ISLAM LIVE – Amerika Serikat memilih berhati-hati menyikapi ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) setelah muncul tuduhan bahwa serangan udara UEA di Aden pada 7–8/10/2026 menargetkan pasukan pemerintah Yaman.
Juru bicara Pentagon Rebecca Rebairch menyatakan setiap negara “berhak membela kepentingannya” dan mengarahkan pertanyaan mengenai serangan tersebut kepada pihak Emirat. Pernyataan itu disampaikan ketika Washington menghadapi kepentingan keamanan yang saling terkait dengan Riyadh dan Abu Dhabi.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada 5/10/2026 juga menyatakan Saudi “berhak membela diri”, tetapi tidak merinci bentuk dukungan yang akan diberikan Washington. Sementara itu, Presiden Donald Trump pada 10/10/2026 menyebut AS “mungkin” bergabung dalam serangan Saudi terhadap Houthi dan akan “segera mengambil keputusan”.
Sikap AS tersebut menyoroti tantangan diplomatik dalam menjaga hubungan dengan dua mitra strategis di tengah konflik Yaman. Namun, sejumlah klaim mengenai kebijakan dan dukungan militer Washington dalam bahan sumber masih memerlukan verifikasi independen, termasuk konfirmasi pernyataan Pentagon melalui transkrip resmi.
