Oleh: Prof. Dr. Made Saihu
ISLAM LIVE – Setiap tahun umat Islam merayakan Idul Adha. Namun pertanyaannya, apakah Idul Adha masih benar-benar hidup dalam kesadaran kita, ataukah hanya tinggal seremoni tahunan yang kehilangan ruh pengorbanannya? Di tengah dunia modern yang dipenuhi kompetisi, pencitraan, kerakusan ekonomi, dan pertarungan ego, Idul Adha seharusnya dibaca bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan momentum perlawanan spiritual terhadap budaya kepemilikan yang berlebihan.
Kisah Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As bukan hanya kisah tentang ayah dan anak. Ini adalah drama tauhid paling besar dalam sejarah manusia, sebuah pertarungan antara cinta kepada Allah dan keterikatan manusia kepada dunia. Secara lahiriah, Ibrahim diperintah menyembelih Ismail. Tetapi secara batiniah, yang sebenarnya diperintahkan Allah untuk “disembelih” adalah rasa kepemilikan, ego, dan kemelekatan yang berlebihan terhadap sesuatu selain-Nya. Hari ini, “Ismail-Ismail” modern hadir dalam bentuk yang jauh lebih kompleks.
Ada yang mempertahankan harta dengan mengorbankan kejujuran. Ada yang mempertahankan jabatan dengan mengorbankan amanah. Ada yang mempertahankan kekuasaan dengan mengorbankan keadilan. Bahkan tidak sedikit yang mempertahankan ego kelompok, fanatisme politik, dan kebencian sosial dengan mengorbankan persaudaraan kemanusiaan. Di sinilah sebenarnya Idul Adha menemukan relevansinya yang paling tajam.
Manusia modern sesungguhnya sedang mengalami krisis pengorbanan. Semua ingin memiliki, tetapi sedikit yang mau memberi. Semua ingin dihormati, tetapi enggan melayani. Semua ingin didengar, tetapi tidak mau mendengar penderitaan orang lain. Dunia hari ini dipenuhi manusia yang sukses secara material, tetapi miskin secara spiritual. Teknologi berkembang luar biasa, tetapi empati justru mengalami kemunduran. Bahkan media sosial memperlihatkan paradoks besar peradaban kita.
Orang berlomba menunjukkan pencapaian, kemewahan, dan citra kesalehan, tetapi sering gagal menghadirkan kasih sayang yang nyata kepada sesama. Kita hidup di zaman ketika simbol agama semakin ramai, tetapi nilai pengorbanan justru semakin langka. Padahal Allah ﷻ telah menegaskan:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ
“yang sampai kepada Allah bukan darah dan daging kurban, melainkan ketakwaan manusia itu sendiri”.
Ayat ini secara tegas memukul cara beragama yang berhenti pada simbol dan ritual, tetapi gagal melahirkan transformasi moral dan sosial. Karena itu, Idul Adha seharusnya menjadi momentum menghancurkan “berhala-berhala modern” yang hari ini diam-diam kita sembah. Berhala itu tidak lagi berbentuk patung, tetapi bisa berupa ambisi, popularitas, kekuasaan, fanatisme, bahkan diri sendiri. Ego manusia modern sering kali lebih berbahaya daripada berhala kaum jahiliyah, sebab ia disembah tanpa disadari.
Krisis terbesar masyarakat hari ini bukan semata krisis ekonomi, tetapi krisis empati. Banyak orang hidup berkecukupan, tetapi kehilangan rasa peduli. Banyak yang religius secara simbolik, tetapi gagal menghadirkan keadilan sosial. Kita melihat kemiskinan berdampingan dengan kemewahan yang dipamerkan secara vulgar. Kita menyaksikan masyarakat kecil semakin terdesak oleh sistem ekonomi yang tidak berkeadilan. Bahkan di tengah perayaan hari besar keagamaan, masih banyak tetangga yang kesulitan makan, anak-anak yang kehilangan akses pendidikan, dan masyarakat kecil yang merasa sendirian menghadapi hidup.
Di sinilah makna sosial kurban menjadi sangat penting. Ketika daging kurban dibagikan kepada fakir miskin, Islam sebenarnya sedang mengajarkan bahwa cinta kepada Allah tidak boleh berhenti pada langit spiritual, tetapi harus turun menjadi tindakan sosial yang nyata. Ketakwaan yang tidak melahirkan kepedulian hanyalah kesalehan yang kosong.
Idul Adha mengingatkan kita bahwa pengorbanan adalah syarat lahirnya peradaban besar. Tidak ada kemajuan tanpa pengorbanan. Tidak ada keadilan tanpa keberanian mengalahkan ego. Tidak ada persatuan tanpa kesediaan menahan ambisi pribadi. Bangsa yang besar bukan bangsa yang dipenuhi orang-orang yang hanya ingin menikmati hasil, tetapi bangsa yang dipenuhi manusia-manusia yang rela memberi manfaat.
Karena itu, semangat Idul Adha seharusnya tidak berhenti di masjid dan tempat penyembelihan hewan kurban. Ia harus hadir dalam cara kita memimpin, bekerja, mendidik, bermedia sosial, berpolitik, bahkan dalam cara kita memperlakukan sesama manusia. Pengorbanan hari ini bisa berbentuk kejujuran di tengah korupsi, menjaga persatuan di tengah polarisasi, menolong yang lemah di tengah individualisme, serta tetap berbuat baik di tengah kebencian sosial.
Dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar. Dunia hanya kekurangan manusia yang tulus berkorban. Maka, Idul Adha adalah panggilan untuk kembali menjadi manusia yang merdeka dari kerakusan dunia. Sebab semakin seseorang terikat kepada dunia, semakin jauh ia dari ketenangan. Dan semakin ia dekat kepada Allah, semakin ringan ia melepaskan apa yang selama ini dianggap paling berharga.
Nabi Ibrahim AS mengajarkan bahwa cinta sejati bukanlah memiliki, tetapi melepaskan demi Allah, Dan Nabi Ismail AS mengajarkan bahwa kepasrahan tertinggi adalah ketika manusia rela tunduk kepada kehendak Tuhan tanpa kebencian dan tanpa ketakutan. Inilah pesan terbesar Idul Adha, yaitu menyembelih ego agar lahir kemanusiaan.
(Artikel ini ditulis oleh Prof. Dr. Made Saihu, Guru Besar Pendidikan Islam Universitas PTIQ Jakarta)
