ISLAM LIVE – Diriwayatkan dari Imam Ali bin Abi Thalib as bahwa selaku Khalifah Islam ia memberi pesan dan perintah kepada para pemimpin daerah yang berada di bawah pemerintahan kaum Muslim, pesan yang berisi larangan itu berbunyi:
“Janganlah para petani ditindas di hadapanmu; janganlah pajak tanah yang telah ditetapkan dinaikkan; dan janganlah kaum Muslim (yaitu pekerja upahan) dieksploitasi.”
(HR Al-Kulaini, Furu’ min Al-Kafi)
Cuplikan riwayat di atas merupakan petuah Imam Ali as yang sampai hari ini masih sangat relevan dengan keadaan zaman modern. Dalam pesan singkat tersebut, setidaknya terdapat tiga perintah penting bagi para pemimpin, termasuk para pemimpin di negeri kita sendiri.
Jangan Menindas Petani
Pesan pertama Imam Ali as berbunyi: “Janganlah para petani ditindas di hadapanmu.”
Maksudnya jelas, seorang pemimpin yang baik harus memiliki keberpihakan kepada para petani. Petani adalah kelompok yang paling vital dalam kehidupan manusia. Dari tangan merekalah lahir bahan pangan yang menjadi tulang punggung kehidupan negara.
Tanpa petani, manusia tidak akan bertahan hidup. Sebab sehebat apa pun teknologi, manusia tetap membutuhkan nasi untuk dimakan, sayur untuk dikonsumsi, dan hasil bumi untuk menopang kehidupan.
Karena itu, dalam Islam, profesi petani dipandang sebagai pekerjaan yang mulia dan penuh berkah.
Nabi Muhammad saw bersabda:
“Setiap Muslim yang menanam atau mengolah sesuatu yang dapat dimakan oleh manusia, hewan, atau burung, maka hal itu dihitung sebagai sedekah baginya.” (HR An-Nuri, Mustadrak al-Wasa’il)
Hadis ini menunjukkan bahwa pekerjaan petani bukan sekadar urusan ekonomi, tetapi juga memiliki nilai ibadah dan kemanusiaan yang tinggi.
Sayangnya, para petani hampir di setiap zaman justru menjadi kelompok yang paling sering ditindas. Dalam sejarah, mereka kerap menjadi korban pejabat zalim, tuan tanah rakus, dan mafia pangan yang memainkan harga komoditas seenaknya.
Harga hasil tani ditekan serendah mungkin ketika panen raya, sementara pupuk dan kebutuhan produksi terus naik. Belum lagi kasus perampasan tanah yang sering terjadi dengan berbagai modus.
Karena itu Imam Ali as mengingatkan para pejabatnya agar menjaga hak dan keselamatan para petani. Jangan sampai air mata mereka jatuh di sawah yang mereka garap sendiri, sementara hasil jerih payahnya dinikmati oleh para elite yang tidak pernah turun ke lumpur.
Jangan Menaikkan Pajak secara Zalim
Pesan kedua Imam Ali as adalah, “Janganlah pajak tanah yang telah ditetapkan dinaikkan.”
Dalam sejarah Islam klasik, pembahasan soal pajak memang cukup panjang. Banyak hadis Nabi Suci SAAW yang mengkritik praktik pemungutan pajak secara zalim.
Nabi Muhammad saw bersabda:
“Sesungguhnya pelaku atau pemungut pajak (zalim) berada di neraka.” (HR Ahmad, Musnad Ahmad bin Hanbal)
Konteks pajak dalam riwayat Imam Ali as di awal berkaitan dengan kharaj, yaitu pajak tanah yang dikenakan kepada non-Muslim atau ahludz dzimmah di wilayah pemerintahan Islam.
Ketika Islam berhasil menaklukkan Persia, Syam, Mesir, Afrika Utara hingga Andalusia, para penduduk setempat tidak dipaksa masuk Islam. Mereka tetap bebas menjalankan keyakinannya, dan sebagai bentuk loyalitas kepada negara mereka dikenakan pajak tertentu.
Meski demikian, Islam tetap mewajibkan agar ketetapan pajak yang dikenakan ke mereka harus adil dan manusiawi. Karena itu Imam Ali as melarang para pejabat daerah menaikkan pajak secara semena-mena.
Pesan ini terasa sangat relevan dengan kondisi hari ini. Kita masih ingat bagaimana beberapa waktu lalu sejumlah pemerintah daerah menaikkan pajak bumi dan bangunan secara gila-gilaan, bahkan ada yang mencapai lebih dari 100 persen.
Akibatnya rakyat kecil menjerit. Banyak orang kesulitan membayar pajak rumah mereka sendiri. Ironisnya, ketika masyarakat mengeluh, ada pejabat yang justru mencemooh dan menganggap protes itu sebagai sesuatu yang berlebihan.
Padahal kebijakan semacam dia yang menaikkan tarif pajak bumi sangat bertentangan dengan asas kemanusiaan dan agama. walhasil, sekarang Allah membalas perbuatan si pejabat itu dengan memasukkannya ke “hotel prodeo” milik KPK. Alhamdulillah.
Jangan Eksploitasi Buruh
Pesan ketiga Imam Ali as berbunyi, “Janganlah kaum Muslim, (yaitu para pekerja upahan) dieksploitasi.”
Pesan ini mungkin menjadi salah satu yang paling relevan dengan kondisi zaman sekarang. Isu perburuhan selalu menjadi persoalan besar di setiap masa pemerintahan dan selalu muncul setiap musim pemilu.
Pada peringatan Hari Buruh 1 Mei 2026 lalu, para pekerja menyampaikan banyak tuntutan. Mulai dari penghapusan pajak THR, pemberian bonus tahunan, jaminan hari tua, perlindungan terhadap pekerja perempuan dari kekerasan di tempat kerja, hingga penurunan potongan aplikasi bagi driver ojek online.
Tuntutan itu muncul bukan tanpa alasan. Sampai hari ini masih banyak pekerja yang diperas tenaganya tetapi diberi upah minim.
Banyak buruh perempuan mengalami pelecehan dan kekerasan di tempat kerja. Sementara para pekerja lepas dipotong penghasilannya secara tidak adil.
Padahal Nabi Muhammad SAAW telah mengingatkan: “Berikanlah upah kepada pekerja sebelum keringatnya kering.”(HR Ibnu Majah)
Hadis ini bukan sekadar perintah membayar gaji tepat waktu. Lebih dari itu, seorang pekerja harus diberi upah yang layak sesuai dengan jerih payah dan tenaga yang telah ia keluarkan.
Jangan sampai terjadi upah yang didapat tidak seberapa namun si buruh telah bekerja banting tulang melampaui tugas yang disepakati dengan majikannya.
Nabi Muhammad saw bersabda:
“Janganlah kamu membebankan pekerjaan yang melebihi kemampuan mereka.”(HR Al-Kulaini, Furu’ min Al-Kafi).
Namun kenyataannya, eksploitasi terhadap pekerja masih terjadi di mana-mana. Bahkan kita sering mendengar kasus pekerja migran Indonesia yang disiksa, diperlakukan tidak manusiawi, bahkan diperbudak di luar negeri. Ini menjadi catatan penting bagi pemerintah kita.
Seorang pemimpin tidak selesai bekerja hanya karena berhasil menang pilpres atau pilkada. Seorang pemimpin baru benar-benar selesai ketika rakyatnya sudah terpenuhi kebutuhan dasarnya dan terbebas dari eksploitasi.
Sebab inti dari kekuasaan bukanlah jabatan, melainkan tanggung jawab. Dan inti dari kepemimpinan bukanlah pencitraan, melainkan keberpihakan kepada rakyat kecil.
Petuah Imam Ali bin Abi Thalib as di atas menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan sebuah pemerintahan bukan seberapa megah gedungnya atau seberapa banyak proyeknya, tetapi seberapa aman petaninya, seberapa ringan beban rakyatnya, dan seberapa manusiawi nasib para buruhnya.
Karena jika petani menangis, rakyat dicekik pajak, dan buruh diperas tenaganya, maka sesungguhnya yang gagal bukan rakyatnya, tetapi para pemimpinnya.*
