ISLAM LIVE – Kementerian Agama mendorong perbaikan tata kelola pesantren seiring lahirnya Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren. Pembenahan tidak hanya menyasar tata tertib santri, tetapi mencakup sistem pengelolaan lembaga dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pendidikan, termasuk memastikan perlindungan bagi santri.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, salah satu langkah yang ditempuh adalah melibatkan Majelis Masyayikh, yang terdiri atas tokoh-tokoh senior pesantren, untuk memberikan masukan dan membantu pengawasan tata kelola pesantren.
“Jangan hanya kita diantar ke pintu kemerdekaan, tapi setelah merdeka, pesantren yang berkeringat berdarah-darah ini malah justru dihilangkan,” ujar Nasaruddin Umar, Menteri Agama, di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Menurut Nasaruddin, keterlibatan para tokoh pesantren dapat memperkuat transparansi, meningkatkan kualitas pengelolaan, serta membantu mengidentifikasi persoalan yang perlu segera ditangani. Langkah itu juga penting untuk mencegah terulangnya kasus yang mencederai kepercayaan masyarakat terhadap pesantren, termasuk dugaan pelecehan dan persoalan perlindungan santri.
Ia mengakui persoalan di lingkungan pesantren tetap perlu ditangani secara terbuka. Nasaruddin juga mengingatkan pentingnya memastikan lembaga yang menggunakan nama pesantren benar-benar terdaftar dan memenuhi ketentuan yang berlaku, sehingga masyarakat memperoleh informasi jelas sebelum mempercayakan pendidikan anak-anak mereka.
“Image pondok pesantren itu hanya bisa baca kitab kuning itu sudah tidak seperti itu lagi sekarang. Bahkan, dari pondok pesantren lahir anak-anak yang ahli dalam bidang robotik dan banyak santri yang ke luar negeri dengan beasiswa,” katanya.
Nasaruddin menepis anggapan pendidikan pesantren hanya berorientasi pada penguasaan ilmu agama dan kitab kuning. Menurutnya, pesantren dan madrasah kini berkembang menjadi lembaga pendidikan yang mampu mencetak lulusan berprestasi di berbagai bidang, termasuk sains, teknologi, robotika, olahraga, dan seni.
Ia mengajak para pengasuh, pengelola pesantren, orang tua, pemerintah daerah, dan masyarakat bersama-sama menjaga kualitas pendidikan serta citra pesantren. Penguatan pengawasan dan keterbukaan, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap tradisi dan kemandirian pesantren.
Dalam momentum Hari Santri Nasional 2026, Nasaruddin juga mengimbau orang tua agar tidak ragu memilih pesantren sebagai tempat pendidikan anak, dengan tetap memperhatikan kualitas lembaga, sistem pengasuhan, dan jaminan perlindungan bagi santri. “Mari kita berbahagia dan berbangga dengan prestasi yang dicapai oleh pondok pesantren,” ujarnya.
