ISLAM LIVE – Ada kehancuran yang datang dengan suara keras. Rumah runtuh, perang meledak, pasar terbakar, sebuah kekuasaan tumbang. Tetapi ada pula kehancuran yang nyaris tak terdengar. Ia bermula dari sesuatu yang berhenti bergerak: usaha yang tak lagi menghasilkan, hubungan yang kehilangan kehidupan, cita-cita yang tak lagi dirawat. Dalam bahasa Arab, keadaan semacam itu memiliki sebuah kata yang tajam: bawar بوار.
Pada mulanya, bawar berarti kemandekan yang parah; sesuatu yang tidak laku, tidak bergerak, tidak menghasilkan. Barang dagangan menumpuk karena tak ada pembeli. Pasar menjadi sepi. Sesuatu yang seharusnya berputar justru berhenti. Dari keadaan itulah muncul makna yang lebih dalam: kerusakan, kebinasaan, bahkan kehancuran.
Orang Arab memiliki ungkapan yang kira-kira berarti: sesuatu itu terus-menerus mandek sampai akhirnya rusak. Sebab kemandekan yang terlalu lama bukan keadaan netral. Ia bisa berubah menjadi kehancuran.
Al-Qur’an menggunakan kata ini dengan cara yang menarik. Dalam Surah Fathir ayat 29, misalnya, orang-orang yang membaca Kitab Allah, mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki disebut sedang mengharapkan sebuah “perniagaan yang tidak akan merugi”:
تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
“Perniagaan yang tidak akan pernah binasa” (QS. Fathir: 29)
Ungkapan itu seperti membalik logika perdagangan. Dalam dunia manusia, tidak ada transaksi yang sepenuhnya bebas dari risiko. Barang bisa tidak laku, modal bisa habis, perusahaan bisa bangkrut. Tetapi Al-Qur’an berbicara tentang sebuah perdagangan yang tidak mengenal bawar: hubungan manusia dengan Tuhan yang tidak berakhir dalam kerugian.
Di titik ini, bawar tidak lagi sekadar istilah ekonomi. Ia menjadi gambaran tentang sesuatu yang kehilangan daya hidup.
Menariknya, Al-Qur’an juga memakai kata yang sama untuk menggambarkan nasib tipu daya manusia.
وَمَكْرُ أُولئِكَ هُوَ يَبُورُ
“Dan tipu daya mereka itu hanyalah akan binasa” (QS. Fathir: 10)
Demikian firman Allah dalam ayat di atas. Sebuah rencana mungkin tampak canggih. Sebuah kekuasaan mungkin terlihat kokoh. Sebuah konspirasi dapat bekerja secara diam-diam. Tetapi semua itu pada akhirnya bisa mengalami bawar: kehilangan daya, rusak dari dalam, lalu lenyap.
Dalam konteks yang lebih luas, gagasan ini terasa dekat dengan kehidupan modern.
Kita hidup dalam zaman yang sangat sibuk, tetapi tidak selalu hidup. Banyak hal bergerak cepat tanpa benar-benar bergerak ke mana-mana. Informasi beredar dalam hitungan detik, tetapi kebijaksanaan justru semakin sulit ditemukan. Orang bekerja semakin lama, tetapi belum tentu merasa pekerjaannya bermakna. Percakapan berlangsung tanpa henti, tetapi hubungan antarmanusia dapat semakin sepi.
Di sinilah bawar menawarkan sebuah perenungan: kehancuran tidak selalu dimulai dari sesuatu yang pecah. Kadang-kadang ia dimulai dari sesuatu yang berhenti.
Al-Qur’an bahkan menyebut suatu kaum sebagai قَوْماً بُوراً “kaum yang binasa” setelah mereka melupakan peringatan. Dalam Surah Al-Furqan ayat 18, kelupaan terhadap zikir dan peringatan bukan sekadar kehilangan ingatan. Ia menggambarkan manusia yang kehilangan orientasi, lalu perlahan kehilangan kehidupan batinnya.
Ada perbedaan antara hidup secara biologis dan hidup secara bermakna. Seseorang dapat tetap berjalan, bekerja, berbicara, tertawa, bahkan memperoleh banyak hal, tetapi sesuatu di dalam dirinya mungkin telah mengalami bawar.
Karena itu, kata ini juga berkaitan dengan sebuah doa yang pernah diriwayatkan: memohon perlindungan kepada Allah dari بَوَارِ الأَيِّم, yakni keadaan ketika perempuan yang belum menikah mengalami “kemandekan” karena tidak memperoleh pasangan. Dalam konteks masyarakat lama, istilah itu berkaitan dengan kehidupan sosial yang dianggap tertahan karena tidak adanya pernikahan. Maknanya kembali memperlihatkan akar kata bawar: sesuatu yang kehilangan perputaran dan kesempatan untuk berkembang.
Namun kata tersebut ternyata memiliki sisi lain yang tak kalah menarik. Bawar juga digunakan untuk tindakan menguji atau memeriksa sesuatu. Dalam bahasa Arab klasik, tindakan pejantan yang mencium seekor betina untuk mengetahui apakah ia siap dibuahi dapat menjadi metafora bagi proses pengujian. Dari sana lahir ungkapan برت الشيء burtu asy-syai’ aku telah menguji sesuatu.
Gagasan ini memberi lapisan baru pada kata bawar. Sebelum sesuatu dinyatakan berhasil atau gagal, ia harus diuji. Dan ujian sering kali memperlihatkan apakah sesuatu benar-benar hidup atau sekadar tampak hidup.
Barangkali manusia pun demikian.
Kita sering baru mengetahui kekuatan sebuah keyakinan ketika ia berhadapan dengan kesulitan. Kita baru mengetahui ketulusan sebuah hubungan ketika kepentingan tidak lagi menguntungkan. Kita baru mengetahui kualitas sebuah gagasan ketika ia diuji oleh kenyataan. Apa yang tampak kokoh dalam keadaan mudah bisa saja ternyata telah mengalami bawar jauh sebelum keruntuhannya terlihat.
Maka bawar bukan sekadar kata tentang kebinasaan. Ia juga semacam alarm. Ia mengingatkan bahwa sesuatu yang tidak dirawat dapat kehilangan daya hidupnya. Perniagaan bisa mandek. Kekuasaan bisa membusuk. Hubungan bisa mengering. Bahkan hati manusia bisa menjadi sunyi tanpa menyadari kapan kesunyian itu dimulai.
Karena itu, barangkali pertanyaan terpenting bukan apakah kita sedang mengalami kehancuran. Pertanyaannya lebih awal: apakah ada sesuatu dalam diri kita yang sudah lama berhenti bergerak?
Sebab kehancuran yang paling berbahaya bukan selalu yang datang tiba-tiba. Ia adalah kehancuran yang tumbuh perlahan dari kemandekan, ketika sesuatu masih tampak ada, tetapi sesungguhnya telah kehilangan kehidupan.
Al-Qur’an menyebut ada perdagangan yang “tidak akan pernah binasa”. Mungkin pesan yang tersirat di sana sederhana: jangan biarkan hidup kita hanya sibuk memperdagangkan sesuatu yang pada akhirnya bawar. Sebab tidak semua keuntungan adalah kehidupan, dan tidak semua kehilangan adalah kerugian.
Ada yang tampak berhasil, tetapi sebenarnya sedang menuju kehancuran. Ada pula yang tampak sepi dan berat, tetapi justru sedang menumbuhkan sesuatu yang kelak tidak akan binasa.
