ISLAM LIVE – Amerika Serikat menarik seluruh pesawat pengebom B-1 yang sebelumnya ditempatkan di Pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) Fairford di tengah kekhawatiran keamanan terkait dugaan ancaman terhadap pangkalan tersebut.
Sekitar selusin pesawat B-1 sebelumnya berada di RAF Fairford. Pentagon mengonfirmasi seluruh pesawat pengebom AS yang dikerahkan ke pangkalan tersebut kini telah dipindahkan kembali ke pangkalan asalnya di Amerika Serikat.
“Keamanan operasional membuat kami tidak dapat mengonfirmasi pergerakan aset dan pasukan secara langsung. Namun, kini kami dapat mengonfirmasi bahwa seluruh pesawat pengebom AS yang dikerahkan ke RAF Fairford telah dipindahkan kembali ke pangkalan asalnya di Amerika Serikat,” kata juru bicara Pentagon kepada Al Jazeera.
Pentagon tidak menjelaskan secara spesifik alasan penarikan tersebut. Namun, keputusan itu berlangsung ketika Amerika Serikat dan Israel masih terlibat dalam perang dengan Iran, sementara RAF Fairford sebelumnya menjadi salah satu pangkalan yang digunakan pesawat pengebom AS dalam operasi militer di kawasan.
Pangkalan yang berada sekitar 160 kilometer sebelah barat London tersebut sebelumnya juga menjadi sorotan setelah otoritas Inggris menangkap sejumlah orang terkait dugaan rencana serangan di sekitar fasilitas tersebut. Pada 27 September, lima orang ditangkap karena dicurigai merencanakan penempatan bahan peledak di dekat pangkalan.
Kelima orang tersebut kemudian dibebaskan tanpa dakwaan sehari setelah penangkapan. Polisi menemukan bensin di dalam kendaraan mereka, tetapi tidak menemukan bahan peledak. Otoritas Inggris menyatakan penyelidikan terhadap kasus tersebut masih berlangsung.
Pada Kamis, kepolisian Inggris juga mengumumkan penangkapan seorang warga Inggris-Iran berusia 25 tahun di London yang dicurigai merencanakan serangan terhadap pangkalan udara tersebut. Iran membantah terlibat dalam dugaan rencana serangan itu.
Meski seluruh B-1 telah meninggalkan RAF Fairford, Pentagon menegaskan bahwa personel dan armada pesawat pengebom AS, termasuk B-1, B-2, dan B-52, tetap siap menjalankan operasi serangan presisi dari wilayah Amerika Serikat maupun lokasi lainnya.
