ISLAM LIVE – Kementerian Agama (Kemenag) mengingatkan setiap dai dan penceramah agar menjaga etika dalam menyampaikan materi ceramah, termasuk saat menyelipkan humor. Pengingat itu muncul di tengah polemik potongan video ceramah Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf yang memuat candaan tentang santriwati, keinginan mencari istri keempat, hingga komentar terhadap perempuan lanjut usia.
Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag Thobib Al Asyhar menegaskan, dakwah tidak hanya berfungsi menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga menghadirkan keteladanan melalui tutur kata dan perilaku. Rasulullah SAW disebut sebagai rujukan agung bagaimana dakwah Islam dijalankan.
“Dalam agama Islam itu, selain berfungsi menyampaikan pesan keagamaan, dakwah menyampaikan keteladanan lewat tutur kata dan perilaku. Rasulullah SAW adalah rujukan agung bagaimana dakwah Islam dijalankan,” ujar Thobib Al Asyhar, Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag, di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Thobib mengingatkan, kegiatan dakwah tidak seharusnya merendahkan atau melukai martabat perempuan dan kelompok lansia. “Untuk itu, setiap penceramah atau dai yang berbicara di ruang publik hendaknya senantiasa menjaga etika dalam menyampaikan materi ceramah, termasuk dalam gaya humor agar tidak merendahkan atau melukai martabat orang lain,” pungkasnya.
Polemik ini bermula dari potongan video ceramah yang viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, penceramah yang diidentifikasi sebagai Habib Alwi disebut membicarakan tarif ceramah yang diklaimnya paling rendah mencapai Rp75 juta. Materi ceramahnya memuat permintaan menghadirkan santriwati dengan alasan mencari calon istri keempat, serta komentar terhadap jemaah perempuan berusia di atas 60 tahun yang dinilai merendahkan.
“Keluarkan santri-santri perempuan. Santri laki-laki gue udah eneg. Perempuan, keluarin ane mau pilih. Mudah-mudahan ada santri perempuan yang mau saya jadiin istri keempat,” ucapnya dalam rekaman yang beredar.
“Enggak ada pahalanya ceramah depan emak-emak, ngotor-ngotorin mata. Tapi kalau perawan seger. Maaf-maaf nih, ane begini, aye tukang becanda,” katanya.
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH M Cholil Nafis turut menyerukan agar umat Islam tidak lagi mengundang maupun mengikuti majelis penceramah tersebut. Menurutnya, gelar, garis keturunan, maupun status sosial tidak otomatis menjadikan setiap ucapan layak disampaikan dari mimbar agama.
“Seperti ceramahnya asli ini. Begini ini mau apapun statusnya tak layak menjadi penceramah. Bikin rusak agama dan manusia dengan ceramah model gini. Boro-boro menyebarkan Islam, malah ini yang merusak Islam,” ujar Cholil.
Polemik ini menjadi pengingat bahwa mimbar agama bukan ruang yang kebal terhadap kritik. Humor boleh mengundang tawa, tetapi tidak otomatis menghapus dampak sebuah ucapan terhadap orang yang menjadi sasaran. Hingga informasi ini disusun, belum terdapat keterangan mengenai tanggapan langsung Habib Alwi atas kontroversi video tersebut maupun seruan Cholil Nafis.
