Belajar dari Imam Al-Ghazali, Kenali 3 Tingkatan Kualitas Jiwa Manusia

8 views
Habib Ahmad bin Hasan Alaydrus, pendakwah, ulama muda, dan tokoh keagamaan asal Kota Depok, Jawa Barat. Beliau pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Kota Depok, periode khidmah 2019-2024

Oleh: Habib Ahmad bin Hasan Alaydrus

ISLAM LIVE – Dalam perjalanan hidup, manusia tidak hanya dituntut untuk memperbaiki amal lahiriah, tetapi juga membersihkan dan meningkatkan kualitas jiwanya. Sebab, baik dan buruknya perilaku seseorang pada akhirnya berakar dari kondisi jiwa yang mengendalikan hati dan pikirannya.

Dalam khazanah pemikiran Islam, Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali menjelaskan bahwa jiwa manusia memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Semakin seseorang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan mendekat kepada Allah SWT, semakin tinggi pula kualitas jiwanya. Secara umum, terdapat tiga tingkatan jiwa yang penting untuk dipahami sebagai bahan muhasabah atau introspeksi diri.

1. NAFSUL AMMARAH BI SUU’

Ini adalah kualitas jiwa yang paling rendah, jiwa yang selalu ingin memenuhi kehendak nafsu, dan selalu mengajak pada kemungkaran.
Jiwa yang menyerah dan patuh pada kemauan syahwat. Jiwa yang menjadi follower ajakan-ajakan syaithan.

Jiwa yang tidak pernah puas dan selalu merasa kurang. Tidak pernah mau mengalah dan tidak mau bersabar. Menghendaki sesuatu yang diinginkan harus tercapai dan diperoleh dengan segera. Jiwa yang terus mendorong untuk mengejar kenikmatan dan kesenangan duniawi. Di titik yang paling buruk, jiwa semacam ini bisa tetap merasa senang dan tenang dalam kemaksiatan.

Baca Juga:  Ketika Akal Bertemu Wahyu: Warisan Pemikiran Ibnu Sina untuk Dunia Modern

Karena jiwa semacam ini adalah tempat berpadunya 3 hal; hawa nafsu, godaan syaithan, dan arogansi diri. Betapa buruknya integrasi ketiga faktor ini, sehingga tatkala mengikutinya, manusia tidak lagi merasakan hal itu sebagai kemungkaran. Bahkan sebaliknya, ia merasakannya sebagai sebuah kenikmatan.

2. NAFSUL LAWWAMAH

Pada tingkatan ini seseorang sudah sadar dan mampu melihat kekurangan-kekurangan diri, sudah terbuka untuk mau menerima petunjuk dan tuntunan dari Rabbnya, tapi terkadang masih tergoda untuk mengikuti syahwat, lalu kemudian merasa bersalah dan menyesal karenanya.

Jiwa yang telah menganjurkan untuk berbuat baik dan dia akan mencela dirinya apabila melakukan hal-hal yang salah.

Nafsul Lawwamah ini juga bisa diartikan sebagai jiwa yang menggugat (gugatan batin). Ia menggugat atas dosa yang telah dilakukan seseorang. Boleh jadi ada saat-saat gugatan itu mereda, tetapi pada saat yang lain akan muncul dengan hebatnya, ia akan selalu ada selama kesalahan dan dosa itu belum diselesaikan.

Gugatan batin itulah yang dikenal dalam ilmu jiwa sebagai perasaan bersalah. Jiwa yang telah menyadari dan mengetahui arah dari sebuah perbuatan, tapi masih tertarik kesana dan kesini. Jiwa yang masih labil, berusaha untuk menahan nafsu, tapi akalnya masih cenderung dikalahkan oleh hasrat rendahnya.

Baca Juga:  Mulla Sadra dan Rahasia Kebahagiaan Sejati

3. NAFSUL MUTHMAINNAH

Jiwa yang tenang, tentram, dan damai. Inilah tingkatan tertinggi dari strata jiwa manusia. Jiwa yang telah mampu menolak dan tidak terpengaruh dengan segala kemewahan dunia serta kesenangan-kesenangan yang bersifat sementara.

Kondisi jiwa yang berpuas diri dalam penghambaan kepada Rabbnya. Jiwa yang jauh dari rasa cemas dan gelisah atas segala ketetapan Allah, tak pernah kecewa terhadap apapun yang menimpanya.

Jiwa yang selalu merasa sejuk dalam setiap keadaan, karena sangat menyakini sentuhan kasih sayang dari Rabbnya.

Bukankah jiwa seperti ini yang menjadi puncak cita-cita kita? Semoga di akhir nafas kita nanti, Allah memanggil kita dengan panggilan mesra;

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27–30).

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA