ISLAM LIVE – Iran menyatakan telah menerima respons Amerika Serikat (AS) atas proposal terbaru untuk menghidupkan kembali kesepakatan gencatan senjata di kawasan Teluk, Rabu (30/9/2026). Respons tersebut disampaikan melalui Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi setelah sebelumnya Presiden AS Donald Trump menyatakan menolak proposal tersebut.
Juru bicara pemerintah Iran menyampaikan melalui media sosial bahwa Araqchi telah meneruskan respons AS kepada pemerintah Iran. Pernyataan itu muncul setelah Araqchi sebelumnya mengatakan Tehran belum menerima penolakan resmi dari Washington.
Proposal Iran yang diajukan pekan lalu menawarkan langkah untuk memulihkan kesepakatan sementara yang sebelumnya runtuh. Dalam proposal tersebut, AS diminta mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Iran akan membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari.
Pembicaraan antara kedua pihak berlangsung melalui mediator Qatar. Pekan lalu, utusan Qatar melakukan komunikasi antara pejabat AS dan Iran di sela-sela pertemuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Pertemuan tersebut menjadi kontak diplomatik pertama antara kedua pihak sejak gencatan senjata sebelumnya runtuh.
Seorang pejabat yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan Qatar telah menyampaikan respons AS kepada Araqchi pada Selasa (29/9) ketika diplomat Iran itu singgah di Doha dalam perjalanan pulang dari New York. Menurut pejabat tersebut, kedua pihak secara umum memiliki kesepahaman mengenai langkah-langkah yang diperlukan, tetapi masih berbeda mengenai urutan pelaksanaannya.
Sementara itu, kondisi di Selat Hormuz masih terganggu. Lalu lintas pelayaran dilaporkan meningkat dalam beberapa pekan terakhir, tetapi arus minyak mentah, produk olahan, dan gas alam masih mengalami gangguan. Badan keamanan maritim Inggris UKMTO melaporkan dua kapal terkena proyektil pada Selasa (29/9).
Iran sebelumnya menyatakan proposal tersebut ditujukan untuk memulihkan kesepakatan sementara yang runtuh beberapa pekan setelah ditandatangani Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Juni. Tehran juga menginginkan kesepakatan lanjutan yang memberikan Iran kendali atas Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global dan berada di lepas pantai Iran. Gangguan terhadap jalur tersebut berdampak pada pengiriman minyak, produk energi, dan gas alam melalui kawasan Teluk.
Hingga Rabu (30/9), belum ada keterangan resmi mengenai isi lengkap respons Washington yang telah diterima pemerintah Iran. Kedua pihak masih berkomunikasi melalui mediator, sementara perbedaan mengenai tahapan pelaksanaan kesepakatan menjadi salah satu persoalan dalam pembicaraan.
