ISLAM LIVE – Di tengah dunia yang penuh janji, sumpah, dan kontrak—manusia sering lupa bahwa sebuah ikatan tidak hanya dibangun dengan kata-kata, tetapi juga dengan kesetiaan. Banyak hubungan runtuh bukan karena tidak pernah ada kesepakatan, melainkan karena manusia sendiri yang merusak ikatan yang pernah ia buat.
Al-Qur’an menggambarkan sikap ini melalui sebuah perumpamaan yang tajam dalam Surah An-Nahl ayat 92. Allah berfirman:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنۢ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ أَن تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَىٰ مِنْ أُمَّةٍ ۚ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ اللَّهُ بِهِ ۚ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai-berai kembali. Kamu menjadikan sumpahmu sebagai alat penipu di antara kamu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu, dan pasti Dia akan menjelaskan kepadamu pada hari kiamat apa yang dahulu kamu perselisihkan.” (QS. An-Nahl: 92)
Ayat ini turun dalam konteks masyarakat awal Islam yang penuh tekanan. Saat itu, kaum Muslim masih menjadi kelompok kecil. Mereka menghadapi tekanan dari keluarga, lingkungan, dan masyarakat yang mayoritas masih menolak dakwah Nabi Muhammad SAW. Sebagian tetap teguh meski harus kehilangan harta, kedudukan, bahkan nyawa. Namun sebagian lainnya goyah ketika menghadapi beratnya perjalanan iman.
Al-Qur’an kemudian menghadirkan gambaran yang sederhana tetapi menghunjam: seorang perempuan yang setiap hari memintal benang dengan susah payah, lalu setelah benang itu menjadi kuat ia justru menguraikannya kembali hingga hancur.
Perumpamaan itu bukan sekadar cerita tentang pekerjaan yang sia-sia. Ia adalah gambaran tentang manusia yang membangun sesuatu dengan perjuangan, lalu menghancurkannya sendiri.
Dalam riwayat yang dikutip para ulama tafsir, perempuan tersebut dikenal sebagai sosok yang memiliki kebiasaan aneh: pada pagi hari ia memintal bulu domba menjadi benang, tetapi ketika sore tiba ia memerintahkan agar hasil pintalannya dibongkar kembali. Pekerjaan yang dilakukan sepanjang hari tidak menghasilkan apa-apa karena ia sendiri merusaknya.
Begitulah gambaran orang yang membangun iman, membuat janji, menyatakan komitmen, lalu meninggalkan semuanya hanya karena godaan sesaat.
Perumpamaan “mengurai benang setelah kuat” menjadi sangat relevan untuk kehidupan manusia modern. Banyak orang menghabiskan waktu bertahun-tahun membangun kepercayaan, reputasi, keluarga, dan hubungan sosial. Namun satu tindakan pengkhianatan dapat menghancurkan semuanya dalam sekejap.
Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa kekuatan tidak hanya berasal dari jumlah atau kekuasaan. Benang yang terpisah mudah diputus, tetapi ketika dipintal menjadi satu ia mampu menjadi kain, tali, bahkan sesuatu yang kuat untuk menahan beban.
Begitu pula manusia. Individu yang tercerai-berai oleh ego, kepentingan pribadi, dan perpecahan akan mudah melemah. Tetapi ketika bersatu dalam nilai, tanggung jawab, dan kejujuran, mereka memiliki kekuatan yang jauh lebih besar.
Dalam konteks iman, ayat ini mengajarkan bahwa agama bukan hanya soal pengakuan, melainkan juga kesetiaan terhadap komitmen. Seseorang tidak cukup hanya menyatakan percaya, tetapi harus menjaga konsekuensi dari kepercayaan tersebut.
Karena itu Rasulullah saw bersabda:
“لَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ”
“Tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.”
Hadis ini menggambarkan bahwa kesetiaan terhadap janji bukan perkara kecil. Orang yang mudah mengingkari komitmen kepada manusia juga sedang menunjukkan masalah dalam hubungannya dengan nilai-nilai ketuhanan.
Makna ini juga terlihat dalam nasihat Imam Ali kepada Malik Al-Asytar tentang kepemimpinan. Ia menekankan agar seseorang menjaga perjanjian yang telah dibuat, bahkan terhadap pihak yang berbeda atau bermusuhan. Sebab kehormatan manusia terlihat dari kemampuannya menjaga amanah.
Sejarah juga menunjukkan bagaimana masyarakat yang kehilangan komitmen dapat berubah menjadi contoh tragis. Dalam kisah Karbala, misalnya, terdapat kritik terhadap mereka yang sebelumnya memberikan janji dukungan kepada Imam Husain, tetapi kemudian menarik kembali komitmennya karena tekanan dan kepentingan.
Pesan yang muncul bukan hanya tentang peristiwa masa lalu, melainkan tentang sifat manusia yang selalu berulang: mudah berjanji ketika keadaan menguntungkan, tetapi sulit bertahan ketika ujian datang.
Pada akhirnya, Surah An-Nahl ayat 92 mengajak manusia melihat kembali benang-benang kehidupan yang sedang ia pintal. Apakah ia sedang membangun sesuatu yang kokoh, atau justru diam-diam mengurai hasil perjuangannya sendiri?
Sebab dalam perjalanan hidup, yang menentukan bukan hanya seberapa kuat seseorang memulai, tetapi seberapa setia ia menjaga ikatan hingga akhir.
