ISLAM LIVE– Ada kata yang tampak tenang di permukaan, tetapi menyimpan lapisan makna yang terus bergerak lintas zaman. Buruj adalah salah satunya. Ia tidak sekadar menunjuk pada gugusan bintang di langit, juga tidak berhenti pada arti “menara” atau “istana tinggi” dalam bahasa Arab klasik. Di antara langit dan bumi, kata ini seperti jembatan yang menghubungkan kosmos, arsitektur, dan bahkan cara manusia menampilkan dirinya.
Dalam teks-teks klasik, buruj adalah al-qushur yang bermakna istana-istana atau bangunan tinggi yang menjulang. Dari akar makna inilah langit disebut memiliki buruj: bukan karena ia benar-benar bertembok batu, tetapi karena ia dipahami sebagai ruang berlapis, berposisi, dan teratur, seperti kota raksasa yang tak terlihat. Al-Qur’an menangkap imajinasi ini dengan sangat puitis:
وَالسَّماءِ ذاتِ الْبُرُوجِ
“Demi langit yang memiliki gugusan-gugusan bintang (buruj)” (QS. Al-Buruj: 1)
Di sini langit tidak hadir sebagai ruang kosong, tetapi sebagai struktur yang tertata. Ia memiliki “menara-menara kosmik”, titik-titik terang yang menjadi penanda arah sekaligus simbol keteraturan semesta. Dalam bacaan lain, Allah digambarkan sebagai Sang Pencipta yang menata ruang itu dengan penuh keindahan:
تَبارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّماءِ بُرُوجاً
“Maha Suci Dia yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang” (QS. Al-Furqon: 61)
Namun bahasa, seperti langit itu sendiri, tidak pernah diam. Dari kosmos, buruj turun ke bumi. Ia menjadi metafora bagi bangunan tinggi, benteng, bahkan ruang perlindungan. Dalam salah satu ayat lain, ia muncul dalam imajinasi yang lebih dekat dengan manusia yang cemas akan takdir:
وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Sekalipun kalian berada di dalam benteng-benteng yang kokoh…” (QS. An-Nisa: 78)
Di titik ini, buruj tidak lagi sekadar bintang. Ia menjadi simbol perlindungan paling kuat yang bisa dibangun manusia. Tetapi ayat itu juga menyimpan ironi halus: sekuat apa pun benteng dibangun, ia tidak pernah bisa benar-benar menahan takdir. Ada sesuatu yang melampaui arsitektur, melampaui keamanan, melampaui kontrol manusia atas hidupnya sendiri.
Dari sini, makna buruj bergerak lagi, memasuki wilayah yang lebih personal bahkan intim: tubuh dan penampilan.
Dalam bahasa Arab, ada istilah tabarruj, yang berakar dari kata yang sama. Ia merujuk pada tindakan menampakkan perhiasan atau daya tarik diri secara mencolok. Al-Qur’an mengingatkan:
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجاهِلِيَّةِ الْأُولى
“Tinggallah di rumah-rumah kalian dan janganlah menampakkan perhiasan seperti pada masa jahiliah dahulu” (QS. Al- Ahzab: 33)
Dan dalam ayat lain disebutkan:
غَيْرَ مُتَبَرِّجاتٍ بِزِينَةٍ
“Tanpa bermaksud menampakkan perhiasan” (QS. An-Nur: 60)
Di sini, buruj yang awalnya adalah struktur langit dan benteng bumi, bertransformasi menjadi bahasa tentang tubuh, penampilan, dan cara manusia “hadir” di hadapan dunia. Dari kosmos yang agung, ia turun menjadi cermin sosial yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Para ulama bahasa mencatat bahwa tabarruj bisa dipahami sebagai “menyerupai menara” sesuatu yang ditinggikan, ditonjolkan, dan ditampilkan agar terlihat. Bahkan dalam perkembangan maknanya, perempuan yang “ber-tabarruj” adalah mereka yang menampakkan keindahan dirinya sebagaimana menara yang sengaja dibuat untuk terlihat dari jauh.
Di sinilah bahasa klasik itu terasa begitu modern. Karena jika ditarik ke hari ini, buruj bukan hanya soal menara batu atau bintang di langit, tetapi juga tentang menara digital yang kita bangun sendiri: media sosial, citra diri, unggahan yang disusun dengan presisi visual, dan kehidupan yang ditampilkan agar “terlihat”.
Kita hidup dalam zaman ketika hampir setiap orang memiliki menaranya sendiri. Bukan lagi benteng fisik, tetapi ruang representasi diri yang kokoh, terkurasi, dan sering kali jauh lebih indah daripada kenyataan sehari-hari. Dalam arti tertentu, manusia modern tidak jauh berbeda dari metafora klasik itu: kita semua sedang membangun menara yang ingin terlihat dari jauh.
Namun di balik semua hal tersebut tersimpan peringatan yang tidak pernah kehilangan relevansi. Bahwa menara, betapapun indah dan tinggi, tidak pernah sepenuhnya melindungi manusia dari kerapuhan eksistensialnya. Bahwa keterlihatan tidak selalu identik dengan ketenangan. Dan bahwa keindahan yang ditampilkan, jika tidak disadari batasnya, bisa berubah menjadi beban.
Dalam puisi Arab lama, disebutkan bahwa
“siapa pun yang takut pada sebab-sebab kematian, ia tetap akan ditemui oleh kematian itu, bahkan jika ia naik ke langit dengan tangga”
Gagasan ini menggaungkan kembali ayat tentang benteng kokoh tadi: tidak ada struktur, setinggi apa pun, yang benar-benar mampu menunda apa yang sudah ditetapkan bagi manusia.
Maka buruj, dalam seluruh lapisan maknanya, adalah cermin tentang keterbatasan dan keagungan sekaligus. Ia adalah langit yang tertata, bumi yang dibentengi, dan tubuh yang ditampilkan. Ia adalah simbol tentang bagaimana manusia selalu hidup di antara dua dorongan: ingin terlindungi, dan ingin terlihat.
Di titik ini, buruj bukan lagi sekadar kata. Ia menjadi cara membaca dunia. Bahwa hidup manusia selalu berada di antara dua menara: satu mengarah ke dalam, sebagai perlindungan; satu lagi mengarah ke luar, sebagai penampilan. Dan di antara keduanya, manusia terus berusaha menyeimbangkan apa yang ia jaga dan apa yang ia tampakkan.
Mungkin itulah mengapa kata ini tetap hidup hingga sekarang. Karena ia tidak pernah berhenti pada satu makna. Ia bergerak seperti bintang-bintang yang ia sebutkan: berpindah, berkelip, tetapi tetap berada dalam satu langit yang sama.
Dan seperti langit itu pula, buruj mengingatkan bahwa segala yang kita bangun; baik menara batu, citra diri, maupun cerita tentang diri kita sendiri, pada akhirnya selalu berada di bawah sesuatu yang jauh lebih luas, lebih sunyi, dan lebih tak terjangkau daripada yang bisa kita kuasai.
