Bahkan Nabi Musa Pun Meminta Penopang

2 views

ISLAM LIVE— Ada satu doa yang sering dibaca banyak orang, tetapi jarang benar-benar direnungi maknanya. Doa itu muncul dari kegelisahan Nabi Musa a.s ketika menghadapi tugas besar melawan Fir’aun:

وَاشْدُدْ بِهِ أَزْرِي
“Dan kuatkanlah punggungku dengan dirinya.”
(QS. Thaha: 31)

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di balik kata azri yang biasa diterjemahkan sebagai “kekuatanku” atau “punggungku”, tersimpan jejak makna yang jauh lebih manusiawi daripada sekadar tenaga atau keberanian. Ia berbicara tentang sesuatu yang sering dilupakan manusia modern: bahwa tidak ada manusia kuat yang benar-benar berdiri sendirian.

Dalam khazanah bahasa Arab klasik, kata al-azr berasal dari akar yang sama dengan izar kain yang dililitkan di pinggang, semacam sarung atau pakaian penyangga tubuh. Dari situlah makna “menguatkan” muncul. Orang Arab dahulu memahami bahwa sesuatu yang mengikat dan menopang tubuh adalah sumber kestabilan. Maka ketika Al-Qur’an menggunakan ungkapan “usydud bihi azri”, maknanya bukan sekadar “bantu aku”, melainkan: “jadikan dia penopang hidupku.”

Musa a.s tidak meminta Harun a.s hanya sebagai rekan kerja. Ia meminta seseorang yang membuat jiwanya lebih tegak.

Di zaman sekarang, manusia justru dididik untuk memuliakan kemandirian secara berlebihan. Kita hidup dalam budaya yang mengagungkan sosok “self- made man”, manusia yang seolah mampu menaklukkan dunia dengan dirinya sendiri. Media sosial dipenuhi narasi tentang orang-orang sukses yang tampak berjalan tanpa bantuan siapa pun. Padahal, sejarah hampir selalu menunjukkan hal sebaliknya.

Bahkan seorang nabi membutuhkan penguat.

Menariknya, akar kata azar juga melahirkan makna “mengokohkan fondasi.” Dalam bahasa Arab klasik disebutkan bahwa bangunan yang diperkuat bagian bawahnya disebut uzira al-bina’. Tanaman yang tumbuh tinggi dan kokoh juga disebut ta’azzara an-nabt. Artinya, kekuatan sejati bukanlah ledakan sesaat, melainkan daya tahan yang dibangun dari bawah.

Baca Juga:  Di Hadapan Ahad, Semua Menjadi Relatif 

Barangkali itu sebabnya Al-Qur’an menggunakan kata serupa ketika menggambarkan pertumbuhan Islam di masa awal:

كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ
“Seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu menguatkannya.”
(QS. Al-Fath: 29)

Gambaran itu indah sekali. Sebatang tanaman menjadi kuat justru karena tunas-tunas di sekitarnya tumbuh bersama. Ia tidak kokoh sendirian. Ada dukungan yang saling menopang. Ada pertumbuhan kolektif.

Namun manusia modern sering mengalami ironi: semakin terkoneksi, semakin rapuh. Kita punya ribuan pengikut, tetapi sedikit tempat bersandar. Kita mudah mendapat tepuk tangan, tetapi sulit menemukan orang yang benar-benar menguatkan “azar” kita.

Akibatnya, banyak orang tampak kuat di luar, tetapi diam-diam runtuh di dalam.

Bahasa klasik ternyata memahami manusia lebih dalam daripada slogan motivasi modern. Kata mu’azarah yang berarti saling menguatkan, berasal dari akar yang sama. Bahkan kata wazir (menteri atau pembantu pemimpin) secara makna juga dekat dengan gagasan itu: orang yang memikul sebagian beban.

Mungkin karena itu Musa a.s tidak berkata, “Ya Tuhan, jadikan aku lebih hebat.” Ia justru meminta seseorang untuk berjalan bersamanya.

Ada kerendahan hati besar di sana.

Di bagian lain, akar kata yang sama muncul dalam kisah Nabi Ibrahim a.s:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ
“Dan ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar…”
(QS. Al-An’am: 74)

Para ulama bahasa berbeda pendapat tentang makna Azar. Sebagian mengatakan itu nama ayah Ibrahim, meski dalam tradisi lain dikenal sebagai Tarikh atau Tarakh. Sebagian lain menyebut bahwa dalam bahasa mereka, azar bermakna “orang yang menyimpang” atau “sesat”.

Baca Juga:  Pada Akhirnya, Hidup Bukan Tentang Memiliki, Tetapi Tentang Siap Kehilangan 

Di sini menariknya bahasa bekerja: satu akar kata bisa melahirkan dua arah yang bertolak belakang. Di satu sisi ia berarti kekuatan dan penopang. Di sisi lain ia bisa merujuk pada penyimpangan.

Seolah bahasa ingin mengatakan bahwa manusia memang selalu hidup di antara dua kemungkinan: menjadi penguat bagi orang lain, atau justru menjadi beban yang menyeret mereka jatuh.

Hari ini, banyak hubungan dibangun bukan untuk saling menguatkan, melainkan saling menguras. Pertemanan berubah menjadi arena kompetisi diam-diam. Relasi dipenuhi pencitraan. Bahkan keluarga kadang kehilangan fungsi dasarnya sebagai “izar” pakaian yang saling melindungi.

Padahal Al-Qur’an pernah menggambarkan suami dan istri dengan metafora yang sangat lembut:

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ
“Mereka adalah pakaian bagi kalian, dan kalian adalah pakaian bagi mereka.”
(QS. Al-Baqarah: 187)

Pakaian bukan sekadar penutup tubuh. Ia melindungi, menghangatkan, dan menjaga martabat manusia. Dari sinilah sebagian ahli bahasa memahami mengapa kata izar kadang dipakai sebagai kiasan bagi pasangan hidup: karena manusia memang tidak diciptakan untuk telanjang secara emosional.

Kita membutuhkan seseorang yang mengikat hidup agar tidak tercerai-berai.

Mungkin itulah makna terdalam dari azar: kekuatan sejati ternyata bukan tentang otot, jabatan, atau citra ketangguhan. Kekuatan sejati adalah memiliki sesuatu atau seseorang yang membuat kita tidak roboh ketika dunia mulai goyah.

Dan ironisnya, di era ketika manusia sibuk membangun personal branding sebagai sosok paling kuat, banyak orang justru kehilangan “azar”-nya. Kehilangan tempat bersandar. Kehilangan lingkaran yang menguatkan jiwa.

Padahal bahkan Musa a.s pun tidak meminta perjalanan seorang diri.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA