ISLAM LIVE – Apakah seorang muslim harus memiliki sifat moderat atau toleransi? Sikap moderat dalam beragama dapat diwujudkan melalui sejumlah prinsip yang membantu seorang Muslim menjalankan agama dengan tetap teguh pada ajaran Islam sekaligus mampu hidup berdampingan dengan orang lain.
Al-Qur’an memberikan banyak petunjuk tentang bagaimana umat Islam menghadapi perbedaan, menjalankan keyakinan, dan berhubungan dengan orang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًاۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ
“Seandainya Tuhanmu menghendaki, tentulah semua orang di bumi seluruhnya beriman. Apakah engkau akan memaksa manusia hingga mereka menjadi orang-orang mukmin?” (QS Yunus: 99)
Ayat itu mengingatkan bahwa Allah memberikan manusia kehendak dan pilihan. Karena itu, manusia tidak diperintahkan untuk memaksa orang lain agar beriman.
Prinsip pertama dalam moderasi beragama adalah wasathiyyah atau sikap tengah. Wasathiyyah berarti mengambil sikap yang seimbang dan tidak berlebihan. Seorang Muslim tidak bersikap terlalu keras dalam beragama, namun juga tidak menganggap remeh ajaran agama.
Prinsip kedua, tawazun atau keseimbangan. Prinsip ini mengajarkan untuk memperhatikan kehidupan dunia sekaligus mempersiapkan kehidupan akhirat. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Seorang Muslim tetap bisa bekerja, belajar, dan menjalani kehidupan sehari-hari sambil memperhatikan kewajiban kepada Allah.
Prinsip ketiga, i’tidal atau bersikap adil. Artinya, setiap orang harus berusaha memperlakukan orang lain dengan adil dan jujur, tanpa membeda-bedakan berdasarkan latar belakangnya. Prinsip keempat, tasamuh atau toleransi, yakni sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, toleransi dapat diwujudkan dengan menghormati orang lain yang memiliki keyakinan, kebiasaan, atau pandangan berbeda. Namun, sikap itu tidak berarti mencampuradukkan keyakinan masing-masing. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ
“Untukmu agamamu dan untukku agamaku.” (QS Al-Kafirun: 6)
Ayat itu bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama. Sebaliknya, masing-masing tetap menjalankan keyakinannya sambil menghormati orang lain yang berbeda. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
وَلَنَاۤ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْ
“Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu.” (QS Al-Baqarah: 139)
Ayat itu menjadi pengingat agar tidak terlalu sibuk mencampuri urusan ibadah orang lain. Saling mengingatkan dalam kebaikan tetap boleh dilakukan, tetapi perlu dengan cara yang bijak dan tidak mudah menghakimi.
Selain itu, terdapat prinsip musawah atau kesetaraan, syura atau musyawarah, islah atau mengupayakan perdamaian, awlawiyah atau menentukan prioritas, tathawwur wa ibtikar atau terbuka terhadap perkembangan, serta tahadhdhur atau menjaga adab dan akhlak. Sikap moderat juga ditunjukkan dengan kesediaan mendengar kritik dan masukan yang baik.
Dengan tetap berpegang pada prinsip agama, seorang Muslim bisa menerima masukan yang membawa kebaikan dan menghindari sikap kaku dalam menghadapi perubahan. Moderasi bukan berarti melemahkan keyakinan, melainkan menjalankan agama secara seimbang dan beradab.
