ISLAM LIVE – Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kasus penemuan jasad bayi perempuan yang terkubur di area perkebunan di Dusun Kropoh, Desa Duren, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang.
Netty meminta aparat penegak hukum mengusut kasus tersebut secara tuntas sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Ini adalah tragedi yang sangat memprihatinkan. Seorang bayi kehilangan kesempatan untuk hidup dan tumbuh. Apabila terdapat pelanggaran hukum dan unsur kekerasan, tentu proses hukum harus berjalan secara tegas. Namun, kita juga harus menjadikan peristiwa ini sebagai evaluasi agar tragedi serupa tidak kembali terjadi,” ujar Netty, Rabu (09/09).
Berdasarkan informasi sementara, kepolisian telah mengamankan dua orang yang diduga terkait dengan kasus tersebut. Salah satu pihak masih berusia 17 tahun.
Menurut Netty, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan remaja membutuhkan perhatian serius dari keluarga, pemerintah, sekolah, dan lingkungan masyarakat.
“Pelindungan terhadap remaja bukan berarti membenarkan perilaku yang berisiko. Justru pelindungan berarti membimbing, mendampingi, dan membekali generasi muda dengan nilai serta pemahaman yang benar agar mampu menjaga diri dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab,” tegasnya.
Netty juga menyoroti pentingnya edukasi kesehatan reproduksi yang disampaikan secara bertanggung jawab dan sesuai dengan usia.
“Remaja membutuhkan informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi dan risiko dari perilaku yang dapat membahayakan kesehatan serta masa depan mereka. Jangan sampai mereka justru mencari informasi dari sumber yang keliru dan lingkungan yang tidak memberikan pendampingan yang baik,” katanya.
Netty menilai edukasi kesehatan reproduksi harus berjalan seiring dengan penguatan pendidikan karakter, nilai agama dan moral, serta pembinaan keluarga. Menurutnya, keluarga harus menjadi benteng pertama dalam melindungi generasi muda.
“Orang tua harus hadir dalam kehidupan anak. Komunikasi antara orang tua dan anak harus diperkuat. Jangan sampai anak menghadapi persoalan besar sendirian karena takut, malu, atau tidak memiliki tempat untuk meminta nasihat dan pertolongan,” ujarnya.
Netty juga mendorong penguatan program pembangunan keluarga dan pembinaan remaja sebagai bagian dari upaya pencegahan.
“Jangan menunggu tragedi terjadi baru kita bergerak. Pencegahan harus dimulai dari keluarga, diperkuat melalui sekolah dan lingkungan masyarakat, serta didukung oleh program pemerintah yang benar-benar menjangkau generasi muda,” katanya.
Ia menambahkan bahwa keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, tokoh agama, pemerintah daerah, dan masyarakat harus membangun sinergi dalam menciptakan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang remaja.
“Melindungi generasi muda berarti membimbing mereka agar mampu menjaga diri, memiliki karakter yang kuat, memahami risiko dari setiap pilihan, dan tumbuh menjadi generasi yang sehat serta bertanggung jawab. Tragedi ini harus menjadi alarm bagi kita semua untuk lebih serius menjaga masa depan anak-anak Indonesia,” pungkas Netty.
