ISLAM LIVE – Pondok Pesantren Terpadu Al Yasini, Pasuruan, Jawa Timur, menunjukkan kemandirian ekonomi melalui pengelolaan 19 unit retail, produk air minum kemasan sendiri, serta KSPPS dengan 10 kantor layanan. Pesantren yang berdiri sejak 1940 itu kini mengasuh 4.561 santri.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Yasini, Nanik Asnawati, memaparkan bahwa kemandirian ekonomi dikembangkan untuk menopang keberlanjutan pendidikan sekaligus pemberdayaan masyarakat. “Saat ini, Koperasi Pesantren Al Yasini memiliki 19 unit retail, produk air minum dalam kemasan Al Yasini yang ada di hadapan Bapak, itu adalah milik kami sendiri, serta KSPPS dengan 10 kantor layanan,” kata Nanik Asnawati, Pengasuh Pondok Pesantren Al Yasini.
Hasil usaha pesantren tidak hanya digunakan untuk operasional, tetapi juga mendukung berbagai program pendidikan dan sosial. “Manfaat usahanya disalurkan setiap tahun melalui beasiswa santri tahfidz, santri berprestasi, bantuan seragam, fasilitas belajar, dan sedikitnya 1.000 paket sembako kami bagikan setiap bulan Ramadhan,” kata dia.
Selain itu, Al Yasini juga menyalurkan hewan kurban serta bantuan pembangunan dan renovasi fasilitas masyarakat. Penyaluran tersebut menjadi bagian dari komitmen pesantren untuk memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Pada 2026, Kopontren Al Yasini meraih Juara 1 Koperasi Berprestasi Jawa Timur kategori kopontren mandiri dan Juara 1 Santripreneur Nasional kategori perdagangan. Capaian ini menunjukkan model usaha pesantren mampu bersaing di tingkat provinsi maupun nasional.
Al Yasini juga mengelola wakaf uang dan dana abadi berbasis syariah untuk menopang keberlanjutan pengabdian pesantren. Skema tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sumber pembiayaan jangka panjang.
Selain ekonomi, Al Yasini mengembangkan konsep eco-pesantren berbasis ekoteologi melalui pengelolaan sampah, penghematan energi, pemanfaatan tenaga surya, dan pengembangan biogas. Inisiatif itu mengantarkan pesantren diusulkan menerima penghargaan lingkungan hidup dari Dinas Lingkungan Hidup Jawa Timur.
Pengalaman Al Yasini memperlihatkan bahwa kemandirian pesantren dapat dibangun melalui keterpaduan pendidikan, usaha produktif, kepedulian sosial, dan pengelolaan lingkungan. Tantangannya adalah menjaga agar model tersebut berkelanjutan dan dapat disesuaikan dengan kapasitas pesantren lain.
