ISLAM LIVE – Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas meminta pemerintah agamawan konser Andrea Bocelli di Indonesia karena menilai rekam jejak penyanyi Italia itu terkait Zionis Israel bertentangan dengan prinsip antikolonialisme dalam konstitusi. Anwar, yang juga pengamat sosial, ekonomi, dan keagamaan, menilai rencana yang menghadirkan Andrea Bocelli seharusnya tidak hanya dipertimbangkan dari sisi seni dan bisnis.
“Pemerintah harus menjaga konsistensi terhadap amanat UUD 1945, terutama penolakan terhadap penjajahan dan pelanggaran kemanusiaan,” tegasnya dalam pernyataan di Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Ia keberatan dengan situasi Palestina serta dugaan dukungan Bocelli terhadap Israel. Anwar mengingatkan pemerintah agar tidak mengabaikan prinsip yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, khususnya pernyataan bahwa penjajahan di dunia harus dihapuskan karena bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. “Kita mengharapkan pemerintah agar tetap konsisten karena dan konsekuen dengan konstitusi jika konstitusi sudah diabaikan maka kemungkinan terjadinya perpecahan di kalangan rakyat tentu akan terbuka,” katanya.
Menurut Anwar, pertimbangan ekonomi dan seni tidak boleh mengesampingkan prinsip dasar negara dalam menolak penjajahan. Ia juga diperingatkan bahwa pengabaian terhadap prinsip tersebut berpotensi memicu perpecahan di tengah masyarakat.
Anwar menyoroti sejumlah aktivitas Andrea Bocelli yang menurutnya menunjukkan kedekatan dengan pihak-pihak pendukung Israel. Ia menyebut Bocelli tampil dalam konser di Stadion Bloomfield, Tel Aviv, pada tahun 2022 yang dihadiri sekitar 20.000 penonton, termasuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia juga merasakan kehadiran Bocelli dalam konser di Tel Aviv pada tahun 2008 untuk memperingati 10 tahun Shimon Peres Center for Peace.
Selain itu, Anwar menyampaikan dugaan keterlibatan Bocelli dalam penggalangan dana bagi kelompok pendukung militer Israel pada tahun 2010, surat dukungan untuk mengirimkan sandera Israel pada tahun 2023, serta pertemuannya dengan mantan sandera Hamas Segev Kalvon di Miami pada bulan November 2025. Berdasarkan rangkaian peristiwa tersebut, Anwar menilai Bocelli merupakan pendukung Israel yang berpengaruh. Namun, klaim mengenai sikap politik dan dukungan tersebut perlu diperoleh melalui sumber independen sebelum dijadikan kesimpulan faktual.
Anwar mengutip alasan penyanyi tersebut diberi panggung di Indonesia ketika konflik Palestina masih menjadi perhatian masyarakat. Ia menyangkal penyelenggaraan konser itu dapat menjadi bagian dari upaya normalisasi hubungan Indonesia dan Israel melalui jalur ekonomi dan budaya. Pernyataan tersebut merupakan kekhawatiran Anwar, bukan bukti bahwa konser tersebut memiliki agenda diplomatik semacam itu.
Anwar menyampaikan dua tuntutan kepada pemerintah. Pertama, konser konser Andrea Bocelli di Indonesia karena menilai kehadirannya dapat melukai perasaan masyarakat yang mendukung perjuangan Palestina dan mempengaruhi citra Presiden Prabowo Subianto. Kedua, pemerintah diminta untuk tidak membiarkan kepentingan bisnis, ekonomi, dan seni mengeluarkan prinsip konstitusi. Bagi Anwar, persoalan ini bukan sekadar penyelenggaraan pertunjukan musik, melainkan ujian konsistensi pemerintah dalam menerapkan prinsip antikolonialisme dan menjaga dukungan Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina.
