ISLAM LIVE – Bank Indonesia (BI) melalui Kantor Perwakilan Provinsi Lampung melibatkan 11 pondok pesantren dalam program Santri Bangun Ketahanan Inflasi dengan membudidayakan cabai. Salah satunya adalah Pondok Pesantren Walisongo di Lampung Tengah yang pada Rabu (1/9/2026) melakukan panen perdana bersama para santri dan pimpinan pesantren.
“Lampung di beberapa daerah memang dikenal sebagai produsen hortikultura, salah satunya cabai, namun masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat Lampung untuk konsumsi cabai,” kata Bimo Epyanto, Kepala KPw BI Provinsi Lampung
Menurut Bimo, kondisi tersebut menjadi peluang bagi pesantren untuk meningkatkan produksi sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat di sekitarnya. BI memandang pondok pesantren sebagai salah satu pemain utama untuk mengembangkan cabai sebagai produk unggulan Provinsi Lampung.
Pimpinan Pondok Pesantren Walisongo, Syaikhul Ulum Syuhadak, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi wadah edukasi bagi para santri. Mereka tidak hanya belajar mengaji, tetapi juga memperoleh pengalaman mengelola kegiatan produktif yang diharapkan bisa menjadi bekal untuk membangun kemandirian pesantren.
BI berharap budidaya cabai tidak berhenti sebagai kegiatan pertanian, tetapi berkembang menjadi unit usaha yang mampu memberikan nilai ekonomi bagi pesantren. Jika unit usaha berkembang, pesantren juga diharapkan dapat melibatkan masyarakat sekitar, baik dalam proses produksi maupun pemanfaatan hasil panen.
“Yang penting produksinya banyak. Yang penting ini mencukupi tidak hanya untuk pondok pesantren, tetapi juga harapannya mencukupi kebutuhan paling tidak masyarakat sekitar,” ujarnya.
Bimo menambahkan bahwa masyarakat sekitar tidak perlu harus lari ke pasar untuk membeli cabai, tetapi cukup ke pondok pesantren. Semakin kuat produksi pangan di tingkat lokal, semakin besar pula peluang untuk menjaga ketersediaan pasokan dan membantu mengendalikan gejolak harga.
“Jadi santri produktifnya dapat melalui pengembangan bisnis atau unit usaha yang ada di pondok pesantren,” katanya.
Program ini diharapkan mampu mendorong kemandirian pesantren sekaligus berkontribusi pada ketahanan pangan dan pengendalian inflasi di Provinsi Lampung.
