Tafsir Muqarran: Memahami Identitas Yahudi dari Ibn Jarir Ath-Thabari dan Muhammad Rasyid Ridha

51 views

ISLAM LIVE- Al-Qur’an sebagai teks suci tidak hanya menghadirkan petunjuk normatif, tetapi juga merekam dinamika historis dan tipologi sosial-keagamaan yang kompleks, salah satunya terkait dengan Bani Israil atau Yahudi. Dalam lintasan sejarah penafsiran, tema ini selalu menjadi medan diskursif yang kaya, karena ia bersinggungan dengan persoalan teologi, sejarah, hingga relasi antar-komunitas beragama.

Dalam konteks tersebut, pendekatan tafsir muqarran atau komparasi menjadi penting untuk menyingkap bagaimana perbedaan latar belakang, metodologi, dan horizon intelektual mufasir memengaruhi konstruksi makna terhadap identitas Yahudi dalam Al-Qur’an. Melalui komparasi antara Ibn Jarir ath-Thabari dan sebagai representasi tafsir klasik yang berakar pada riwayat, juga Muhammad Rasyid Ridha yang merepresentasikan tafsir reformis-modern tulisan ini berupaya membaca ulang narasi tersebut secara intensif.

Nah, dalam membaca narasi Bani Israil dalam Al-Qur’an, khususnya pada surat Al-Baqarah ayat 47:

يٰبَنِىۡٓ اِسۡرَآءِيۡلَ اذۡكُرُوۡا نِعۡمَتِىَ الَّتِىۡٓ اَنۡعَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ وَاَنِّىۡ فَضَّلۡتُكُمۡ عَلَى الۡعٰلَمِيۡنَ

“Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu, dan Aku telah melebihkan kamu dari semua umat yang lain di alam ini pada masa itu.”

dan juga ayat 122:

يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَاَنِّيْ فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ

“Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan sesungguhnya Aku telah melebihkan kamu daripada semua umat di alam ini (pada masa itu).”

Dalam hal ini, kita tidak sebatas menelusuri kronik sebuah bangsa di masa lalu, melainkan sedang menatap cermin sosiologis yang memantulkan perilaku manusia di hadapan wahyu. Allah mengulang pernyataan “Aku telah melebihkan kamu dari semua umat” bukan sebagai bentuk nostalgia kosongan lalu dijadikan alat untuk melegalkan ambisi ekspansif, melainkan sebagai penegasan tentang beratnya beban sebuah identitas.

Untuk membaca cermin sosiologis tersebut secara utuh, diperlukan pendekatan komparatif yang mempertemukan dua horizon tafsir yang berbeda. Penulis mengomparasikan kedua mufasir ini bukan secara tiba-tiba dan acak, melainkan karena corak yang berbeda dan saling melengkapi. Ath-Thabari, seorang Syaikhul Mufassirin dari abad ke-3 Hijriah, adalah penjaga gerbang tradisi yang memastikan kita tidak kehilangan pijakan riwayat dan konteks historis yang presisi dalam memahami teks Al-Qur’an. Di sisi lain, Rasyid Ridha melalui Tafsir al-Manar di abad ke-20, hadir sebagai mufasir dengan corak adab ijtima‘i yang berupaya membedah psikologi massa dan penyakit sosial umat yang sering kali terjebak dalam formalisme agama.

Baca Juga:  Ketika Tanpa Sadar Kita Hanya Mengikuti Atau Meninggalkan "Jejak" Tak Bermakna

Dengan demikian, pertemuan kedua mufasir ini membentuk dialog lintas zaman yang saling melengkapi: satu menjaga otoritas riwayat, yang lain menghidupkan relevansi sosialnya. Ath-Thabari memberikan kita data berbasis periwayatan, sementara Rasyid Ridha menyuguhkan analisis berbasis observasi sosial yang holistik.

Adapun perbedaan corak di antara keduanya: Thabari dengan dominasi naql (riwayat) dan Al-Manar dengan kekuatan ‘aql (rasio kontekstual). Melalui Thabari, kita memahami identitas Yahudi sebagai entitas sejarah yang terikat ruang dan waktu; namun melalui Rasyid Ridha, kita menyadari bahwa karakter Bani Israil bisa saja menjangkiti siapa pun yang merasa istimewa namun mengabaikan ruh dari pesan ilahi. Tulisan  ini akan menelusuri bagaimana kedua tokoh ini memaknai identitas tersebut, membuktikan bahwa penafsiran Al-Qur’an selalu bersifat dinamis, namun tetap berpijak pada nilai keadilan yang statis.

​Penafsiran Al-Qur’an terhadap eksistensi Bani Israil dalam Surah Al-Baqarah ayat 47 dan 122 memberikan gambaran mendalam mengenai dialektika identitas antara kemuliaan masa lalu dan tanggung jawab iman. Ibn Jarir ath-Thabari, sebagai representasi tafsir bi al-ma’tsur, melihat identitas Yahudi secara historis-kontekstual di mana ‘pengutamaan’ (tafdhil) Allah atas mereka bersifat terbatas pada ruang dan waktu tertentu. Dalam karyanya, Ath-Thabari menegaskan bahwa keutamaan tersebut adalah nikmat bagi para leluhur yang secara otomatis menjadi kehormatan bagi anak cucunya selama mereka menaati Allah. Beliau menuliskan dalam

: وأني فضلتكم على العالمين: أنى فضلت أسلافكم… على عالم من كنتم بين ظهريه وفى زمانه

“Dan sesungguhnya Aku telah melebihkan kamu di atas segala umat” adalah: Aku telah melebihkan nenek moyang kalian… di atas umat yang kalian hidup di tengah-tengah mereka dan sezaman dengan mereka”. (Tafsir Ath-Thabari Juz. 1, 628)

​Lebih lanjut, Ath-Thabari menekankan bahwa pengulangan ayat ini pada ayat 122 berfungsi sebagai ajakan lembut (isti’thaf) bagi komunitas Yahudi di Madinah agar mau merenungkan sejarah dan beriman kepada Nabi Muhammad. Hal ini terlihat jelas pada redaksi berikut

​﴿وهذه الآية عظة من الله تعالى ذكره لليهود… استعطافا منه لهم على دينه، وتصديق رسوله محمد

Baca Juga:  Lafazh `Ajr Hanya Bagi Mereka yang Tak Dapat Dibayar Oleh Dunia

“Ayat ini adalah nasihat dari Allah bagi kaum Yahudi… sebagai bentuk ajakan lembut dari-Nya kepada agama-Nya, dan agar membenarkan utusan-Nya, Muhammad“. (Tafsir Ath-Thabari Juz. 2, 495-496)

​Berbeda dengan ath-Thabari yang menitikberatkan pada kronik sejarah, Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar menggunakan pendekatan psikologi-sosial untuk membedah identitas Bani Israil. Menurutnya, Allah mengingatkan nikmat tersebut untuk menghidupkan kembali rasa harga diri dan kehormatan bangsa yang mulai luntur, sehingga mereka memiliki kekuatan mental untuk meninggalkan tradisi taklid buta. Rasyid Ridha menjelaskan transisi dari pesan global ke yang lebih rinci

 النعمة فى الآية الأولى مجملة والأجمال ينبه الفكر إلى الذكر فى الجملة ، فاذا تلاه التفصيل والبيان كان على استعداد تام لكمال

“Nikmat pada ayat pertama bersifat global, dan penyebutan secara global itu bertujuan menggugah pikiran untuk mengingatnya secara umum. Apabila setelahnya disusul rincian dan penjelasan, maka pikiran berada dalam kesiapan penuh untuk mencapai pemahaman sempurna”. (Tafsir Al-Manar Juz. 1, 302)

​Rasyid Ridha juga mengkritik keras identitas Yahudi yang terjebak pada formalitas ritual tanpa menghadirkan jiwa, dan memuji mereka yang mampu membaca kitab suci dengan pemahaman mendalam (haqqa tilawatih). Beliau menegaskan:

 هم الذين يقدرون ما جئت به من الترقى فى الدين ، و إقامة قواعده على الأساس

“Merekalah orang-orang yang mampu menghargai apa yang engkau [Muhammad] bawa berupa peningkatan dalam beragama, serta tegaknya pondasi agama di atas landasan yang kokoh”. (Tafsir Al-Manar, Juz. 1, 447)

​Secara komparatif, kedua mufasir sepakat bahwa identitas “umat pilihan” bagi Bani Israil bukanlah predikasi omong kosong yang berlaku abadi secara genetik, melainkan posisi yang sangat bergantung pada integritas spiritual. Ath-Thabari membuktikan secara riwayat bahwa umat Muhammad adalah yang terbaik secara absolut, sementara Al-Manar menekankan bahwa identitas mulia hanya bisa dipertahankan melalui tadabbur (perenungan) dan penolakan terhadap taklid yang merusak akal. Dengan demikian, baik dari kacamata klasik ath-Thabari maupun modernitas Rasyid Ridha, identitas Yahudi dalam Al-Qur’an dipotret sebagai pengingat universal bagi setiap umat beriman bahwa kemuliaan nasab tidak akan pernah bisa menggantikan posisi ketaatan pribadi di hadapan Allah SWT.

 

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA