ISLAM LIVE – Di negara yang menganut sistem demokrasi, pemimpin dipilih melalui suara rakyat. Tujuan dari sistem ini tentu baik, yakni agar masyarakat dapat memilih sosok pemimpin yang amanah, jujur, dan mampu mengurus negara dengan benar.
Setiap orang pasti menginginkan negaranya dipimpin oleh pejabat yang kompeten dan memiliki hati yang lurus. Namun ironisnya, dalam dunia politik, khususnya demokrasi, kepemimpinan itu ibarat minyak dan air yang berada dalam satu wadah. Selalu ada pemimpin yang baik, tetapi ada pula pejabat yang buruk moralnya.
Ketika pejabat yang buruk lebih dominan, dampaknya akan terasa kepada seluruh sistem pemerintahan. Walhasil, pejabat yang masih baik pun ikut terseret oleh keadaan. Negara mulai mengalami banyak persoalan, ekonomi melemah, harga kebutuhan naik, dan rakyat kecil menjadi pihak yang paling merasakan penderitaan.
Tetapi ketika rakyat merasa salah memilih pemimpin, mengutuk pemerintah atau melakukan makar terhadap negara bukanlah jalan keluar yang baik.
Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan bahwa Allah berfirman:
“Janganlah kalian menyibukkan diri dengan mengutuk penguasa, akan tetapi sibukkanlah diri kalian dengan zikir dan merendahkan diri di hadapan Allah. Maka Aku akan menjamin kalian dari kebengisan dan kekejaman penguasa kalian.”
Hadis ini diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir melalui jalur riwayat dari Abu Amr Al Miqdam dari Ali bin Ma’bad dari Wahb bin Rasyid dari Malik bin Dinar dari Hallas bin Amr dari Abu Darda Ra dari Rasulullah Saw.
Meskipun dari sisi sanad riwayat ini memiliki kelemahan. Beberapa perawinya seperti Abu Amr Al Miqdam dinilai bermasalah dan Wahb bin Rashid dinilai lemah oleh ahli hadis. Namun dari sisi kandungan, hadis ini memiliki makna yang benar, yakni anjuran agar masyarakat tidak tenggelam dalam kebencian dan amarah ketika menghadapi pemimpin yang tidak sesuai harapan.
Sebab jika rakyat hanya sibuk mencaci pemerintah siang dan malam, yang lahir bukan solusi, tetapi kebencian sosial yang semakin besar.
Politik Barbar dan Budaya Kemarahan
Jika melihat kondisi politik hari ini, tidak sedikit rakyat yang meluapkan kekecewaannya melalui media sosial. Meme satire, hinaan, hingga ejekan kepada pemerintah tersebar hampir setiap hari di Instagram, Facebook, YouTube, maupun X.
Dalam negara demokrasi, kritik seperti itu tentu hal yang wajar. Pemerintah memang memiliki tanggung jawab kepada rakyat, sehingga masyarakat berhak mengawasi dan mengkritik kebijakan negara.
Namun persoalannya berbeda ketika kemarahan berubah menjadi tindakan barbar, kerusuhan, atau pengerusakan fasilitas umum. Apalagi jika aksi tersebut justru merugikan rakyat sendiri.
Kemarahan massa sering kali membuat akal sehat hilang. Orang merasa sedang memperjuangkan keadilan, padahal yang terjadi justru memperparah keadaan.
Dalam pandangan agama, membuat kerusakan yang lebih besar demi melawan kerusakan yang kecil bukanlah tindakan yang dibenarkan.
Bersabar Ketika Negara Sedang Sulit
Ketika negara sedang kacau dan ekonomi melesu adalah sikap yang harus dipilih, terkadang tidak ada jalan terbaik selain bersabar dan tetap berusaha memperbaiki keadaan.
Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Sesungguhnya kalian akan menemukan setelahku orang-orang yang mementingkan dirinya sendiri dengan kekuasaan. Maka bersabarlah hingga kalian bertemu denganku di telaga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah sudah memberi isyarat akan muncul pemimpin yang egois dan lebih mementingkan kepentingannya sendiri.
Namun Nabi tidak memerintahkan umatnya untuk membuat kekacauan, melainkan bersabar sambil tetap menjaga agama dan persatuan.
Dalam Islam, pemimpin tetap wajib ditaati selama tidak memerintahkan kemaksiatan. Sebab tujuan utama ketaatan kepada ulil amri adalah menjaga stabilitas masyarakat agar tidak terjebak dalam konflik berkepanjangan.
Bayangkan jika setiap kelompok yang kecewa terhadap pemerintah langsung mengangkat senjata. Negara tidak akan pernah tenang dan rakyat akan terus hidup dalam pertumpahan darah.
Karena itu, solusi terbaik ketika pemerintahan sedang tidak stabil adalah tetap menjaga ketertiban, menaati aturan yang baik, dan mengkritik pemerintah dengan cara yang konstitusional.
Abdullah bin Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Wajib bagi seorang Muslim untuk mendengar dan taat kepada pemimpinnya dalam hal yang ia sukai maupun yang ia benci, kecuali jika diperintahkan berbuat maksiat. Jika diperintahkan berbuat dosa, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat.”(HR. Bukhari)
Hadis ini menjadi batas yang jelas. Ketaatan kepada pemerintah bukan berarti membenarkan semua tindakan penguasa, tetapi menjaga negara agar tidak jatuh ke dalam kekacauan.
Kritik Tetap Boleh, Tapi Jangan Merusak
Siapa pun pasti gemas ketika melihat pejabat memerintah secara ugal-ugalan. Rakyat berhak kecewa ketika korupsi merajalela, ekonomi sulit, dan hukum terasa tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas.
Namun tugas rakyat bukan membuat kerusuhan, melainkan memperbaiki diri, memperkuat ketakwaan, dan terus mengingatkan pemerintah dengan cara yang benar.
Selama pemerintah masih memiliki itikad baik kepada rakyat, masih menghormati agama dan ulama, serta belum terang-terangan menghalalkan kezaliman, maka tindakan revolusi dan kekerasan tidak dibenarkan.
Amar makruf nahi mungkar tetap harus dilakukan, tetapi dengan hikmah dan cara yang tidak menimbulkan kerusakan lebih besar.
Karena pada hakikatnya, krisis yang menimpa sebuah negara juga merupakan ujian bagi pemimpinnya.
Sangat baik jika kita merenungkan nasihat dari Imam Ahlulbait Nabi Muhammad saw, yaitu Ali Zainal Abidin.
Beliau pernah menulis nasihat kepada masyarakat Islam yang saat itu hidup di tengah krisis moral akibat buruknya pemerintahan.
Imam Zainal Abidin berkata:
“Hak pemegang kekuasaan adalah engkau harus mengetahui bahwa Allah menjadikanmu sebagai ujian baginya. Allah sedang mengujinya melalui kekuasaan yang diberikan atas dirimu. Maka berikanlah nasihat dengan tulus kepadanya. Jangan bertengkar dengannya selama ia masih memiliki kekuasaan atasmu, sebab hal itu dapat menghancurkan dirimu dan dirinya. Bersikaplah rendah hati dan sopan dalam menerima kebijakannya selama agamamu tidak dirusak, dan mintalah pertolongan Allah dalam menghadapi semua itu.” (HR. Syaikh Shaduq)
Nasihat ini sangat relevan hingga hari ini. Bahwa menghadapi pemimpin yang buruk bukan berarti rakyat harus kehilangan akhlak dan akal sehatnya.
Karena kadang sebuah bangsa tidak hancur hanya karena pemimpinnya buruk, tetapi karena rakyatnya juga tenggelam dalam kebencian, amarah, dan kehilangan kesabaran.*
