Saat Manusia Tak Dapat Lagi Membedakan Syukur dan Kesombongan

27 views

ISLAM LIVE– Ada jenis kegembiraan yang diam-diam berbahaya. Ia tidak selalu tampak kasar. Kadang hadir dalam bentuk rasa puas, keberhasilan, atau keyakinan bahwa diri sendiri lebih layak dibanding orang lain. Namun dari situlah banyak kehancuran manusia bermula.

Al-Qur’an menyebutnya dengan satu istilah yang tajam: الأَشرُ (al-asyar). Sebuah keadaan batin ketika seseorang tenggelam dalam kesenangan diri sampai kehilangan kesadaran moral. Bukan sekadar gembira, melainkan mabuk oleh kenikmatan dan merasa dirinya paling benar.

Dalam Surah Al-Qamar, Allah mengabadikan ucapan kaum Nabi Saleh a.s yang menolak kebenaran dengan penuh kesombongan. Mereka berkata tentang Nabi Saleh a.s:

سَيَعْلَمُونَ غَدًا مَنِ الْكَذَّابُ الْأَشِرُ
Kelak mereka akan mengetahui siapa sebenarnya pendusta yang sombong dan melampaui batas” (QS. Al-Qamar: 26)

Ayat itu menarik karena menggunakan kata al-asyar, bukan sekadar بطر batr atau sombong biasa. Dalam khazanah bahasa Arab klasik, asyar adalah tingkat kesombongan yang lebih parah daripada batr. Jika batr berarti lupa diri karena nikmat, maka asyar adalah kegembiraan yang sepenuhnya dikendalikan hawa nafsu.

Di situlah persoalannya menjadi sangat modern.

Hari ini manusia hidup di zaman yang memberi ruang sangat besar bagi lahirnya asyar. Media sosial membuat orang berlomba memamerkan hidup. Kekayaan dipertontonkan seperti prestasi moral. Jabatan dianggap bukti kemuliaan pribadi. Bahkan spiritualitas pun kadang berubah menjadi panggung pencitraan.

Kita hidup dalam budaya yang memuja keberhasilan, tetapi jarang mengajarkan kerendahan hati setelah berhasil.

Padahal tidak semua kegembiraan itu buruk. Al-Qur’an sendiri pernah mengatakan:

فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا
Dengan karunia dan rahmat Allah itu, hendaklah mereka bergembira” (QS. Yunus: 58)

Artinya, ada kegembiraan yang sehat. Ada kebahagiaan yang lahir dari rasa syukur, dari keberhasilan yang tetap menyadari keterbatasan diri. Manusia boleh menikmati hidup, boleh sukses, boleh bangga terhadap kerja kerasnya. Tetapi semua itu memiliki batas tipis yang mudah berubah menjadi kesombongan.

Baca Juga:  Festival Adat Budaya Nusantara Sejalan dengan Semangat QS Al-Hujurat Ayat 13

Dalam penjelasan para ulama bahasa, فرح farah atau kegembiraan bisa saja lahir dari pertimbangan akal sehat dan rasa syukur. Sedangkan asyar hanya lahir dari dorongan ego dan hawa nafsu. Karena itu seseorang yang sedang mengalami asyar biasanya tidak lagi mampu melihat realitas secara jernih. Ia merasa paling penting. Paling benar. Paling layak dipuji.

Dan sejarah menunjukkan: keadaan semacam itu hampir selalu berakhir tragis.

Kisah Qarun adalah salah satu contoh paling terkenal. Ia bukan orang miskin yang putus asa. Ia justru sangat kaya. Tetapi kekayaannya membuatnya lupa bahwa hidup bukan sepenuhnya hasil kemampuan pribadi. Ketika dinasihati agar tidak terlalu membanggakan diri, ia menjawab bahwa semua itu diperoleh karena ilmunya sendiri.

Kalimat itu terdengar sangat modern.

Hari ini banyak orang berbicara dengan nada serupa. Mereka menganggap keberhasilan sepenuhnya hasil kerja keras pribadi, seolah hidup tidak pernah melibatkan takdir, pertolongan orang lain, kesempatan sosial, atau rahmat Tuhan. Dari situ lahirlah mentalitas arogan: memandang rendah orang gagal dan memuliakan diri sendiri secara berlebihan.

Yang menarik, asyar tidak selalu muncul pada orang kaya. Kadang ia muncul pada orang berilmu, aktivis, tokoh agama, bahkan orang yang merasa paling bermoral. Sebab inti masalahnya bukan pada apa yang dimiliki, melainkan pada bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri.

Seseorang bisa miskin tetapi penuh asyar. Ia merasa paling suci dibanding orang lain. Merasa pendapatnya paling benar. Tidak mampu menerima kritik. Mudah merendahkan orang yang berbeda pandangan. Dalam bentuk seperti inilah kesombongan modern sering bersembunyi: bukan lagi dalam mahkota kerajaan, tetapi dalam ego yang merasa paling benar.

Itulah sebabnya Al-Qur’an berkali-kali memperingatkan manusia agar berhati-hati terhadap kegembiraan yang berlebihan. Karena ada momen ketika kebahagiaan berubah menjadi racun batin. Ketika rasa syukur diam-diam berubah menjadi pemujaan terhadap diri sendiri.

Baca Juga:  Kita Hidup di Era Banyak Influencer, tetapi Sedikit Manusia yang Menenangkan Jiwa

Fenomena ini terlihat jelas dalam budaya digital hari ini. Banyak orang tidak lagi menikmati hidup untuk dirinya sendiri, melainkan untuk dipertontonkan. Liburan harus diunggah. Sedekah harus direkam. Prestasi harus diumumkan. Bahkan kesedihan pun kadang dijadikan pertunjukan.

Manusia modern perlahan kehilangan kemampuan untuk diam.

Akibatnya, identitas diri semakin bergantung pada pengakuan publik. Ketika dipuji, ia merasa besar. Ketika diabaikan, ia merasa hancur. Dan dari situlah lahir kegelisahan sosial yang aneh: semakin banyak orang terlihat bahagia, semakin banyak pula yang diam-diam merasa kosong.

Karena ternyata asyar memang tidak pernah menghasilkan ketenangan.

Ia hanya memberi sensasi kemenangan sesaat. Setelah itu manusia akan terus membutuhkan pengakuan baru untuk mempertahankan rasa penting dalam dirinya. Seperti api yang terus meminta bahan bakar.

Dalam tradisi Islam, kerendahan hati bukan berarti membenci diri sendiri. Tawaduk bukan berarti menolak keberhasilan. Yang ditolak adalah keadaan ketika manusia lupa bahwa dirinya tetap rapuh. Tetap terbatas. Tetap bisa jatuh kapan saja.

Kesadaran semacam ini penting di tengah zaman yang terlalu bising oleh pencitraan.

Mungkin itulah mengapa orang-orang bijak dahulu tampak tenang meski memiliki kekuasaan atau ilmu besar. Mereka tidak sibuk mempertontonkan diri. Mereka sadar bahwa hidup terlalu singkat untuk dijadikan panggung kesombongan.

Dan mungkin di situlah makna terdalam dari peringatan tentang al-asyar: manusia hancur bukan hanya karena penderitaan, tetapi juga karena kegembiraan yang salah arah.

Sebab tidak semua senyum berarti sehat. Tidak semua keberhasilan membuat manusia menjadi lebih manusiawi. Kadang justru pada saat merasa paling tinggi, seseorang sedang berjalan sangat dekat menuju kehancurannya sendiri.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA