ISLAM LIVE – Pemerintah Provinsi Jawa Barat secara resmi menetapkan tanggal 18 Mei sebagai Hari Tatar Sunda. Ketetapan yang tertuang dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Jabar Nomor 13 Tahun 2026 ini berfokus murni untuk menjaga akar sejarah, memperkuat identitas, serta melestarikan nilai-nilai budaya Sunda di masyarakat.
Agenda bersejarah yang mengusung tema “Nyuhun Buhun, Nata Nagara” ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA), yang memberikan dukungan penuh terhadap upaya penguatan literasi budaya di tingkat provinsi.
Kirab Budaya dan Pesona Seni Nusantara
Peringatan ini dimeriahkan dengan rangkaian Kirab Budaya bertajuk “Mahkota Ajeg Ki Sunda”. Acara ini tidak hanya melibatkan unsur seni tradisional dari 27 Kabupaten/Kota di Jawa Barat, tetapi juga menyambut kehadiran kesenian tamu dari berbagai provinsi di Indonesia.
Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Bogor Raya, Dr. H. Naufal Ramadian, M.Si. yang turut hadir di Bandung pada Minggu (17/5), memberikan apresiasinya. Menurutnya, kegiatan ini sangat krusial untuk menumbuhkan semangat pelestarian budaya di kalangan generasi muda.
“Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat menjaga dan mengenalkan budaya Sunda terus tumbuh, sekaligus menjadi sarana mempererat persatuan bangsa melalui keberagaman seni Nusantara,” ujar H. Naufal.
Peuting Munggaran: Drama Kolosal Bertabur Bintang di Gedung Sate
Sebagai puncak sekaligus penutup rangkaian Milangkala, digelar pertunjukan drama kolosal bertajuk Peuting Munggaran di halaman Gedung Sate, Bandung. Drama ini mengusung tema filosofis: “Tak tentang keruntuhannya, tentang kebangkitannya kembali”.
Panggung megah tersebut menghadirkan perpaduan apik antara seni, musik, dan drama yang menggambarkan keagungan budaya Sunda. Pertunjukan ini semakin istimewa dengan kehadiran deretan seniman dan musisi ternama, mulai dari Sudjiwo Tejo, Happy Salma, Hetty Koes Endang, Ohang, Inaya Wahid, Dira Sugandi, hingga Trie Utami.
Peluncuran Ensiklopedia Ki Sunda: Memadukan Filosofi dan Teknologi
Selain aspek pertunjukan, momen ini juga menandai langkah konkret dalam pendokumentasian nilai budaya melalui penyerahan Buku Ensiklopedia Ki Sunda kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Buku ini disusun oleh tim ahli yang diketuai oleh Bagus Muljadi, Assistant Professor dari University of Nottingham. Ensiklopedia ini mengupas tuntas filosofi alam, manusia, dan teknologi, serta menekankan konsep Tritangtu: Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh—sebuah konsep interaksi harmonis antara manusia dengan sesama dan alam semesta.
Direktur Pusat Studi Budaya Sunda Universitas Muhammadiyah Bogor Raya, Ambu Meita, turut memberikan pandangannya terkait ruang budaya yang dibuka oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat ini.
“Budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi bagian dari identitas dan karakter bangsa yang harus kita rawat bersama. Merawat budaya bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi menjaga arah masa depan,” tegas Ambu Meita.
Kini, dengan ditetapkannya Hari Tatar Sunda, masyarakat Jawa Barat memiliki momentum tahunan untuk kembali menengok akar budaya mereka demi melangkah lebih mantap ke masa depan.
