ISLAM LIVE – Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga lisan dan mempertimbangkan setiap perkataan sebelum diucapkan. Anjuran ini bukan tanpa alasan, sebab ucapan yang tampak sederhana bisa membawa akibat besar bagi kehidupan dunia maupun akhirat. Sejumlah hadis Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahaya lisan yang tidak dijaga.
Salah satunya hadis yang menjelaskan bahwa ucapan yang keluar tanpa pertimbangan dapat mendatangkan murka Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
Latin: Innal-‘abda layatakallamu bil-kalimati min ridhwanillahi la yulqi laha balan yarfa’ullahu biha darajat, wa innal-‘abda layatakallamu bil-kalimati min sahatillahi la yulqi laha balan yahwi biha fi jahannam.
Artinya: “Sejujurnya seseorang mengucapkan suatu perkataan yang diridai Allah tanpa terlalu iklan, lalu Allah mengangkat derajatnya karena perkataan itu. Sebaliknya, seseorang mengucapkan suatu perkataan yang mendatangkan murka Allah tanpa terlalu iklan, lalu ia terjerumus ke dalam Jahanam karenanya.” (HR.Bukhari)
Hadis ini menampilkan bahwa ucapan yang tampak sederhana bisa membawa hasil yang besar. Perkataan baik yang disampaikan dengan tulus dapat memberikan manfaat dan mendatangkan pahala. Sebaliknya, ucapan buruk yang dianggap biasa saja dapat menyebabkan seseorang mendapatkan dosa. Oleh karena itu, seorang Muslim sebaiknya tidak terburu-buru berbicara.
Dalam sebuah hadis panjang yang berisi nasehat kepada Mu’adz bin Jabal RA, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ucapan manusia dapat menjadi salah satu sebab yang menjerumuskannya ke dalam neraka.
وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى Layanan Pelanggan
Latin : Wa hal yakubbun-nasa fin-nari ‘ala wujuhihim aw ‘ala manakhirihim illa hasha’idu alsinatihim.
Artinya: “Bukankah yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka dengan wajah mereka atau dengan hidung mereka adalah hasil dari lisan mereka?” (HR. Tirmidzi)
Bahaya lisan juga tergambar dalam hadis tentang Muslim yang menjaga orang lain dari gangguan lisannya. Rasulullah SAW bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Latin: Al-muslimu man salimal-muslimuna min lisanihi wa yadihi.
Artinya: “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjelaskan bahwa kualitas seorang muslim juga terlihat dari cara memperlakukan orang lain. Menjaga lisan berarti menghindari ucapan yang menyampaikan, menghina, mencaci, atau menyebarkan keburukan seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk gangguan lisan bisa muncul dalam percakapan langsung maupun tulisan di media sosial. Komentar yang mempermalukan seseorang, menyebarkan kabar yang belum jelas, atau menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan transmisi dapat menimbulkan dampak yang luas.
Oleh karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa orang yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir hendaknya berkata baik atau memilih diam apabila tidak memiliki perkataan yang bermanfaat.
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Latin: Man kana yu’minu billahi wal-yaumil-akhiri falyaqul khairan aw liyashmut.
Artinya: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi salah satu pedoman utama dalam menjaga lisan. Diam dalam hadis ini bukan berarti seseorang harus selalu menghindari percakapan. Jika ada kebaikan yang perlu disampaikan, seperti memberikan nasehat, membantu orang lain memahami sesuatu, atau kesalahpahaman, perkataan tersebut tentu dapat membawa manfaat. Sebaliknya, jika ucapan hanya akan memperkeruh suasana, menimbulkan fitnah, atau menyakiti orang lain tanpa alasan yang benar, menahan diri merupakan pilihan yang lebih baik.
Rasulullah SAW juga menjelaskan besarnya keutamaan menjaga lisan dan kehormatan diri.
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
Latin: Man yadhman li ma baina lahyaīhi wa ma baina rijlaihi, adhman lahu al-jannah.
Artinya: “Barang siapa yang menjamin apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara kedua kakinya, aku menjamin surganya.” (HR.Bukhari)
Hal yang dimaksud dengan bagian di antara dua rahang adalah mulut atau lisan, sedangkan bagian di antara kedua kaki Merujuk pada kemaluan. Hadis ini mengingatkan bahwa menjaga ucapan merupakan hal penting dalam kehidupan seorang muslim.
Menjaga lisan tidak selalu berarti menahan diri untuk berbicara. Islam juga mendorong umatnya menggunakan ucapan untuk menyebarkan kebaikan. Bahkan, kata yang baik dapat bernilai sedekah.
الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
Latin: Wal-kalimatut-thayyibatu shadaqah.
Artinya: “Perkataan yang baik adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa kebaikan tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk materi. Ucapan yang menenangkan, nasihat yang disampaikan dengan santun, atau kata yang membantu seseorang menghadapi kesulitan juga dapat menjadi bentuk kebaikan.
Rasulullah SAW juga memberikan nasehat kepada Uqbah bin Amir RA ketika ditanya tentang keselamatan.
أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ
Latin: Amsik ‘alaika lisanaka, wa lyasa’aka baituka, wabki ‘ala khathi’atik.
Artinya: “Tahanlah lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu merasa cukup, dan tangisilah kesalahanmu.” (HR. Tirmidzi)
Nasihat ini pentingnya mengendalikan ucapan sebagai bagian dari upaya menjaga diri. Menahan lisan bukan berarti tidak peduli terhadap keadaan sekitar, melainkan menghindari kata-kata yang tidak mungkin atau berpotensi membawa keburukan. Seseorang dapat menerapkannya dengan tidak ikut menyebarkan gosip, menghindari menyampaikan yang tidak bermanfaat, dan memilih menyelesaikan masalah melalui pembicaraan yang tenang.
