan Islam, permulaan bukan fase yang bisa diremehkan. Ia adalah fondasi yang menentukan arah perjalanan.

Lebih jauh lagi, tradisi Islam memperkenalkan salah satu nama Tuhan yang sarat makna: Al-Mubdi’, Yang Memulai. Nama ini mengandung pengertian bahwa Allah adalah sumber dari segala permulaan. Tidak ada sesuatu yang hadir dengan sendirinya. Segala keberadaan berakar pada kehendak-Nya.

Namun menariknya, nama itu hampir selalu dipasangkan dengan sifat lain: Al-Mu’id, Yang Mengembalikan. Tuhan bukan hanya memulai, tetapi juga mengakhiri dan mengembalikan.

Di sinilah lingkaran kehidupan menemukan maknanya.

Al-Qur’an menyatakan:

اللَّهُ يَبْدَؤُا الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ

“Allah memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali”

Dan pada ayat lain:

كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ

“Sebagaimana Dia memulai penciptaan kalian, demikian pula kalian akan kembali” (QS. Al-A’raf: 29)

Bagi manusia modern yang terbiasa berpikir linear, hidup sering dipahami sebagai garis lurus dari lahir menuju mati. Tetapi ayat-ayat ini menawarkan perspektif berbeda: kehidupan adalah sebuah lingkaran. Kita berasal dari Tuhan dan pada akhirnya kembali kepada-Nya.

Kesadaran ini mengubah cara pandang terhadap keberhasilan maupun kegagalan. Tidak ada yang benar-benar mutlak di dunia karena semuanya sedang bergerak menuju titik kembali.

Dalam pembahasan bahasa Arab klasik juga terdapat ungkapan raja‘a ‘auduhu ‘ala bad’ihi”, yang secara harfiah berarti “sesuatu kembali kepada permulaannya”. Ungkapan ini terasa sangat relevan hari ini.

Baca Juga:  Siapa Sebenarnya Keluarga Kita? Makna “Ahl” yang Melampaui Hubungan Darah

Lihatlah manusia yang semakin maju secara teknologi. Setelah berabad-abad mengejar kemajuan material, banyak orang justru kembali mencari hal-hal yang paling mendasar: ketenangan, makna, keluarga, dan spiritualitas. Setelah menjelajahi begitu banyak kemungkinan, manusia sering kembali kepada pertanyaan awal yang sederhana: untuk apa semua ini?

Ada pula istilah bādi’ ar-ra’yi, yang berarti kesan pertama atau pendapat yang muncul secara spontan. Dalam Al-Qur’an, istilah ini digunakan untuk menggambarkan pandangan yang belum matang, belum melalui perenungan mendalam.

Fenomena ini terasa sangat dekat dengan budaya media sosial hari ini. Banyak orang bereaksi sebelum berpikir. Pendapat pertama dianggap sebagai kebenaran final. Padahal tidak semua yang tampak di permukaan mencerminkan kenyataan yang sesungguhnya.

Bahasa Arab klasik mengingatkan bahwa kesan pertama hanyalah awal dari proses berpikir, bukan akhir dari pencarian kebenaran.

Mungkin itulah salah satu pelajaran terbesar dari kata بدأ. Segala sesuatu berawal dari sebuah titik kecil. Sebuah ide, sebuah niat, sebuah langkah, atau sebuah pertanyaan.

Tetapi manusia sering terobsesi pada akhir sehingga mengabaikan awal. Kita ingin panen tanpa memperhatikan benih. Kita ingin hasil tanpa memperbaiki niat. Kita ingin sampai ke tujuan tanpa memahami dari mana perjalanan dimulai.

Padahal, sebagaimana biji kurma menyimpan seluruh potensi pohon yang akan tumbuh, setiap permulaan menyimpan masa depan yang belum terlihat.

Karena itu, saat hidup terasa membingungkan, mungkin yang perlu kita tanyakan bukanlah “ke mana aku akan pergi”, melainkan “dari mana aku memulai?”. Sebab memahami asal-usul sering kali lebih penting daripada menebak masa depan.

Dan di balik seluruh permulaan itu, tradisi Islam mengingatkan satu hal yang sederhana namun mendalam: segala sesuatu memiliki mabda’, tetapi hanya Tuhan yang tidak memiliki permulaan. Dialah Yang Memulai segala yang ada, sekaligus tujuan akhir tempat semuanya kembali.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA