ISLAM LIVE – Anggota DPR RI Fraksi PKS Dapil Jakarta II, Hidayat, mengusulkan agar Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pondok Pesantren mengambil peran besar dalam pemberantasan buta huruf Al-Qur’an. Salah satunya dengan menggandeng pengasuh pondok pesantren.
“Jika ini dilakukan dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan berkelanjutan, maka insyaAllah dalam waktu kurang dari 10 tahun, masyarakat muslim seluruhnya bisa melek Al-Qur’an,” kata Hidayat, Anggota DPR RI Fraksi PKS Dapil Jakarta II, dalam keterangannya, Minggu (11/10/2026).
Menurut Hidayat, setiap ustadz, santri, maupun santriwati perlu dibekali skill metode pengajaran Al-Qur’an sebelum terjun ke masyarakat. Bekal itu menjadi modal untuk berperan memberantas buta huruf Al-Qur’an.
Hidayat mengusulkan program tersebut dilaksanakan beberapa hari saja selama libur panjang santri di akhir tahun ajaran. Dengan demikian, santri dapat melaksanakan ilmunya dengan mengajarkan baca Al-Qur’an kepada keluarga, tetangga, maupun jemaah masjid dan musala.
Hasilnya nanti dilaporkan kepada pimpinan pondok pesantren saat kembali masuk belajar. Laporan itu menjadi bagian dari program pembinaan dan pengabdian para santri di bawah satuan pendidikan keagamaan.
“Dan diharapkan dengan begitu, mereka bisa makin khusyuk sholatnya dan makin sholih amalnya karena dengan bisa baca Al-Qur’an, diharap mereka akan lebih mencintai Al-Qur’an,” pungkasnya.
Hidayat juga berharap program di Jakarta ini menjadi pelopor sukses memberantas buta huruf Al-Qur’an. Karena itu, pengembangannya perlu dikolaborasikan dengan Kementerian Agama, MUI, ormas Islam, majelis taklim, lembaga zakat, termasuk pesantren.
Program yang diinisiasi HNW ini diikuti ratusan peserta utusan dari setiap kelurahan di Jakarta Selatan maupun Jakarta Pusat. Program ini mendapat dukungan BPKH RI melalui Program Kemaslahatan dengan Rumah Zakat sebagai mitra kemaslahatan.
Pelaksanaannya mencakup pelatihan intensif selama tiga bulan yang dilanjutkan dengan implementasi lapangan. Survei awal dilakukan tim surveyor gabungan dari beberapa kampus perguruan tinggi Islam di DKI Jakarta, seperti STIT An-Nu’aimy, STAI Al-Hikmah, dan Universitas Darunnajah. Survei berlangsung 27 September-3 Oktober 2026 dengan 600 responden dari 62 kelurahan terpilih.
