Ibn ‘Arabi dan Rahasia Keadilan Tuhan

12 views
Gambar Hanya Ilustrasi

ISLAM LIVE- Ketika mendengar kata ‘keadilan’, kebanyakan dari kita akan membayangkan pembagian hak secara seimbang sesuai porsinya. Dalam kehidupan sehari-hari, keadilan memang sering dipahami sebagai sikap memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya. Namun, bagi seorang sufi sekaligus filosof besar seperti Ibn ‘Arabi, makna keadilan jauh melampaui persoalan seputar sosial dan hukum. Keadilan adalah salah satu rahasia terdalam yang menjelaskan mengapa alam semesta diciptakan dan mengapa setiap makhluk hadir dengan keadaan yang berbeda-beda.

Dalam pandangan Ibn ‘Arabi, keadilan bukan hanya suatu sifat yang harus dimiliki manusia, melainkan prinsip yang mendasari seluruh penciptaan. Langit, bumi, waktu, dan seluruh makhluk berdiri di atas fondasi keadilan Ilahi. Karena itu, untuk memahami keadilan yang dalam hal ini menggunakan kacamata Ibn ‘Arabi, kita tidak cukup melihat hubungan antarmanusia, tetapi harus melihat bagaimana Tuhan mengatur seluruh realitas.

العدل هو الحق المخلوق به السموات والأرض

“Keadilan adalah al-Haqq (Kebenaran) yang dengannya langit dan bumi diciptakan.” (al-Futūḥāt al-Makkiyyah, Juz 2, 60)

Beliau kemudian mengaitkannya dengan firman Allah:

وَمَا خَلَقْنَاهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ

“Kami tidak menciptakan keduanya kecuali dengan al-Haqq.” (QS. Al-Hijr [15]: 85)

Kutipan ini menunjukkan bahwa keadilan bukan pertama-tama berbicara tentang hukum atau moralitas, melainkan tentang prinsip dasar yang menopang keberadaan alam semesta. Alam tidak tercipta secara acak tanpa algoritma, melainkan berdasarkan kebenaran dan kebijaksanaan yang sempurna. Segala sesuatu memperoleh eksistensinya sesuai dengan ukuran dan hakikat yang telah ditentukan baginya.

Sebagai ilustrasi sederhana, bayangkan misalnya sebuah jam dinding. Nah, keadilan bagi jam tersebut bukanlah menjadikannya sama dengan kursi atau meja. Keadilan bagi jam adalah ketika ia memiliki kemampuan untuk menjalankan fungsi yang sesuai dengan hakikat penciptaannya, yaitu menunjukkan waktu. Demikian juga manusia. Keadilan Tuhan tidak selalu berarti kesamarataan, tetapi kesesuaian antara apa yang diberikan dengan hakikat penerimanya.

Tuhan mengetahui seluruh kemungkinan makhluk bahkan sebelum mereka diwujudkan. Tuhan mengetahui apa yang layak bagi setiap entitas dan apa yang menjadi tuntutan hakikatnya. Oleh karena itu, perbedaan yang kita lihat hari ini di dunia bukanlah bentuk ketidakadilan, melainkan manifestasi dari pengetahuan dan hikmah Ilahi.

ولولا ذلك لكانت نسبة الممكنات في قضية العقل فيما يجب لها من الوجود نسبة واحدة وليس الأمر كذلك

“Seandainya bukan karena hal itu (ilmu Tuhan yang rinci), niscaya nisbah (hubungan/porsi) segala sesuatu yang mungkin terjadi (al-mumkinat) dalam pandangan akal, terkait apa yang wajib bagi mereka dari wujud (hak eksistensinya), akan menjadi satu nisbah yang sama saja (seragam). Namun perkaranya tidaklah demikian.”(al-Futūḥāt al-Makkiyyah, Juz 2, 60)

Pernyataan ini mengandung pesan yang mendalam. Jika Tuhan memperlakukan semua makhluk secara identik, maka seluruh realitas akan menjadi seragam. Tidak akan ada perbedaan kemampuan, karakter, kondisi, ataupun peran. Namun Tuhan mengetahui bahwa setiap entitas memiliki kesiapan dan kapasitas yang berbeda. Karena itu, keadilan tidak berarti memberikan hal yang sama kepada semua makhluk, tetapi memberikan kepada masing-masing apa yang sesuai dengan hakikatnya.

Baca Juga:  Kolonialisme Mikro, Meso dan Makro

Pemahaman ini membawa Ibn ‘Arabi kepada hubungan antara keadilan dan qadar. Menurut beliau, keadilan Tuhan tidak hanya tampak dalam apa yang diberikan kepada makhluk, tetapi juga kapan pemberian itu terjadi. Waktu, keadaan, dan sifat yang dimiliki setiap makhluk merupakan bagian dari ketetapan Ilahi yang sangat presisi.

فأعطى كل شيء خلقه من زمانه فيمن يتقيد وجوده بالزمان ومن حاله فيمن يتقيد وجوده بالحال ومن صفته فيمن يتقيد وجوده بالصفة

“Maka Dia memberikan kepada setiap sesuatu bentuk penciptaannya: dari sisi waktunya bagi mereka yang eksistensinya terikat oleh waktu; dari sisi keadaannya bagi mereka yang eksistensinya terikat oleh keadaan; dan dari sisi sifatnya bagi mereka yang eksistensinya terikat oleh sifat.” (al-Futūḥāt al-Makkiyyah, Juz 2, 60)

Melalui penjelasan ini, Ibn ‘Arabi ingin menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu yang hadir atau dihadirkan terlalu cepat atau terlalu lambat dalam tatanan Ilahi. Setiap makhluk memperoleh waktunya sendiri, keadaannya sendiri, dan sifatnya sendiri. Apa yang sering kita anggap sebagai kebetulan sesungguhnya merupakan bagian dari keteraturan yang telah ditetapkan.

Baca Juga:  Ketika Akal Bertemu Wahyu: Warisan Pemikiran Ibnu Sina untuk Dunia Modern

Selanjutnya, Ibn ‘Arabi menjelaskan makna bahasa dari kata ’adl/ adil itu sendiri. Secara etimologis, kata tersebut berarti kecenderungan atau kemiringan. Seseorang disebut adil ketika kecenderungannya mengarah kepada kebenaran, sedangkan ia disebut zalim ketika kecenderungannya menjauh dari kebenaran. Dalam konteks ketuhanan, keadilan adalah kecenderungan Ilahi untuk memberikan kepada setiap makhluk apa yang memang menjadi hak dan kelayakannya.

Sebagian orang mungkin bertanya, jika segala sesuatu diciptakan berdasarkan keadilan Ilahi, lalu bagaimana dengan kezaliman yang terjadi di dunia? Dalam pandangan Ibn ‘Arabi, kezaliman tetap merupakan penyimpangan karena tidak memberikan kepada sesuatu apa yang menjadi haknya. Walaupun demikian, kezaliman tetap tidak berada di luar pengetahuan dan hikmah Tuhan. Karena itu, keberadaan kezaliman tidak membebaskan manusia dari tanggung jawab moral. Justru manusia diperintahkan untuk menegakkan keadilan, membela yang tertindas, dan mengembalikan segala sesuatu kepada tempat yang semestinya.

Dari sini kita dapat memahami mengapa Ibn ‘Arabi memandang keadilan sebagai salah satu fondasi utama realitas. Ternyata, keadilan menurutnya bukanlah keseragaman, dan keadilan juga bukan pemberian yang sama kepada semua pihak, tapi keadilan adalah penempatan segala sesuatu pada posisi yang paling sesuai dengan hakikatnya.

Framework keadilan dalam hal ini, secara tidak langsung mengajak kita melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas. Perbedaan kondisi, kemampuan, kesempatan, bahkan ujian yang dialami manusia tidak selalu menunjukkan adanya ketidakadilan. Bisa jadi semuanya merupakan bagian dari distribusi Ilahi yang telah disesuaikan dengan hakikat masing-masing individu. Apa yang tampak tidak seimbang dari sudut pandang manusia, mungkin justru merupakan bentuk keseimbangan yang sempurna dalam pengetahuan Tuhan yang Maha luas.

Ibn ‘Arabi seolah-olah mengajarkan bahwa keadilan Tuhan bukan berarti semua orang memperoleh hal yang sama, melainkan setiap makhluk memperoleh apa yang paling sesuai baginya. Dengan memahami hal ini, manusia dapat belajar untuk lebih bersyukur, lebih bijaksana dalam menilai kehidupan, dan lebih mudah berdamai dengan takdir tanpa kehilangan semangat untuk terus berusaha dan berbuat adil kepada sesama. (*)

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA